Rapat Karya Lingkungan St. Laurentius

Rapat Karya (Raka) Lingkungan Laurentius dilaksanakan Minggu, 20 Oktober 2019, di aula Sekolah Santo Leo. Kegiatan Raka dimulai dari pukul 10.30 sampai 14.00.  Sebelum membuka acara, Bapak Deddyanto Kala Lembang Gonzales (Ketua Lingkungan Laurentius)  menjelaskan Rapat Karya diadakan setiap tahun untuk mempersiapkan kegiatan tahun berikutnya.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dipimpin Bapak Willibrodus Yubilate Stember (Pelatih Koor Lingkungan).  Selanjutnya doa pembukaan dipimpin Bapak Filipus Moris Parningotan Hutauruk (Prodiakon Lingkungan Laurentius),   dilanjutkan penjelasan Spiritualitas Ibu Teresa, Spiritualitas Tahun Keadilan Sosial, sharing Raka 2018, penjelasan metode Raka, Bacaan Kitab Suci, rapat kerja, doa penutup dan foto bersama.

Sebagai panduan Raka, umat Laurentius diberi penjelasan mengenai Spiritualitas Ibu Teresa oleh Bapak Deddy. Spiritualitas merupakan peristiwa perjumpaan kita dengan Allah melalui firman-Nya, dimana firman-Nya itu menyentuh kita secara pribadi, sehingga mampu mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Ibu Teresa berjumpa dengan Tuhan secara mistik melalui firman Allah yang menyentuhnya pada 10 September 1946, dalam perjalanan ke Darjelling untuk menjalani retret tahunan.  Sejak itu Ibu Teresa terpanggil untuk menjadi cahaya bagi Allah.

Pelayanan Ibu Teresa berdasarkan beberapa spiritualitas, antara lain  “ Berkarya demi keselamatan  dan kekudusan orang-orang termiskin dari yang miskin,”  “Berikanlah yang terbaik dari apa yang engkau miliki kepada sesama,”  “Keajaiban terjadi karena kamu rela dan senang melakukan perbuatan perbuatan baik,”  “Bagikan cinta dimanapun kamu berada. Jangan biarkan seseorang yang datang padamu pergi tanpa merasa bahagia,”  “Jika kamu menghakimi sesorang, kamu tidak punya waktu untuk mengasihi mereka,”  “Tuhan tidak menuntut kita agar sukses, Ia hanya meminta kita untuk mencoba.” “Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar.  Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.”

Dalam pelayanannya, Ibu Teresa pernah mengalami keraguan, kesepian, kelelahan dan godaan untuk kembali dalam kenyamanan kehidupan biara. Namun cinta akan Yesus lah yang memampukan Ibu Teresa untuk tetap berkarya bagi orang kecil, lemah dan yang mengalami kekeringan rohani.

Spiritualitas Tahun Keadilan Sosial disampaikan oleh Bapak Moris (Ketua Sterring Committe 2019).  Tema yang diangkat adalah “Mengamalkan Pancasila, Kita Adil, Bangsa Sejahtera.” Untuk melaksanakan program ini, kita perlu memperhatikan inspirasi, mediasi  dan transformasi. Inspirasi, tidak cukup hanya diungkapkan tetapi harus diwujudkan. Sedangkan mediasi, perlu dicari mediasi kreatif yang sesuai dengan tantangan jaman.   Iman yang kita wujudkan dengan mediasi yang konsisten diharapkan mewujudkan perubahan sosial (transformasi), dimana kerajaan Allah nampak dan semakin nyata.

Gereja merupakan karya Allah yang sering tidak terduga. Contohnya, Yesus  wafat di salib. Kematian disalib merupakan kutukan, tetapi berkat karya Allah menjadi sumber keselamatan bagi dunia.  Dalam sejarah Gereja, eksodus mempunyai beberapa makna. Eksodus dalam Perjanjian Lama, merupakan pembebasan dari perbudakan Mesir dan kembalinya Bangsa Israel ke tanah terjanji.  Di Gunung Sinai, mereka menerima sepuluh perintah Allah sebagai tata kehidupan   baru, yang bermoral dan bermartabat.  Sedangkan eksodus dalam Perjanjian Baru, merupakan pembebasan perbudakan dosa menuju kemerdekaan anak-anak Allah.  Kelahiran umat baru  dengan hukum  baru, yakni hukum cinta kasih.  Dari semua itu, wajah yang ingin diwujudkan adalah Gereja sebagai persekutuan Gerejani, yang dijiwai oleh kasih. 

Inti dari spiritualitas inkarnasi adalah keterlibatan.  Allah terlibat dalam sejarah manusia, yang diwujudkan secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Yesus, saat  melihat hal-hal yang tidak manusiawi, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, lalu melakukan menyembuhkan, mengusir roh jahat, dll.  Kata bergerak, dirumuskan  ‘Gereja sebagai gerakan.”  Harapannya Gereja mau bergerak  ketika melihat hal-hal yang tidak manusiawi, dimana gerakan itu berdasarkan bela rasa dan kerjasama. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, Gereja harus terbuka bagi siapapun, seperti rumah sakit di medan perang.

 Bapak Willi sharing pengalamannya sebagai Ketua Sterring Committe Raka 2018. Saat itu ada tiga program yang dihasilkan oleh Raka 2018.  Namun demikian dari ketiga program itu, yang terlaksana tahun ini hanya satu program.  Hal ini disebabkan banyaknya kegiatan lingkungan di tahun ini.

Selanjutnya Bapak Deddy menjelaskan metode kerja Raka. Metode yang disarankan adalah SOAR.   SOAR merupakan singkatan Strength - kekuatan, Opportunity – peluang, Aspiration – harapan dan Resut – hasil.  Untuk merumuskan program kerja, terlebih dulu kita perlu mengetahui kekuatan Lingkungan, peluang dan harapannya.

Panduan terakhir berupa pembacaan Kitab Suci Gal 5; 2 – 22 oleh Ibu Yohana Imah Mukanasari (Prodiakon dan Guru Agama Lingkungan). Dilanjutkan dengan rapat karya.  Umat yang hadir dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan program kerja tahun depan. Setelah makan siang bersama, hasil diskusi dari setiap kelompok disampaikan kepada seluruh umat.  Pada kesempatan ini, Bapak Andri Kristianto (Dewan Paroki Sektor Cikarang Kota 2 ) menyempatkan diri untuk datang sebentar ke Santo Leo untuk memberi support dan menyampaikan kata sambutan.

Akhirnya Raka Lingkungan Laurentius ditutup dengan doa penutup, foto bersama dan pembagian door prize.  Berhubung hadiah yang tersedia banyak, maka semua keluarga yang hadir mendapat door prize.  Selamat berkarya Lingkungan Laurentius.

Liputan : Lingkungan St. Laurentius

Foto : Lingkungan St. Laurentius


Post Terkait

Comments