Akhir-akhir ini semakin sering kita menyaksikan berbagai bentuk dekorasi Natal yang ingin menampilkan rasa kepedulian terhadap lingkungan hidup (ekologi), seperti aneka dekorasi pohon Natal dari limbah kayu dan potongan bambu atau dari botol-botol bekas, kain tua, kertas bekas atau kardus, dsb. Ini sangat menarik dan membanggakan. Pertanyaannya adalah adakah dampak ekologis dari peristiwa Natal? Di sisi lain, kita juga mendengar berita yang tak habis-habisnya mengenai perang Rusia vs Ukrania dan perang Hamas Vs Israel.
Adakah relevansi Natal terhadap isu perang ini?Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK), kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia mempunyai relevansi yang signifikan dengan isu ekologi dan perang. Mari kita jelajahi setiap aspek secara mendetail:
1. Relevansi Natal dengan isu ekologi:Kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia mempunyai relevansi dengan isu ekologi. Menyoroti ajaran Gereja tentang kepedulian terhadap ciptaan, Katekismus mengajarkan bahwa manusia dipanggil untuk menjadi pengelola ciptaan Allah dan menghormati keutuhan alam. Dinyatakan, “Kekuasaan manusia atas benda mati dan makhluk hidup lainnya yang diberikan oleh Sang Pencipta tidak bersifat mutlak; ia dibatasi oleh kepedulian terhadap kualitas hidup sesamanya, termasuk generasi yang akan datang” (KGK 2415).
Kelahiran Kristus memiliki arti yang sangat penting tidak hanya untuk urusan iman tetapi juga dalam mengatasi permasalahan ekologis mendesak yang dihadapi dunia kita saat ini. Sebagai Terang Dunia, ajaran dan teladan Kristus menjelaskan pentingnya merawat dan melestarikan lingkungan kita.
Satu pelajaran penting yang dapat kita petik dari kelahiran Kristus adalah nilai kerendahan hati dan kesederhanaan. Kristus dilahirkan di palungan sederhana, dikelilingi oleh binatang dan alam. Awal yang sederhana ini mengingatkan kita akan perlunya menghargai dan menghormati alam di sekitar kita. Hal ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan dan kepuasan sejati dapat ditemukan dalam kesederhanaan, bukan dalam mengejar harta benda yang mewah yang justru sering berkontribusi terhadap degradasi lingkungan.
Lebih jauh, ajaran Kristus menekankan keterhubungan semua makhluk hidup. Dia mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, dan hal ini juga berlaku pada seluruh ciptaan Tuhan. Ini termasuk tumbuhan, hewan, dan ekosistem yang membentuk planet kita. Dengan menyadari nilai-nilai yang melekat pada setiap makhluk hidup, kita terdorong untuk mengambil tanggung jawab terhadap kesejahteraan lingkungan kita.
Kelahiran Kristus juga menyoroti pentingnya penatalayanan. Sebagai Terang Dunia, Kristus datang untuk membimbing dan memimpin kita menuju masa depan yang lebih baik. Hal ini termasuk menjaga bumi dan bertanggung jawab mengelola sumber dayanya. Ajaran Kristus mendorong kita untuk menggunakan bakat dan kemampuan kita untuk memberikan dampak positif bagi dunia, termasuk mengatasi masalah ekologi seperti penggundulan hutan, polusi, dan perubahan iklim.
Di dunia saat ini, dimana degradasi lingkungan dan perubahan iklim men imbulkan ancaman signifikan terhadap planet kita, kelahiran Kristus berfungsi sebagai pengingat akan tugas kita untuk melindungi dan melestarikan Bumi. Hal ini mengajak kita untuk bertindak, menginspirasi kita untuk membuat pilihan yang berkelanjutan dalam kehidupan kita sehari-hari dan mengadvokasi kebijakan yang mendorong pelestarian lingkungan.
2. Relevansi Natal dengan isu perang:Kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia juga menyoroti ajaran Gereja tentang perdamaian, keadilan, dan martabat setiap pribadi manusia. Katekismus menekankan komitmen Gereja untuk memajukan perdamaian dan menyelesaikan konflik melalui cara-cara non-kekerasan. Dinyatakan bahwa "Gereja telah menolak teori 'perang yang adil' yang mengizinkan penggunaan senjata dalam keadaan tertentu dan terbatas" (KGK 2308).
Gereja Katolik mendorong upaya perdamaian melalui dialog, negosiasi, dan pembentukan struktur sosial yang adil dan merata. Hal ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan sekedar tidak adanya perang melainkan hasil dari keadilan dan cinta. Kelahiran Kristus mengingatkan kita akan pentingnya mengupayakan rekonsiliasi, pengampunan, dan pengertian dalam menyelesaikan konflik, dibandingkan menggunakan kekerasan.
Ringkasnya, kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia relevan dengan isu perang dan ekologi. Hal ini mengingatkan kita akan komitmen Gereja untuk memajukan perdamaian, keadilan, dan martabat setiap pribadi manusia, serta ajaran Gereja tentang pengelolaan ciptaan yang bertanggung jawab. Dengan mengikuti teladan Kristus, Gereja berupaya memupuk perdamaian dan keharmonisan di antara individu dan bangsa, sekaligus merawat dan melestarikan alam. Sejalan dengan tema ARDAS KAJ 2023, Natal tahun 2023 ini mengajak kita masing-masing untuk mengusahakan “Kesejahteraan Bersama.” "Karena itu, berdirilah teguh, janganlah goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan" (1 Kor 15:58).
Selamat merayakan Natal, selamat mengerjakan pekerjaan Tuhan, Kristus Terang Dunia yang hadir beserta kita. Amin.
Penulis :Beslon Pandiangan - Tim Kontributor Kolom Katakese Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa