Sebab Jika Aku Lemah, Maka Aku Kuat

Kita mendengar ekspresi rohani Rasul Paulus di bagian akhir dari keseluruhan perikop bacaan kedua di hari Minggu ke-15 ini. Mari kita membaca keseluruhan teksnya dan mengambil hikmat untuk keberadaan hidup kita di tengah geliat sosial saat ini. Kita sering mendengar ada ucapan, “Tuhan bukan Penyebab kelemahan, tetapi Tuhan bekerja dalam kelemahan untuk mendatangkan dan mewudkan kemuliaan-Nya.

Pengikut Kristus Hari Ini
Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai “seorang Kristen”, orang yang hidupnya tidak terlepas dari Kristus. Orang Kristen percaya bahwa martabat keberadaan kita adalah karena telah diangkat ke sorga untuk menerima pernyataan, tentang Injil Kristus dan kemuliaan yang tidak terkatakan dari sorga dan yang disediakan bagi orang percaya (ay. 2Kor 12:7). Orang Kristen diperhadapkan dengan realitas dunia dengan segala akibatnya. Pandemik global ini makin menyebar, dan seakan-akan berada di luar kemamampuan dan kontrol kita. Ada ketakutan, ada kecemasan, menghadapi orang dekat kita, atau mendengar sesama yang kita kenal telah berpulang. Dimanakah Tuhan dan kuasa-Nya? Apakah semua kerapuhan dan keterbatasan itu datang dari Tuhan? Rasul Paulus meyakinkan kita, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman
sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan dengan kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rom. 8:18)

Duri Dalam Daging
Paulus tidak membanggakan diri sebagai pengikut Kristus. melainkan mengungkapkan realitas hidup yang dihadapi. “… maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (2Kor. 12:7). Paulus menggunakan metafora duri untuk menyampaikan kenyataan hidup yang dihadapi. Kehidupan ini menimbulkan banyak kesakitan, kesukaran, penderitaan, penghinaan atau kelemahan fisik, tetapi bukanlah pencobaan untuk berdosa. Di tempat lain Paulus meyakinkan umatnya, “Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku, Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu,” (Gal. 4:13). Kita dipanggil untuk bisa membedakan manakah duri yang membelenggu hidup dengan segala kegiatannya. Keadaan duri sekaligus mengajarkan Paulus untuk lebih bergantung pada kasih karunia ilahi, keadaannya mendorong Paulus, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru” (2Kor. 12:8).

Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu
Kita percaya bahwa Kasih Karunia Tuhan tidak terhingga. “Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel. 34:6). Pastikan dalam keyakinan kita bahwa kehadiran Tuhan mengatasi setiap belenggu hidup kita, Semakin besar kelemahan dan pencobaan kita karena Kristus, maka semakin besar kasih karunia yang akan diberikan Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya. Kita percaya bahwa apa yang dikaruniakan-Nya akan selalu cukup bagi kita untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, melayani Tuhan sesuai profesi hidup kita, sambil memikul penderitaan dan “duri” di dalam daging itu (bdk. 1Kor. 10:13). Selama kita dengan dengan Kristus, kita percaya bahwa Kristus akan mengaruniakan kekuatan dan penghiburan surgawi-Nya. Maka Paulus mengakhiri suratnya (2Kor. 12:10), katanya, “Karena itu aku senang, dan rela di dalam kelemahan, di di dalam siksaan di dalam kesukaran. Seba jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). Sekali lagi Tuhan bekerja dalam setiap keadaan terbatas dan “duri” untuk menyatakan kemuliaan-Nya bagi hidup kita.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments