Persatuan Kita dengan Allah Mendorong untuk Kita Mengasihi

Beberapa umat sering memperhatikan saat Ekaristi di bagian persembahan yaitu saat Imam mencampur air dan anggur, serta Imam mencuci tangan. Tindakan percampuran anggur dan sedikit air ini kurang dipahami maknanya oleh umat. Begitu pula saat Imam mencuci tangan, yang tidak sepert saat mencuci tangan pada umumnya. Kedua tindakan ini merupakan tindakan simbolik yang bukan menekankan pada aspek harafiah melainkan ada maksud tertentu.

Saat Imam menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala, Imam berdoa dengan lembut: “Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi seperti kami.”

Tindakan ini merupakan simbol dari Imam untuk menyatukan umat dan Allah saat perayaan Ekaristi. Penyatuan ini menjadi momen untuk melayakkan umat merayakan Ekaristi. Pada bagian selanjutnya adalah Imam secara simbolik mencuci tangan.

Pada saat pencucian tangan ini, Imam berdoa: “Ya Tuhan sucikanlah aku dari dosak dan bersihkan aku dari kesalahanku.” Simbol pencucian tangan ini merupakan simbol agar umat yang disatukan dalam Ekaristi disucikan sehingga pantas untuk menyambut komuni.

Penjelasan dua momen dari rangkaian besar Ekaristi menunjukkan bahwa Allah tinggal dalam umat-Nya. Kesatuan Allah dengan manusia terjadi dari tindakan Kristus dalam karya penyelamatan. Landasan dari tindakan penyelamatan Allah pada manusia terjadi karena Allah mengasihi manusia. Bilamana manusia disatukan dan disucikan dalam Allah, maka manusia turut ambil bagian dalam tindakan Allah untuk mengasihi.

Perkataan Yesus yang kita dengar dalam minggu ini, ”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu … dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” menjadi pengingat untuk kita mengutamakan kasih kepada Allah dan sesama. Ujud nyata dari tindakan mengasihi Allah dalam masa ini adalah membangun kepedulian pada keadaan di sekitar. Situasi yang dibatasi dalam masa pandemi mendorong untuk kita berbuat secara lebih nyata pada keadaan sesama yang kondisinya membutuhkan pertolongan dan perhatian dari kita.

Tindakan konkrit yang bisa dilakukan sebagai ungkapan kasih adalah sapaan. Kondisi sekarang ini menganjurkan kita memakai masker, sehingga tidak mudah untuk orang membaca raut wajah terutama saat tersenyum. Sapaan melalui kata-kata menjadi cara untuk kita memberi perhatian dan dukungan pada orang di sekitar. Sapaan bisa dalam ungkapan sederhana, seperti: “Selamat …”, “Halo”, dan “terima kasih” bisa menyejukkan hati orang yang kita temui terutama untuk membuat mereka merasa berharga dan terhormat. Sapaan kepada orang yang kita temui menjadi tanda bahwa Allah yang berada dalam diri kita mau berbagi kepada orang lain.

Tindakan sederhana ini bisa jadi membawa kita dalam tindakan lainnya seperti pembicaraan ringan dan pengenalan terhadap orang yang kita temui. Karya Allah tidak terjadi dalam perkara besar melainkan dalam perkara kecil.

Maukah kita ambil bagian dalam tindakan mengasihi melalui tindakan yang sederhana, seperti mau menyapa setiap orang yang kita temui?

Penulis : Rm. Camellus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments