Pergilah dan Perbuatlah Demikian

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini kita memasuki Minggu Biasa XV. Sebagaimana Sabda Tuhan yang menyapa kita dengan mengharapkan aksi yang sungguh dapat kita perbuat dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kita hendaknya mendalami pengertian sesama manusia sering dipersempit artinya menurut pengertian dan kebutuhan kita. Sesama manusia sering diartikan adalah orang-orang dekat, orang-orang yang mencintai kita dan yang kita cintai. Mereka juga yang adalah orangorang yang berbuat baik kepada kita. Bahkan sering pula diartikan, sesama manusia adalah orang-orang yang saya kenal. Maka yang bukan atau tidak saya kenal, yang tidak berbuat baik, orang asing, sering kita katakan sebagai bukan sesama.

Saudara-saudari yang terkasih, menarik kisah Injil yang kita dengarkan hari ini yakni seorang ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan bertanya “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal”. Pertanyaan ini bukanlah karena ia merindukan apa yang harus dibuat agar memperoleh hidup yang kekal itu, tetapi suatu pertanyaan yang hanya mau mencobai Yesus. Sebab, memperoleh hidup yang kekal hanya dengan jalan mencintai dalam konteks yang luas. Artinya, mencintai Tuhan dan sesama seperti diri sendiri. Nah, yang menjadi
persoalan ketika ia sendiri mempunyai pemahaman yang lain/berbeda tentang sesama. “Siapakah sesamaku manusia?”.

Setiap orang mempunyai kesibukan yang harus diselesaikan yakni seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Hanya orang Samaria yang Yesus sebut sebagai sesama manusia (ay. 36-37). Ia memiliki belas kasihan yang dibuktikan (ay. 33, 37). Belas kasihan yang mengabaikan kepentingannya yang harus diselesaikan saat itu, melakukan maksimal tanggung  jawabnya hingga ia meninggalkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan bersedia mengganti kekurangannya. Bahkan ia tidak mengenal siapa yang ditolongnya.

Melalui perumpamaan ini, Yesus mau membuka hati dan pikirannya untuk tahu dan mengerti sesungguhnya siapakah sesama manusia itu. Kisah tentang orang Samaria yang baik hati itulah yang harus menjadi jawaban atas pertanyaannya itu. Mengasihi berarti bertindak seperti Orang Samaria yang baik hati itu. Kebaikan hati itu ditunjukkan dalam sikap dan tindakan menolong orang yang dirampok, ketika ia berhenti di samping orang yang menderita dan menolong, tanpa ragu, tanpa memikirkan resiko yang akan ia hadapi, asalkan orang yang ditolong itu diselamatkan, orang Samaria yang baik hati yang berbelaskasih tanpa pandang suku, agama, ras, golongan dan sebagainya. Sangat luar biasa makna dari perumpamaan yang
disampaikan Yesus bagi kita semua pada hari ini.

Bagi kita, kisah ini mengajak kita untuk juga menjadi seperti orang Samaria yang baik hati. Yakni berani keluar dari sikap merasa paling benar, menganggap rendah orang lain, memiliki sikap kerelaan untuk menolong yang menderita, bahkan terhadap orang yang tidak kita kenal, tidak kita sukai, menolong tanpa ragu, tanpa perhitungan untung rugi, tidak supaya dilihat atau dipuji orang. Berani turun dari kesombongan dan ego kita, turun merendah dan mengangkat yang lemah. Sikap yang demikianlah yang dikehendaki Yesus dalam hidup kita sebagai pengikut-Nya, yang tidak hanya dalam perkataan tetapi harus juga nyata dalam aksi terhadap orang-orang yang berada di sekitar kita.

Saat ini, banyak orang yang terpapar di pinggir jalan, karena kurangnya rasa kerelaan dari hati dan hidup kita. Yang dirampok hak-haknya, yang miskin dan sakit, yang kehilangan kasih, cinta dan perhatian, yang tersingkir akibat persaingan-persaingan hidup, yang kehilangan pegangan bahkan kehilangan kasih sayang. Mereka semua sangat membutuhkan “Orang Samaria Yang Baik hati” di zaman kita ini untuk berani, mau dan rela menolong dengan hati dan kasih. Bukan hanya numpang lewat, bukan hanya melihat dari kejauhan dan menghindar. Bila kita masih bisa melihat orang lain sebagai  sesama, bila hati kita masih terbuka untuk menerima dan menyapa sebagai sesama, rela menolong tanpa membedakan, maka sebenarnya kita sudah dijalan menuju hidup yang kekal.

Teori berenang : tiup napas melalui hidung dalam air, apungkan tubuh di air, hilangkan rasa takut tenggelam, gerakkan kaki dan tangan sesuai gaya yang engkau kehendaki. Dapatkah Anda berenang setelah membaca saja teori di atas? Anda harus praktik renang di kolam renang untuk bisa berenang. Pengalaman seperti: air kolam yang terminum, tenggelam sebentar di air, dan sebagainya terkadang kita alami sebelum bisa berenang.

Kasih itu perlu bukti tindakan. Berbagai alasan: kesibukan, kebutuhan yang menanti, enggan memikul tanggung jawab, takut dimanfaatkan dan sebagainya menjadi alasan pembenaran kita untuk tidak membuktikan kasih. Kasih tidak bergantung kepada keadaan di luar kita, tapi kepada keputusan dalam diri kita. Pilihan ada di tangan kita, Roh Kudus pun tidak dapat memaksakan kita. Biarlah kita belajar membuktikan kasih kepada pasangan kita, orang terdekat dan komunitas kita tanpa mempedulikan keadaan dan respons mereka.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, melalui Sabda Tuhan yang telah kita dengarkan hari ini, kita diajak untuk semakin mendengarkan bimbingan Roh Kudus dalam hati kita semua. Dengan bersedia dibimbing dan dituntun menjadi pribadi yang rela menjadi aksi dari kasih dan damaiNya, sehingga perutusan Yesus dalam diri kita semua dapat membuahkan kasih yang semakin menguatkan setiap pribadi yang memberi dan juga yang telah menerima-Nya.

Penulis : Sr. Imelda Sianipar, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments