Pentakosta dari Kacamata Pedagogi Ignatian

Hari Raya Pentakosta atau Perayaan turunnya Roh Kudus atas para Rasul, merupakan perayaan penting dan bermakna bagi kita umat Kristiani. Dirayakan lima puluh (50) hari setelah Hari Raya Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Penting dan bermakna karena:

(1). Setelah Yesus naik ke surga, para pengikutnya berkumpul untuk Pesta Panen (atau Pentakosta) dan Roh Kudus memenuhi seluruh rumah tempat mereka duduk. Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain ketika Roh memampukan mereka (Kis 2).

(2). Penggenapan janji Kristus bahwa Roh Kudus akan menolong dan menuntun kita memahami Allah yang hadir dalam hidup kita (Yoh. 14:26; Ibr 8:10).

(3). Lahirnya communio persekutuan umat beriman yang percaya kepada Allah (Kis 2:47).

(4). Gereja hadir karena peran Roh Kudus. Roh Kudus yang hadir dalam diri para murid, menggerakkan mereka untuk hidup dalam persekutuan dan mewartakan Injil.

Tidak hanya itu. Bila direfleksikan ada hakekat pedagogi yang sangat kuat melekat dalam Hari Raya Pentakosta. Pedagogi istilah yang sering dipakai dalam dunia pendidikan. Apa itu pedagogi; (bahasa Inggris: pedagogy) berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu paedos yang berarti “anak” dan agogos yang berarti “mengantar”, “membimbing” atau “memimpin”. Pedagogi bisa diartikan dan dimaknai “membimbing anak-anak”. Secara lebih luas pedagogi punya tujuan membimbing anak-anak untuk memahami kehidupan ini, mengerti mana yang baik dan buruk dan mengajak mereka dari kegelapan menuju terang.

Baru-baru ini, dalam seminar Paradigma Pedagogi Ignatian, yang diadakan di Politeknik Industri ATMI Cikarang; pedagogi mempunyai 2 pondasi sikap yang kuat yaitu - Empathy dan empowerment – yang menjadi relasi utama pendidik dan peserta didik (pembimbing dengan retretan atau Guru dengan Murid atau Allah dengan umatnya).

Empathy itu opo? Empati itu bukan hanya terkait dengan rasa haru, iba-kasihan atau mengharu biru seperti nonton drakor (drama korea) yang dheleweran air mata. Lebih dari sekedar rasa-rasa itu. Empati dari kata emphatia, bisa diartikan lebih “ikut merasakan”. Ikut merasakan bukan sekedar rasa saja tapi kuat nuansa competence (olah pikir), conscience (olah rasa dalam terang Ilahi) dan compassion (olah tindakan kongkret).

Bisa dikatakan seluruh jiwa raga ikut “terlibat merasakan” apa yang dirasakan oleh manusia (orang). Dalam Pentakosta empati sangat tampak dalam diri Yesus Kristus. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 14:16-20). Dari ayat di atas tergambar, bahwa Yesus Kristus sangat penuh empati pada kondisi manusia. Secara competence, conscience dan compassion (3C) bahkan menyerahkan diri sepenuhnya bagi manusia.

Yesus Kristus selalu memikirkan, merasakan dan bertindak untuk keselamatan manusia; memberikan Roh Kudus sebagai penolong manusia untuk selamat. Ini bukti empati Yesus Kristus yang sempurna, ciamik tenan. Pertanyaan nakal yang muncul, bagaimana empati kita bagi Allah, sesama dan alam semesta? Bisa menjadi refleksi kongkret kita bersama.

Empowerment opo iki? Lebih dekat dengan arti “memberi daya”, “memberi kemampuan” dan “mendorong atau menyemangati” untuk hidup semakin lebih baik; semakin manusiawi. Apa kaitannya dengan Pentakosta; turunnya Roh Kudus dengan empowerment. Bahwa iman kita percaya dan menyatakan bahwa Roh Kudus itulah daya empowerment hidup kita.

Bahasa kitab suci adalah “Seorang Penolong, penghibur, yaitu Roh Kudus yang diutus Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh. 14:25-26).

Tampak jelas “Gusti Mboten Sare (Allah tidak tidur), Allah terus berkarya dalam diri kita; “awake dhewe sing sare” (manusia yang sering tidak sadar akan Allah yang hadir dalam dirinya). Tentunya kita kebali diajak untuk bersyukur bahwa walau kita tidak melihat Allah tetapi Allah – dalam Pentakosta – hadir secara kongkret dalam diri manusia dan memampukan manusia untuk hidup semakin manusiawi. Dan jangan dilupakan bahwa Roh Kudus memampukan kita untuk bersaksi, menyebarkan kebaikan dan mewartakan injil. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium (EG, Suka Cita Injil) menyatakan “Kebaikan selalu cenderung menyebar. Setiap pengalaman autentik tentang kebenaran dan kebaikan (Roh Kudus mengajarkannya) pada dasarnya akan berkembang dalam diri kita dan siapa pun yang telah mengalami pembebasan mendalam menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain. Ketika pengalaman itu meningkat, kebaikan berakar dan berkembang. Jika kita ingin mengarahkan hidup dengan martabat dan kepenuhan, kita harus menjangkau orang-orang lain dan menemukan kebaikan mereka. Dalam arti ini, beberapa ungkapan Santo Paulus tidak akan mengejutkan kita, “sebab celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16) (EG).

Dua sikap tersebut - empathy dan empowerment - sangat mendukung terciptanya pendidikan yang diharapkan; oleh Pater Driyarkara SJ, bahwa pendidikan itu “Memanusiakan Manusia Muda”. “Lha terus piye?”, Lha ya berarti jelas tho, bahwa bila kembali mau “disenggolkan” dengan Hari Raya Pentakosta atau turunnya Roh Kudus cetho banget; Roh Kudus memampukan manusia semakin manusiawi dan sekaligus menggerakkan manusia untuk saling “memanusiakan manusia” siapapun itu. Artinya, percaya pada Roh Kudus – yang ada dalam diri kita masing-masing – berarti hidup kita dipenuhi oleh Roh Kudus itu sendiri.

Akhirnya, Roh Kudus turun, kita harus smile: bersukacita dan bersemangat dalam hidup ini. Roh Kudus menggerakkan kita untuk “memanusiakan manusia”. Kita dimampukan, diberi daya dan dikuatkan untuk memperjuangkan hidup semakin manusiawi; untuk semua orang. Atau kembali ke kata pedagogi; Roh Kudus mengajak kita selalu menuju pada TERANG ALLAH; melihat Allah dalam kehidupan ini. Alleluya.

Penulis : Ch Kristiono Puspo SJ - Koord Campus Ministry ATMI Cikarang

Gambar : Tim KomSos PC-GIT


Post Terkait

Comments