Rabu Abu

Rabu Abu merupakan hari pertama bagi umat Gereja Katolik menjalankan Pantang dan Puasa. Rabu Abu menjadi pintu masuk menuju masa Pra-Paskah di mana Gereja me- nyebutnya sebagai “Retret Agung”, karena selama 40 hari kita diajak untuk semakin mengenal Yesus dan diri kita dan juga semakin menyadari segala kelemahan dan dosa-dosa kita. Kita diajak untuk semakin mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Penerimaan Abu di dahi sebagai simbol bahwa manusia berawal dari debu dan akan kembali menjadi debu, cinis ad cinerem pulvis ad pulverem. Kita mempergunakan abu yang berasal dari daun palma pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. 

Dalam ibadat gereja-gereja di seluruh dunia, abu pembakaran daun palem dicampur dengan air atau minyak suci, lalu diberikan dalam bentuk tanda salib di dahi umat. Pemberian tanda salib dengan abu itu disertai kata-kata, "Bertobatlah, dan percaya pada Injil" (Markus 1:15). Bertobat berarti berbalik kepada Tuhan, meninggalkan sikap dan tindakan yang salah dan berdosa, berbalik menghadap atau hidup bagi Allah saja. Bagaimana pertobatan itu perlu dinyatakan secara konkret? Yesus menyebut tiga praktek pertobatan yang bisa dilakukan; memberi sedekah atau amal, puasa, dan doa. Inilah bentuk-bentuk pertobatan yang secara konkret dapat menjadi ungkapan pertobatan batin. Atau dengan kata-kata "Ingat bahwa kamu berasal dari debu, dan kamu akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19)”, pada saat dahi diberi abu. Itulah merupakan tanda bahwa kita berasal dari abu dan nanti akan kembali menjadi abu kembali. Dengan penandaan itu kita diingatkan akan keberadaan dan keterbatasan kita sebagai ciptaan. Dalam penandaan itu, sekaligus kita menggabungkan diri dengan perjalanan Yesus menuju kematian, untuk akhirnya nanti boleh mengalami kebangkitan bersama dengan Dia.

Rabu Abu menjadi pintu masuk menuju masa Pra Paskah dimana Gereja menyebutnya sebagai “Retret Agung”, karena selama 40 hari kita diajak untuk semakin mengenal Yesus dan diri kita dan juga semakin menyadari segala kelemahan dan dosa-dosa kita. Kita sebagai orang beriman baik kalau kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita kerjakan sebagai orang beriman dan apa yang masih perlu kita tingkatkan sebagai orang ber- iman? Maka masa ini juga merupakan saat yang tepat untuk melihat kega- galan, kejatuhan, dan juga kelemahan yang mengganggu perjalanan hidup kita yang lalu, sehingga kita dapat memperbaikinya agar dapat maju dengan lebih baik.

Pada masa Pra Paskah kita juga diajak untuk semakin mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita melihat apa yang terjadi pada diri Yesus, bahwa Ia pun mengalami penderitaan sebelum mengalami ke- bangkitan, mungkin kita dapat me- nimba juga makna baru dari seluruh penderitaan, kegagalan, pengalaman pahit dan kesengsaraan yang ada dalam hidup kita. Mari kita melihat makna kegagalan, penderitaan, ke- sengsaraan dan perjuangan dalam hidup ini. Sering kita mengalami bahwa kegagalan, kesengsaraan dan penderitaan sebagai sesuatu yang hanya mengganggu hidup kita saja dan karena itu sering mematahkan semangat kita untuk melanjutkan hidup. Dalam kerangka ikut me- nyatukan diri dengan penderitaan dan perjuangan Yesus, kita pun diajak oleh Gereja untuk juga mau satu rasa dengan Tuhan, yaitu dengan mati raga. Memang arti pertama dari mati raga adalah lebih bersifat rohani, yaitu mencoba membenahi hidup menurut jalan Tuhan. Namun arti yang kedua yang lebih bersifat jasmani adalah juga penting, yaitu agar kita berusaha mengurangi kenikmatan jasmani, yang kita nampakkan dalam bentuk pantang dan puasa. 

Selama masa Prapaskah ini, baik kalau kita mengarahkan perhatian kita kepada tiga kegiatan penting yang patut kita lakukan, yaitu berdoa, beramal, dan berpuasa. Hanya saja semangat dasar untuk melakukan amal, puasa, dan doa itu janganlah demi pujian, penghormatan, dan kekaguman orang lain. Biarlah Bapamu di surga yang melihat perbuatanmu yang tersembunyi itu.

Marilah kita memasuki masa pra- paskah ini dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Marilah kita saling mendukung dan saling mendoakan.

Tuhan memberkati.

Sumber: Br. Paulus FIC

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi Warta Teresa

 


Post Terkait

Comments