Penerimaan dan Penolakan Karya Kasih Yesus

Saudara/i yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, pada Minggu Biasa XIV ini kembali kita diajak untuk mendengarkan sabda-Nya untuk dapat kita lakukan dalam hidup kita yang kita nyatakan dalam karya tugas pelayanan kita. Kita tahu bahwa kehadiran Yesus kedunia adalah karena cinta
kasih Allah yang amat besar kepada umat manusia. Namun tidak sedikit penolakan terhadap Yesus terjadi dalam sejumlah insiden yang dicatat dalam Perjanjian Baru.

Penolakan ini berlangsung selama hidup Yesus oleh masyarakat lokal maupun oleh para individu. Bacaan Injil menurut Markus 6:1-6 pada hari ini mengisahkan karya pelayanan cinta kasih Tuhan kita di tempat asal-Nya dan bagaimana Ia ditolak. Kisah kunjungan Yesus ke kampung halamannya (Nazaret) dengan para pengikut-Nya.

Pada hari Sabat, Ia memasuki rumah ibadat dan mulai mengajar. Ia mengatakan bahwa banyak orang yang mendengar hal itu 'terkejut', dan bahwa mereka tersinggung, bertanya "bukankah ini anak tukang kayu, anak Maria?". Ditambahkan bahwa Ia tidak bisa melakukan perbuatan kekuasaan (mukjizat) di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit. 

Yesus heran akan kurangnya keyakinan dalam masyarakat terhadap diri-Nya. Ia mengamati bahwa "Nabi dihormati dimana-mana, kecuali di kampung halaman sendiri, dan di antara keluarga mereka sendiri, dan di rumah mereka sendiri."

Saudara/i yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, kita tentu tahu bagaimana rasanya ketika kita mengalami kegagalan atau penolakan. Yesus sendiri terlebih dahulu telah mengalaminya dalam karya tugas pelayanan penebusan dosa manusia. Apa yang bisa kita teladani dari apa yang dialami Yesus adalah bahwa respon yang benar terhadap penolakan atau “kegagalan” adalah “memuji Allah”.

Terlepas dari apakah kita merasa nyaman atau tidak dengan apa yang menimpa kita, kita tetap harus memberi pujian kepada Allah. Yesus tetap memberikan kasih-Nya bagi yang percaya (Markus 6:5). Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun disana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Kata ‘menyembuhkan’ disini tidak semata- mata dalam bentuk lahiriah tetapi secara rohani. Tentunya masih ada yang menerima kasih Yesus (percaya) sehingga mereka memperoleh kesembuhan.

Kita bisa saja menjadi orang yang menolak (orang Nazaret) atau ditolak (Yesus), menerima atau diterima. Keinginan daging membuat kita sulit untuk menerima Yesus karena kita hanya mampu mendengar sebagaimana orang Nazaret berkata : “Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata : "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?
Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?”

Mereka hanya sampai kepada mendengar tetapi tidak menemukan. Karena tertutupnya hati mereka oleh kedagingan. Maka marilah kita berusaha mendengar dan menemukan dengan buah-buah roh yang kita terima agar kita pun layak dan dilayakkan menerima kehadiran-Nya dalam hidup kita. Semoga. Amin.

Penulis : Sr Loren, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments