Pertandingan Iman yang Benar

Bilamana hidup ini diandaikan sebagai pertandingan, kebanyakan dari orang yang mengikutinya akan berusaha untuk menjadi pemenang. Sayangnya dari mereka yang menjalaninya bisa mengambil langkah untuk menghalalkan segala cara untuk keluar sebagai pemenang. Langkah ini bisa berupa mengambil jalan pintas atau menjegal langkah lawan agar tertinggal. Alasan untuk mendapat kemenangan oleh karena ingin mendapat pengakuan dari orang lain.

Kemenangan mendatangkan pujian dari banyak orang sementara untuk orang kalah mendapatkan cemooh. Ukuran untuk karakter seseorang diperoleh dari banyaknya dia melakukan kebaikan yang tidak diukur dalam prestasi manusia atau menjadikan perbuatan baik sebagai perlombaan mengejar atau mendapatkan perhatian dari Allah. Karakter seorang diukur dari integritas orang itu dalam melakukan kebaikan sebagai panggilan  hidup dalam mencapai hidup yang kekal. Santo Paulus dalam surat pertama kepada Timotius menyatakan:

Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar
Dan rebutlah hidup yang kekal Untuk itulah engkau dipanggil dan telah engkau ikrarkan yang benar Di depan banyak saksi.
-1 Timotius 6:12-

Pada suatu hari, seorang pelatih dari tim atletik sekolah didatangi oleh orang tua dari anak yang menderita down sydrome. Orang tua ini memohon agar pelatih mengijinkan anaknya dimasukkan dalam tim atletik sekolah. Pelatih ini merasa berat untuk mengabulkan permohonan orang tua ini karena mereka yang ikut dalam tim adalah anak-anak yang sehat dan unggul sehingga kehadiran anak ini akan menjadi sandungan bagi tim. Di sisi lain, pelatih juga mempertimbangkan perasaan anak ini bilamana anak ini mendapat perundungan dari teman-temannya.

Orang tua dari anak ini terus memohon dan menyakinkan pelatih untuk memberi masa percobaan untuk anak ini beradaptasi dengan teman-temannya. Pelatih kemudian mengiyakan dan menerima anak down syndrome ini untuk masuk dalam tim atletiknya. Kehadiran anak ini mendapat sambutan hangat dari teman-temannya. Keterbatasan fisik dari anak bukan menjadi halangan untuk berbaur dengan teman-temannya, malah memberi motivasi untuk mengakrabkan tim ini menjadi lebih solid. Melihat hal yang positif dari keadaan ini, pelatih kemudian mencoba untuk mengikutkan anak ini dalam kompetisi atletik antar sekolah.

Cabang atletik yang diikuti anak ini adalah lomba lari 400 meter. Saat perlombaan dimulai, jelas anak ini tertinggal dari peserta lainnya. Pemenang lomba ada sebelum anak ini menyelesaikan perlombaan. yel-yel dari penonton meneriakkan pemenang dan perhatian dari sebagian besar orang mensituasikan perlombaan seakan sudah usai. Teman-teman tim ini anak down sydrome ini tidak larut dengan orang banyak tetapi berdiri di pinggir lapangan untuk memberi semangat bagi anak ini untuk terus menyelesaikan lomba. Air mata dari anak ini mengucur di pipinya sesaat setelah pemenang dan sebagian besar peserta lari menyelesikan lomba namun dirinya tidak segera menyerah. Anak ini berjuang untuk  tetap berlari mencapai garis akhir walau dia tahu dirinya bukan yang tercepat. Teman-temannya memberi dukungan bagi anak setelah tahu bahwa anak ini memiliki daya juang untuk menyelesaikan lomba sampai akhir.

Tindakan dari tim untuk mendukung anak ini menarik perhatian tim lain yang sebelumnya mengira perlombaan sudah usai karena pemenang sudah ada. Perhatian mereka sekarang tertuju pada seorang anak yang masih tertinggal di posisi akhir namun masih berjuang meyelesaikan lomba.

Kejadian berbalik dengan sebagian besar dari orang memberi dukungan untuk anak ini tetap semangat dalam mencapai garis akhir. Saat anak ini mencapai garis akhir, semua orang bersorak-sorai karena merasakan anak ini dengan keistimewaannya menyelesaikan perlombaan dengan baik sampai tuntas. Pelatih yang menyaksikan peristiwa ini belajar akan arti kemenangan sejati diukur dari pemenang itu mengalahkan keterbatasan dalam dirinya. Ia merasa anak ini menjadi piala untuk timnya karena mengajarkan tentang arti kesetiaan, kesabaran dan dukungan positif antar rekan tim.

Cerita ini mengajak kita untuk merenungkan kembali sebagai pengikut Kristus, bagaimana kita memberi kesaksian tentang dirinya? Pelatih dalam cerita ini disadarkan tentang arti kesabaran, kelembutan, dan kesetiaan dalam perlombaan. Sedangkan untuk kita adalah dorongan untuk mengerjakan kebaikan karena dengan melakukan hal yang demikian maka kita menjauhi kejahatan. Bertanding dengan iman yang benar, bukan menciptakan iklim persaingan yang saling menjatuhkan atau menjegal satu sama lain, melainkan mendorong setiap orang mengembangkan dirinya untuk bersama-sama menyelesaikan pertandingan sampai tuntas.

Ukuran kemenangan bagi seseorang diukur dari sportifitas orang dalam menjalani pertandingan. Capailah kemenangan bersama Kristus, bagi Dialah hormat dan kuasa yang kekal!

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Deokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments