Pengenalan akan Kristus lebih Mulia dari Semuanya

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini kita memasuki Pekan Prapaskah V. Tidak terasa sebentar lagi kita akan sampai pada Pekan Suci.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, bacaan Injil hari Minggu ini mengisahkan seorang perempuan berdosa yang sepertinya dihadapkan pada dua macam pengadilan yaitu pengadilan Taurat dan pengadilan Yesus Kristus.  Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mencoba menghadirkan suatu dilema untuk Yesus yaitu mereka ingin melihat kesetiaan-Nya kepada Taurat dan konsistensi-Nya akan belas kasihan. Kisah perempuan berzinah yang dihadapkan kepada Yesus ini ditempatkan oleh penginjil Yohanes diantara kisah Yesus yang dibela oleh Nikodemus karena tidak melihat kesalahan dalam diri Yesus dan kesaksian Yesus sebagai terang dunia. Kisah perempuan ini seperti suatu kisah pengantar yang mengajak pembaca untuk melihat dan mengerti dengan mudah seperti apakah jati diri Yesus itu.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, dari kisah ini dapat dilihat bagaimana Yesus, dengan kebijaksanaan-Nya, dapat keluar dari dilema yang dihadapkan kepada-Nya oleh para ahli Taurat dan orang-orang farisi. Dengan Yesus memerintah dari antar mereka, yang tidak pernah berbuat dosa, untuk melempar wanita ini menunjukkan bagaimana Yesus hendak  mengembalikan mereka kepada kodrat atau kedalaman diri mereka yang tidak lepas dari dosa. Dan Yesus di sini berhasil karena mereka tidak melempar batu kepada wanita itu.

Hal itu, berarti bahwa ketaatan pada hukum itu sendiri tidak lebih dari suatu sarana untuk mengharapkan belas kasihan Allah atas keadaan manusia yang selalu jatuh ke dalam dosa dan belaskasihan Allah lebih utama dari segalanya. Tidak lebih dari itu, kisah perempuan yang diampuni Yesus ini hendak menyampaikan bagaimana jati diri Allah itu sendiri yang tidak lain adalah Maharahim.

Setelah mengampuni wanita itu, Yesus mengatakan “… pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”. Kalimat ini semacam suatu perutusan kepada perempuan ini yang sifatnya tidak netral atau tanpa isi. Perempuan ini, setelah diampuni mempunyai tugas untuk tidak melakukan dosa lagi. Pesan ini, selayaknya juga menjadi tugas perutusan kita umat yang sedang peziarah ini untuk menyadari kerahiman Allah yang selalu diterima dalam hidup ini dan karena kerahiman-Nya yang luar biasa kita tidak sampai hati untuk menyakiti-Nya lagi dengan dosa.

Pesan lain dari bacaan ini adalah berbagai laku tapa yang kita lakukan selama masa prapaskah ini tidak lain merupakan usaha untuk mengharapkan belas kasihan Allah atas kesalahan-kesalahan yang dibuat dan bukan suatu aturan untuk menilai hidup orang lain. Demikian juga Rasul Paulus mengingatkan kita semua bahwa hidup adalah demi Kristus. Yang artinya bahwa setiap orang beriman yang ditangkap oleh Kristus semestinya hidup menurut apa yang telah diimaninya. Rasul Paulus menegaskan bahwa kualitas hidup kita sebagai orang beriman diukur oleh kualitas cinta kita pada Kristus. Tentu setiap orang pernah jatuh ke dalam dosa, namun Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah menjadi manusia baru.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, melalui Sabda Tuhan yang telah kita dengarkan hari ini, kita diajak untuk semakin mendalami pengenalan kita akan kasih Kristus yang lebih mulia dari semuanya. Dengan mau menjadi pribadi yang mau terbuka akan pengampunan dan belas kasih Allah. Semoga dengan renungan hari ini semakin memampukan kita untuk lebih terbuka hati dan mau tergerak dalam mewujudkan kasih yang dari Kristus terhadap semua orang yang ada di sekitar kita.

Penulis : Sr. Imelda Sianipar, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments