“Guru merupakan insan pendidikan yang mendidik secara holistik, menuntun dan mengembangkan sikap budi pekerti"
Rekoleksi dan Misa Insan Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta, dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 September 2023, bertempat Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Unika Atmajaya Jakarta dengan tema “Partisipasi Insan Pendidikan Katolik dalam Mewujudkan Kesejahteraan Bersama”. Kegiatan Rekoleksi dan Misa ini diikuti 10 Seksi Pendidikan se-Dekenat KAJ, dengan jumlah peserta sesuai target yaitu 600 peserta dari guru, dosen, suster, romo, bruder, MPK KAJ, rektorat Atmajaya dan utusan insan pendidikan dari berbagai kalangan.
Insan Pendidikan Katolik adalah pribadi-pribadi yang hidup berkembang dalam berbagai bentuk kehidupan sosial, dan secara sadar berkewajiban mendampingi generasi penerus bangsa maka tak bisa terelakkan terjun dalam persoalan yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial. Dalam sambutannya Pastor Charles Agustino Conrad Javiean, Pr. sebagai Ketua Komisi Pendidikan KAJ dan Bapak Bonaventura Subagyo sebagai Ketua Seksi Pendidikan Dekenat Bekasi sepaham jika Insan Pendidikan Katolik harus tergerak, bergerak dan menggerakkan berpartisipasi aktif mewujudkan kesejahteraan sosial dalam bermasyarakat baik kelompok mapun perseorangan, dan berupaya membantu generasi penerus bangsa yaitu pelajar (murid) serta sesama yang terkadang terpinggirkan dan terabaikan.
Relevan dengan Arah Dasar KAJ untuk mengasihi, peduli, bersaksi dan mencapai kesejahteraaan bersama, Bapak Ignatius Kardinal Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta, pada awal rekoleksi memunculkan pertanyaan pemantik kepada peserta tentang,” Apakah pribadi yang perlu dibangun sesuai cita-cita pendidikan Indonesia?.
Berkaitan masih adanya budaya di masyarakat seperti sifat enggan bertanggung jawab, feodal dan berwatak lemah. Pembelajar sesuai cita cita Pendidikan bisa mengembangkan seluruh potensi siswa secara harmonis, meliputi potensi intelektual, emosional, fiisik, sosial, estetika, dan spiritual, melalui pendidikan holistik.
Bapak Kardinal juga mengajak peserta untuk menelaah kembali arti 100% Katolik 100% Indonesia. Bahwa semua orang Kristiani bagaimanapun status atau corak hidup mereka dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih. Semua orang beriman dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yaitu kepenuhan hidup Kristiani, kepenuhan kesucian dan kepenuhan kasih. Disampaikan pula, refleksi kata-kata hebat “panggilan”, dan kudus. Tidaklah perlu seseorang harus menjadi seorang uskup, imam ataupun religius. Kita sering tergoda untuk memikirkan bahwa kekudusan hanya diperuntukkan bagi mereka yang dapat menjaga jarak dari pekerjaan biasa sehari-hari dan mencurahkan waktu lebih banyak untuk doa. Jadi suci itu tidak berarti ekstrem berdoa Rosario 25 kali sehari tapi kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih dan masing-masing memberikan kesaksiannya sendiri dalam kegiatan setiap hari dimanapun kita berada. Semboyan 100% Katolik, semakin Katolik semakin Kristiani semakin sempurna kala melakukan ajaran gereja dengan cara sederhana menjalankan tugas dengan penuh kasih serta kodratnya yang berbeda-beda setiap orang.
Konsep jalan pendidikan kesucian yaitu dengan menjalankan pelayanan pendidikan hidup bakti. Hidup bakti mengantarkan jadi kudus dengan menghayati persembahan diri penuh sukacita. Sebagaimana Kristus lakukan kepada gerejanya, seorang pekerja jadilah kudus dengan melakukan pekerjaan secara jujur dan kemampuan untuk melayani sesama. Dalam refleksinya Ignasius Kardinal Suharyo berharap jika saat ini sedang memiliki kekuasaan jadilah kudus dengan berjuang demi kesejahteraan bersama dan melepaskan kepentingan sendiri. Pertanyaan pematik berikutnya yaitu bagaimana profil wawasan kebangsaan insan pendidikan? Bapak Kardinal menyatakan sebagai pendidik harus mempunyai tekad kuat untuk memiliki rasa cinta tanah air Indonesia dan menjadi teladan bagi muridnya, mempunyai watak peduli dan penuh rasa sosial bagi sesama.
Ajakan seluruh umat untuk mendalami ajaran sosial sesuai Ardas KAJ Kesejahteraan Bersama. Ajaran sosial gereja yang sulit tetapi pada hakikatnya sangat istimewa, karena itulah wujud dari keprihatinan gereja terhadap dunia sejak ajaran sosial gereja terbit 1891 sampai industrialisasi mulai berkembang. Munculnya masalah-masalah sosial, masalah pekerjaan atau gaji yang belum tercukupi. Realitas tentang pendidikan dan kesenjangan pendidikan di masyarakat.
Ajaran sosial gereja yang paling dasar adalah hormat terhadap martabat manusia. Keterlibatan kita untuk berperan mengusahakan kesejahteraan bersama dengan solidaritas, karena tanpa solidaritas tidak mungkin kesejahteraan itu diwujudkan. Mewujudkan kesejahteraan bersama merupakan tanggung jawab pemerintah, peran insan pendidikan terlibat memberikan pendidikan yang baik, mendidik secara holistik, menuntun dan mengembangkan sikap budi pekerti luhur siswanya.
Di akhir acara adalah pemantapan rekoleksi mengenai Inspirasi iman sebagai insan pendidikan Katolik, yaitu diutus untuk mewartakan kerajaan Allah yang nyata, ketika kita menyadari tugas perutusan kita untuk terlibat di dalam mengusahakan kesejahteraan bersama lewat nilai dan peran pendidik dengan memberikan pendidikan baik yang berpusat pada murid, menuntun pencapaian pembelajaran dengan mengembangkan budi pekerti, potensi, cipta, karsa, dan karya sesuai kodratnya seorang murid.
Suasana ruangan yang luas dan megah membersamai tanya jawab santai namun serius bersama Uskup KAJ yang dipandu oleh Alexander Aur, S.S., M.Hum membahas dinamika insan Pendidikan se-KAJ. Dilanjutkan Misa yang dipimpin oleh Ignatius Kardinal Suharyo dan diakhiri berkat meriah, foto bersama dan doorprize.
Liputan dan Foto : Dianawati - Sub Seksi Pendidikan PCGIT