Hari baru mulai menampakkan terangnya ketika Tere melihat ada pesan WhatsApp dari seorang teman baiknya, Lucy, yang sedang kuliah di Negeri Paman Sam, “Hai, apa khabar Ter?”. Tanpa pikir panjang, Tere cepat memberi respons dengan memainkan jarinya, “Tentu kabar baik, Luc. Kamu di sana lagi ngapain?”.
Setelah jawaban singkat itu, Tere kemudian kembali ke kegiatan rutinnya : membersihkan kamarnya dan menyiram tanaman di depan rumah. Beberapa menit kemudian, ia mendengar handphonenya berdering. Ketika didekatinya, dilihatnya di sana ada missed call dan whatsapp lanjutan dari Lucy, “Tere baru bangun ya. Makanya jangan tidur terlalu malam hehehhe. Ter, tadi beberapa teman di sini ngomongin tentang farmer’s day. Menarik juga. Katanya kesempatan istimewa untuk saling mengajak sesama warga lainnya untuk memberi perhatian kepada para petani”. Lucy setuju dengan hasil dikusi mereka bahwa walaupun para petani ini telah banyak berjasa memberi makan kepada seluruh penduduk yang lain, mereka sering tertinggal dalam menikmati kue ekonomi.
Di Amerika sendiri, diperkirakan keuntungan para petani dari hasil penjualan mereka hanya sekitar 8 persen dari setiap dolar penjulan mereka. Indonesia, tanah tumpah darah kita gimana ya? Ada nggak sih tanggal khusus untuk memberi penghargaan kepada petani Indonesia? Di sini, Farmer’s Day jatuh setiap tanggal 12 Oktober, tetapi perayaannya kadang berlangsung dari Agustus sampai dengan Oktober. Ada banyak festival, yang diisi dengan berbagai atraksi seperti parade busana tradisional. Sasarannya antara lain mempromosikan supaya masyarakat membeli buah, sayuran, dan berbagai produk lainnya langsung dari pasar petani”.
“Tumben nanya gituan Luc? Sedang apa rupanya di sana? Soal Indo, sebetulnya kita juga punya tanggal 24 September. Tanggal itu, sejak tahun 1963 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Sepertinya jarang masyarakat yang tahu ya? Penetapannya diteken Presiden Soekarno lewat keputusan Presiden No 169 tahun 1963, bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA1960). Harap dengan demikian temanku tahu bahwa niat sudah lama ada untuk memberi perhatian kepada para petani” ketik Tere membalas pertanyaan sahabatnya”.
“Mantap kalau gitu, Ter. Minggu lalu, di sini saat diskusi kitab Suci, pembicaraan banyak fokus pada peran orang muda dalam tanggung jawab sosial. Tere pasti ingat tentang perempuan Samaria yang minta minum pada Yesus. Dari situ ada seorang teman sampai ke permenungan bahwa Tuhan Yesus ingin melibatkan kita dalam karya keselamatan-Nya. Membawa kabar gembira kepada sesama sekota-sekampung, seprofesi dan lain-lain. Kata dia, sejak penciptaan, Allah ingin melibatkan manusia dalam memelihara dunia dan semua isinya. Ciptaan Tuhan memang baik adanya, tetapi kepada manusia diberi kuasa untuk memelihara dan melestarikannya, bukan merusaknya. Petani adalah gambaran manusia yang memelihara alam ciptaan Tuhan. Ini hasil sharing teman. Terima kasih sudah membalas chat saya di pagi waktu Indo”.
Membaca untaian kalimat dari sahabatnya, Tere lari ke kamar, sejenak membuka Alkitab, lalu berkata dalam benaknya, “Betul, Yesus bertanya kepada perempuan Samaria, tampaknya untuk meneguhkan dan melibatkan dia menyampaikan karya keselamatan kepada orang Samaria yang lain”. Dari Kitab Kejadian yang dibacanya, Tere mengambil kesimpulan bahwa adalah suatu penghinaan bagi Tuhan bila ciptaan-Nya dibuat tidak terurus, “Tuan rumah mana yang tidak akan marah apabila orang meminjam rumahnya lalu penuh dengan sampah dan bau busuk” begitu muncul dalam benaknya. “Jadi apa yang bisa saya buat ya Tuhan untuk membuat ciptaan-Mu ini tetap indah di mata-Mu? Apa yang harus kami buat untuk para petani?” Sejumlah pertanyaan memenuhi pikirannya, ketika suara kakaknya Santo terdengar jelas “Ayo, buruan, kita nanti terlambat sampai Jakarta”.
Buru-buru ia mengambil hp dari meja ruang tamu, dan mengetik, “Luc. Keep in contact ya. Banyak hal yang ingin Tere tanyakan juga. Bagaimana minat orang muda terhadap pertanian di sana. Berapa persen wanita, dan tentu sharing pandangan kamu tentang kondisi alam Indonesia, yang banyak orang bilang ibarat bidadari yang cantik tetapi kurang terurus”.
Tere melangkahkan kaki keluar rumah, tak lupa ia pamit kepada kedua orang tuanya lalu berjalan bersama kakaknya, Santo.
Penulis : Salvinus Mellese - Tim Kontributor Kolom Katakese
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa