Santo Yusuf - Gambaran Kasih Allah yang Menjaga dan Melindungi

Kebetulan banget Kapel Politeknik Industri ATMI Cikarang diberi nama Santo Yusuf Pekerja. Saya sendiri tidak tahu maksud dan tujuan nama itu diambil. Saya mencoba menerka-nerka saja.

Bila dilihat dari bangunan tidak tampak Kapel. Karena tidak ada tanda salib atau tanda-tanda lain untuk menyatakan bahwa, ini adalah kapel. Dari luar tampak seperti salah satu ruang kantor; bagian dari pendidikan (produksi). Ditambah, hampir separuh bangunan itu ditutupi oleh tanaman pucuk merah (sebagai pagar) semakin tidak tampak bahwa itu kapel. Yang tampak hanya dua daun pintu besar dengan handle pintu yang tidak umum; tinggi dan bulat.

Bila pintu depan dibuka baru ngeh, tampak bahwa ini adalah kapel. Tampak altar tinggi yang terbuat dari metal. Background altar terpampang almunium dengan tulisan Pater Noster melingkar. Keren dech. Dibalik tulisan Pater Noster itu ternyata pintu – bila dibuka – tampak tabernakel; tabernakel seakan berada dalam senthong  (ruang tersembunyi) menurut orang jawa. Tubuh Kristus bersemayam di tempat yang tersembunyi. Bisa dikatakan kapel itu sederhana dan tidak neko-neko tidak banyak artifisialnya, cenderung fungsional. Mungkin kapel di ATMI ingin menggambarkan juga “wajah” Santo Yusuf; orang yang sederhana, tidak menonjolkan diri, pekerja keras dan taat pada Allah.

Adalah Komang seorang muslim yang taat. Setiap hari membersihkan Kapel Santo Yusuf Pekerja ATMI Cikarang. Komang seorang yang sangat sederhana dan pekerja keras. “kalo bersih maka orang yang pakai kapel jadi bisa berdoa”, katanya sambil terus membersihkan lantai kapel. “Tempat ibadat mesti bersih seperti juga Mesjid dan lainnya”, lanjutnya. Dia tidak berpikir tempat ibadat siapa? Yang penting tempat ibadat mesti bersih dan terawat. Komang memang punya pemikiran sederhana. Pemikirannya tidak dibuat rumit oleh narasi tajam tentang keberagaman yang sering kali viral di Medsos. Semua tempat ibadat mesti bersih, itulah yang ia pikirkan. Sederhana dan tidak neko-neko. Saya belajar dari Komang, orang yang setia, merawat, melindungi, dan juga memperbaiki bila ada yang rusak dalam kapel itu.

Kecuali sikap Santo Yusuf yang sederhana, tidak mau menonjolkan diri, pekerja keras, dan taat pada Allah, juga sikap merawat (menjaga) dan melindungi tampak dalam diri Santo Yusuf.

Paus Fransiskus membuat Surat Apostolik, mengajak kita memahami Santo Yusuf dan meneladannya. Dalam Patris Corde; Surat Apostolik Paus Fransikus pada peringatan 150 pemakluman Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta dinyatakan setidaknya ada 7 keutamaan Santo Yosef, adalah :
(1)Seorang bapak yang dikasihi,
(2)Seorang bapak yang lembut dan penuh kasih
(3)Seorang bapak yang taat
(4)Seorang bapak yang menerima
(5)Seorang bapak yang berani secara kreatif
(6)Seorang bapak yang bekerja
(7)Seorang bapak dalam bayang-bayang.

Julukan lain untuk Santo Yusuf yang diberikan oleh Beato Pius IX: Santo Yusuf sebagai “Pelindung Gereja Katolik”, Venerabilis Pius XII mengajukannya sebagai “Pelindung Para Pekerja” dan Santo Yohanes Paulus II sebagai “Penjaga Sang Penebus”, juga tidak jarang orang memohonnya sebagai “Pelindung Kematian Yang Bahagia”.

Peran Santo Yusuf sangat penting bagi Gereja; Santo Paulus VI melihat bahwa peran kebapaannya diungkapkan secara nyata “dengan menjadikan hidupnya sebagai suatu pelayanan, sebuah pengorbanan kepada misteri inkarnasi dan misi penebusan yang disatukan didalamnya; dengan menggunakan kuasa hukum yang dimilikinya atas Keluarga Kudus untuk menjadikan hal itu sebagai persembahan total dirinya, hidupnya dan pekerjaannya; dengan mengubah panggilan manusiawinya untuk kasih rumah tangga menjadi persembahan istimewa dari dirinya, hatinya dan semua kemampuannya, suatu kasih yang ditempatkan pada pelayanan bagi Mesias yang bertumbuh kembang di rumahnya”.

Patris Corde (PC. Hlm 8). Ia menempatkan dirinya untuk melayani seluruh rencana keselamatan Allah. Peran lain yang menjadi ciri khas Santo Yusuf dan yang telah disoroti sejak zaman ensiklik sosial pertama dari Paus Leo XIII Rerum Novarum, adalah kaitannya dengan pekerjaannya. Santo Yusuf adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan jujur untuk menghidupi keluarganya. Dari dia, Yesus belajar tentang nilai, martabat dan kegembiraan apa artinya makan roti yang merupakan hasil usahanya sendiri. Santo Yusuf menjadi pelindung pekerja yang patut diteladani. (PC hlm. 21)

Yang terakhir, Santo Yusuf: “Seorang Bapak Dalam Bayang-bayang”. Sosok Santo Yusuf yang hadir dalam hidup Yesus bisa dikatakan adalah “bayang-bayang Allah Bapa di dunia ini”. Seorang penulis Polandia menulis Novel “The Shadow of The Father” menggambarkan bahwa Santo Yusuf merupakan representasi Allah yang hidup. Sifat Allah yang menjaga dan melindungi Yesus, ditemukan pada diri Santo Yusuf. Kita perlu meneladan Santo Yusuf; untuk selalu menjaga dan melindungi kehidupan ini.

“Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya” (Mat. 2:13), perintah Allah kepada Santo Yusuf. Ketaatan ada Bapa merupakan jalan keselamatan; untuk mempunyai jiwa menjaga dan melindungi kehidupan ini.

Penulis : Rm Ch. Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments