Pertemuan Besar Paguyuban Prodiakon Oase - Di Balik Salib Kehidupan

“Apakah yang dilakukan prodiakon, bila setelah dia memimpin ibadat pemakaman, lalu pihak keluarga yang berduka memberikan stipendium?”

Pertanyaan kritis dan lucu ini mencuat pada sesi tanya jawab dengan Romo Albertus Monang RS atau akrab disapa Romo Almo sebagai pembicara utama dalam gelaran Pertemuan Besar Paguyuban Prodiakon ke-3, 21 Mei 2023, di Sekolah Pangudi Luhur.

Kali ini mengambil tema sentral “Oase di Balik Salib Kehidupan“. Pertemuan rutin triwulanan ini merupakan wahana untuk pengembangan diri dan untuk membangun chemistry - persaudaraan para prodiakon sebagai sebuah keluarga. Pak Marcel selaku ketua paguyuban berpesan agar peserta dapat menimba inspirasi dari kegiatan ini. Sedangkan Pak Robert selaku perwakilan Dewan Paroki Harian berpesan acara ini dapat dihadiri juga oleh para istri/suami prodiakon.

Ibu Herlina menyampaikan fakta menarik dimana kebutuhan Prodiakon saat ini jauh dibawah angka cukup, masih ada 10 lingkungan yang tidak memiliki prodiakon. Idealnya 1 lingkungan memiliki 2 prodiakon. Sedangkan ada “trend” meningkatnya jumlah lansia dan orang sakit yang perlu dilayani. Betapa “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”. Sementara itu banyak prodiakon yang sebenarnya sudah purna bakti, namun karena jumlah prodiakon jauh dari kondisi cukup, masih diminta kesediaannya  untuk “memperpanjang” 6 bulan masa bakti lagi.

Acara juga diisi dengan pemaparan pengalaman dari 4 anggota prodiakon : Ibu Rumengan, Pak Suprayogi, Pak Moris, Pak Nugroho. Berbagi pengalaman menarik selama sebagai prodiakon dan bisa belajar mengenal kehidupan. Ini sesuatu yang priceless, tak ternilai harganya … Bagaimana tidak - pengabdian sebagai prodiakon dapat mentransformasi seseorang untuk menjadi pribadi yang semakin rendah hati dan peka terhadap penderitaan di sekitarnya. Hal ini pun disinggung di dalam pemaparan Pak Sales : di mana beliau menekankan akan pentingnya prodiakon memiliki spiritualitas. Beliau mengatakan spiritualitas adalah cara berpikir dan cara melihat, dan dalam menjalankan panggilan sebagai prodiakon semestinya memiliki pandangan berikut :

Setelah break makan siang, giliran Romo Almo menyampaikan pemaparannya yang berjudul “Oase di Balik Salib Kehidupan“. Dibawakan dengan sangat menarik dan jenaka, membuat peserta bersemangat mendengarkan dan berinteraksi dengan aktif… (padahal jam kritis ngantuk ya...). Dasar dari pemaparan Romo adalah dokumen Gereja Gaudete et Exsultateyang berarti bersukacitalah dan bergembiralah. 

Seruan Apostolik Bapa Paus Fransiskus. Bersukacitalah dan bergembiralah adalah kata Yesus kepada mereka yang dianiaya dan dihina oleh karena Dia. Para prodiakon bisa dianiaya oleh  umat bahkan oleh sesama prodiakon. Romo pun berpesan sebagai prodiakon untuk tetap tidak menganggap dirinya “istimewa” dan tetap peka. Mungkin ada yang “dihina” dalam pelayanan. Romo mencontohkan banyak prodiakon yang pada masa pandemi mengalami penolakan padahal sedang mengantarkan komuni kudus kepada orang yang sakit.

Bisa jadi muncul pertanyaan “kok jadi prodiakon gini amat sih..?” Romo berpesan untuk tetap bersukacita dan bergembira. Kadang kehidupan menghadirkan tantangan-tantangan besar. Melaluinya Tuhan mengundang kita untuk terus bertobat agar membuat rahmat-Nya mewujudnyata dalam kehidupan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Diskusi semakin menarik saat Romo menyampaikan sikap fundamental yang mesti dimiliki para prodiakon berdasarkan kitab suci.

Untuk poin pertama : “Orang yang terhormat” maksudnya adalah tidak menyampaikan kata-kata yang menyakitkan. Karena, lanjut Romo, katakata menyakitkan tidak dapat ditarik kembali, walaupun sudah minta maaf. Contoh lainnya : Tidak malah mengharapkan stipendium pada saat pelayanan. Prodiakon TIDAK menerima stipendium.

Untuk poin ketiga : “Bukan seorang peminum” : bukan maksudnya melarang sama sekali minum, namun tidak mabuk dan tetap bijaksana. Karena kalau sudah mabuk : poin nomor 1 dan 2 akan hilang dengan sendirinya. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mendefinisikan nilainilai paguyuban prodiakon, di mana sebelumnya sudah memiliki motto yaitu “Inilah aku, utuslah aku”. Nilai-nilai yang diperoleh dari diskusi kelompok : setia, rendah hati, taat, penuh tanggung jawab, pengembangan diri, dan tulus ikhlas. Acara pun berakhir.

Terima kasih dan apresiasi kepada tim Sektor Cibarusah 2 dan Sektor Taman Sentosa yang diketuai oleh Pak Hari dan Pak Dudi untuk kolaborasinya menyukseskan perhelatan ini menjadi sangat keren dan 89 peserta yang hadir pun saya yakin membawa “oleh-oleh” berupa wawasan dan prespektif baru sebagai bekal yang menguatkan di dalam pelayanan dan dapat meningkatkan kualitas pelayanannya.

Terima kasih pengurus paguyuban : Pak Marcel, Bu Herlina, Bu Ima, Pak Apriyanto untuk dukungan yang luar biasa. Terima kasih untuk semua peserta. Sampai bertemu lagi di Perhelatan Pertemuan Besar.

Liputan dan Foto : Robertus Alung Constantine Lie


Post Terkait

Comments