Pekerjaan menjadi Sarana Pengudusan Diri dan Dunia

I. Makna Kekudusan 
Pengudusan berasal dari kata “kudus” (kata sifat/adjektiva) yang berarti “suci” atau “murni” berasal dari bahasa Arab “al-Quds” maka “kekudusan” dalam bahasa Gereja sering juga disebut: “kepenuhan hidup Kristiani” atau bisa juga dengan istilah lain: “bertumbuh menjadi sempurna di dalam kasih”, sering juga digunakan istilah: “bertumbuh di dalam kesucian yang semakin sempurna”. Kesucian atau kekudusan adalah kehendak Allah dan panggilan kita semua. “Inilah identitas dasar Gereja sebagai tubuh rohani, tubuh Kristus. Sejauh mana kita ikut ambil bagian dan mewujudkannya dalam hidup dalam kasih. Hidup dalam kasih adalah jalan utama menuju kekudusan.”

Kekudusan adalah suatu panggilan umum kepada setiap umat kristiani bahkan umat manusia sebagaimana diajarkan oleh Gereja melalui seruan Apostolik Paus Fransiskus Gaudete et Exultate (G et E): Bersukacitalah & Bergembiralah, (Panggilan menuju kesucian, di dalam dunia modern dalam hidup sehari-hari) pada tanggal 19 Maret 2019 ...... panggilan kepad kekudusan yang Tuhan tujukan kepada kita masing-masing, panggilan yang ditujukan juga secara pribadi kepadamu, “Hendaklah kamu kudus, sebab Aku ini kudus” (Im 11:44; lih 1Ptr 1:16) G et E 10; dan Konsili Vatikan II menyatakan dengan jelas, “...... semua orang beriman, dalam keadaan dan status manapun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui jalannya sendiri” LG 11, yang kemudian dilanjutkan dalam LG 40 : Jadi, bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun juga status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi.

Selanjutnya Paus Fransiskus menjelaskan mengenai Panggilan kepada Kekudusan juga di dalam G et E yaitu G et E 16. Kekudusan yang kepadanya Tuhan memanggilmu akan tumbuh lewat gerak-sikap sederhana. Contohnya: seorang perempuan pergi berbelanja, dia bertemu tetangganya dan mereka mulai berbincang, namun kemudian mulailah mereka menggunjing. Akan tetapi dia berkata dalam hatinya, “Tidak, aku tidak mau membicarakan keburukan orang”. Hal ini merupakan suatu langkah menuju kekudusan. Kemudian, di rumah, salah seorang anaknya ingin bicara dengannya tentang harapan serta mimpinya, dan meskipun dia lelah, dia tetap duduk di sampingnya dan mendengarkan dengan sabar dan penuh kasih.

Hal ini merupakan suatu pengorbanan lain yang menguduskan. Pada saat dia mengalami saat-saat kesedihan yang mendalam, namun karena mengingat akan kasih Perawan Maria, lalu dia mengambil rosario dan berdoa dengan iman. Inilah suatu jalan lain kekudusan. Lalu ketika keluar ke jalan, ia berjumpa dengan orang miskin dan berhenti sejenak untuk berbicara kepadanya dengan kasih. Ini juga satu langkah menuju kekudusan. Kekudusan, kata Paus Fransiskus “is not about shooning in mystic rapture”, melainkan pemahaman dan pelayanan kepada Tuhan dalam diri mereka yang lapar, terasing, telanjang, miskin dan sakit (Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama).

II. Makna Pekerjaan
Gereja Katolik melalui Paus Yohanes Paulus II (waktu itu) di dalam Katekismus Gereja Katolik 2427 mengajarkan bahwa Pekerjaan Sebagai Sarana Pengudusan sbb : KGK 2427- Karya manusia adalah tindakan langsung dari manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Mereka ini dipanggil, supaya bersama-sama melanjutkan karya penciptaan, kalau mereka menguasai bumi (Bdk. Kej 1:28; GS 34; 
Centesimus Annus (CA) 31). Dengan demikian pekerjaan adalah satu kewajiban: “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10, Bdk. 1 Tes 4:11). Pekerjaan menghargai anugerah-anugerah dan talenta-talenta yang diterima dari Pencipta. 
Tetapi ia juga dapat menyelamatkan. Apabila manusia dalam persatuan dengan Yesus, Tukang dari Nasaret dan Yang Tersalib di Golgota, menerima jerih payah pekerjaan (Bdk. Kej 3:14-19), ia boleh dikatakan bekerja  bersama dengan Putera Allah dalam karya penebusan-Nya. Ia membuktikan diri sebagai murid Kristus, kalau ia, dalam kegiatannya yang harus ia laksanakan hari demi hari, memikul salibnya (Bdk. Laborem Exercens (LE) 27). Pekerjaan dapat menjadi sarana pengudusan dan dapat meresapi/ menghidupi kenyataan duniawi dengan semangat Kristus.

Masih dari Katekismus Gereja Katolik (KGK), kali ini KGK 2428 Sewaktu bekerja, manusia melatih dan melaksanakan sebagian dari kemampuan kodratinya. Nilai utama dari pekerjaan itu datang dari manusia sendiri yang menciptakannya dan yang menerima keuntungannya. Pekerjaan memang untuk manusia, dan bukan manusia untuk pekerjaan (Bdk. LE 6). Tiap orang harus dapat menghasilkan melalui pekerjaan itu sarana-sarana untuk memelihara diri sendiri dan keluarganya dan supaya ia dapat menyumbang bagi persekutuan manusia.

III. Refleksi
Setiap orang diberkati, dianugrahi pekerjaan atau panggilan dan talenta sendiri-sendiri. Pekerjaan atau panggilan yang dijalani dan ditekuni siang malam dengan berjerih payah dan penuh tanggung jawab dan tanpa mengeluh adalah suatu ungkapan syukur atas anugrah-Nya. Begitu juga dengan talenta yang dianugrahkan Tuhan, bukan untuk disimpan saja tetapi dikembangkan dengan penuh kasih menjadi beberapa kali lipat. 
Semua itu Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar (Ad Maiorem Dei Gloriam/ For The Greater Glory Of God) dan Meningkatkan Kesejahteraan Umat Manusia dan kehidupan.

Semoga dalam aktivitas kita seharihari, kita mejalaninya dengan penuh semangat cinta kasih Kristus dan memberikan yang terbaik. Amin.

Salam sehat penuh kasih, sukacita, damai sejahtera . Berkah Dalem Gusti

Peulis : Aloysius Haryanto  - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments