Yang dimaksud di sini adalah St. Fransiskus dari Asisi, bukan St. Fransiskus Xaverius atau pun St. Fransiskus dari Sales. Beliau adalah pendiri ordo OFM. Bagaimana St. Fransiskus dapat berkomunikasi dengan binatang? Ini adalah salah satu pertanyaan yang terlontar oleh salah satu prodiakon. Sederet kisah keteladanannya adalah kerendahan hati, iman yang sungguh mendalam kepada kemurahan Tuhan dengan hidup tanpa milik, suatu kesederhanaan yang suci, ketaatan yang utuh, perhatiannya kepada orang miskin dan orang sakit yang membuat St. Fransiskus mendapatkan “pengesahan” dari Tuhan berupa stigmata yang diterimanya 2 tahun menjelang wafatnya. Artinya jalan yang ditempuhnya adalah benar. Salah satu Sabda Tuhan yang menjadi referensi St. Fransiskus adalah Lukas 9:23 : Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus MENYANGKAL dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Dilahirkan dari keluarga berada, bapaknya seorang pedagang kain: Pietro Bernardone dan ibunya, Pica. Pada saat Fransiskus lahir bapaknya sedang berdagang di luar kota. Sekembalinya Pietro Bernardone, dia ingin nama bayi yang semula Yohanes diganti menjadi Fransesco. Fransiskus muda hidup berfoya-foya, kemudian dia memilih menjadi ksatria. Pada pertempuran pertama, pasukannya kalah dan dia pun dipenjarakan selama hampir 1 tahun di Perugia. Beruntung sang bapak bisa membayar tebusan sehingga Fransiskus bisa bebas. Pada saat Fransiskus akan ikut pertempuran berikutnya, Fransiskus melalui malam yang membuatnya "terjaga" di Spoleto dan Fransiskus memilih pulang (yang sudah pasti menanggung malu), ia menanggalkan keinginannya untuk menjadi seorang kesatria. Hari-hari berikutnya Fransiskus banyak menghabiskan waktu untuk refleksi dan pergi sendirian ke gua-gua dan bertemu dengan orang yang sakit kusta. Inilah periode pertobatan Fransiskus.
Cerita ini disampaikan oleh Rm. Fransiskus Asisi Oki Dwihatmanto, OFM dengan gaya yang ringan diselingi candaan pada perhelatan Perte muan Besar Paguyuban Prodiakon/PBPP pada tanggal 21 Januari 2024 di SMA Pangudi Luhur. Menyangkal diri seperti yang dipesankan oleh Yesus berarti melawan rasa aman, kepastian, kenyamanan dan masa depan. Inilah “ketidaknormalan” yang juga dihidupi oleh para rahib/Romo OFM.
Bagaimana implementasinya untuk para prodiakon yang sudah berkeluarga dan dengan sederetan kesibukan untuk menghidupi keluarga ? “Menjadi tidak mudah” demikian statement dari Romo Oki. Untuk itu dapat dibumikan definisi me- nyangkal diri versi prodiakon yaitu sikap rendah hati dan sikap senang untuk melayani. Lalu apakah warisan yang sudah diberikan oleh St. Fransiskus? Bisa disebutkan diantaranya bunyi lonceng saat doa Malaikat Tuhan dan ibadat pemberkatan binatang tiap 4 Oktober. Bapa Paus mengambil nama kepausan Fransiskus (Asisi) padahal beliau seorang Yesuit, tidak meng- ambil nama St. Fransiskus Xaverius misalnya.
Tahukah alasannya? Karena pada saat konklaf sedang berlangsung, ada rekan Kardinal Jorge Mario Bergoglio (nama sebelum menjadi Paus) yang mengatakan “jangan lupa kepada orang miskin“. Romo Oki menyampaikan beberapa persamaan antara St. Fransiskus Asisi dan Paus Fransiskus :1. Berganti nama2. Menderita sakit berat3. Pengalaman ilahi yang mengubah4. Devosi kuat pada Bunda Maria5. Say no to corruption6. Pembawa dialog dan perdamaian7. Perhatian kepada yang tersingkirkan 8. Perhatian kepada lingkungan hidup
Inspirasi St. Fransiskus adalah sikap rendah hati dan sikap senang untuk melayani menjadi modal pada saat prodiakon membawakan homili di dalam pertemuan lingkungan. Bapak Agustinus Edi Supriyantono yang membawakan sesi “Tips dan Trik Homili Lancar“ mengingatkan supaya para prodiakon tidak perlu takut salah, takut karena ada yang lebih senior dan merasa belum pantas pada saat memberi homili. Beberapa kiatnya adalah terus berlatih di depan cermin, membaca/ mendengarkan, memohon penyertaan Tuhan (kita hanyalah alat-Nya) dan minta umpan balik dari anggota keluarga yang hadir. Dengan kita memberanikan membawakan homili maka jam terbang pun akan bertambah.
Bruder Markus Sujarwo, FIC di dalam renungan Natalnya menyampaikan bahwa hidup kita adalah rangkaian tawaran. Apakah kita mau berbuat baik atau sebaliknya. Dan jangan merasa rugi kalau setelah berbuat baik ternyata kita “dikelabui” oleh si jahat.
Bruder membacakan Injil yang biasa dibacakan pada Misa Fajar 25 Desember, petikan Injil Yoh 1: 1-18 : Yesus adalah terang manusia. Ia datang pada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Yesus Sang Terang dan Sabda. Tugas kita adalah memadankan diri dengan Sang Sabda.
Ketidakseimbangan antara demand dan supply prodiakon di Paroki Cikarang tergambar pada paparan Pak Apriyanto, di mana ada prodiakon yang masih melayani pengantaran SMK/Sakramen Maha Kudus lebih dari 2 orang. Medan pelayanan prodiakon saat ini memang tidak seberat para senior kami seperti yang diceritakan Pak Robert. Tentunya pengurus berharap lebih banyak terpanggil walau pun untuk sampai menjadi anggota prodiakon akan ada seleksi oleh Romo Paroki terlebih dahulu.
Perhelatan kali ini dipanitiai oleh tim Sektor Taman Sentosa dan Sektor Cibarusah 1. Pak Hardjono didapuk sebagai ketua panitia. Acara berlangsung meriah, 91 prodiakon hadir dari total 118 orang (belum termasuk Suster dan Bruder) atau secara statistik menyentuh angka 77%. PBPP berisikan acara yang sifatnya learning, ada acara-acara sifatnya fun seperti perayaan ulang tahun bersama, tukar kado, games dan makan bersama. Semuanya untuk membangun chemistry. Acara berjalan lancar. Semoga para prodiakon semakin bersemangat dan bergembira di dalam pelayanan. Sampai berjumpa lagi dalam acara PBPP berikutnya.
Liputan dan Foto : Robertus C Lie