Pekerjaan “Dengan Berpeluh” adalah Silih Atas Dosa

Kutipan lengkap dari Kejadian, 3:19, berbunyi, “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu”.

Mari kita simak beberapa pokok refleksi yang bisa ditarik dari ayat Kitab Suci ini. Alam bermusuhan dengan manusia. Pada tempat pertama harus dikatakan, bahwa bagian Kitab Suci ini (Kej. 3) berbicara tentang kejatuhan manusia dalam dosa. Pesan utamanya, adalah bahwa manusia tidak tunduk kepada Allah; ia melepaskan ketergantungannya pada Allah, dan mau menjadi allah sendiri. Cita-cita asali dari Sang Penciptanya ditunggangbalikkan.

Keadaan bahagia dalam relasi mesra dengan Tuhan dan dengan yang lain, atau keadaan “tidak akan mati” berubah menjadi “keadaan tidak bisa tidak mati, alias harus mati”. Ada mendengarkan kata-kata sang isteri dan ikut memakan buah terlarang, maka “terkutuklah tanah karena engkau”.(Kej. 3:17b). Tanah dan bumi tidak lagi memberi buah secara spontan, kalau tidak dikerjakan dan diolah. “dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu ...”(bdk. Kej. 3:17-19).

Alam tidak serta merta menjadi ‘tempat aman’ bagi manusia, sebaliknya sikap egois manusia, dan keteledorannya bisa membuat ‘alam kembali memberontak melawan manusia’, dan kekuatan alam berada di luar batas kontrol manusia; lihat saja adanya bencana alam, hujan lebat membawa banjir, gunung meletus, tanah longsor, masa paceklik yang panjang, pandemik, wabah penyakit, para petani gagal panen, dan lain sebagainya.

Manusia Diserahkan kepada Kematian
“Engkau adalah debu, dan akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19). Ganti menerima kehidupan ilahi sebagai anugerah, Adam mau membuang hidupnya dan menjadi seorang allah dengan makan buah pohon terlarang. 
Melalui ketidaktaatan ini manusia menghancurkan sumber hidupnya. Kematian yang seharusnya hanya merupakan pengalihan begitu saja kepada Allah,
kini tidak lagi berupa gejala kodrati semata.

Kini menjadi fatal, menandakan penghukuman, kematian abadi. Ini juga ditandai dengan pengusiran dari taman Eden (bdk. Kej. 3:23-24). Dengan menolak hukum batin, yang merupakan kehadiran Allah dalam dirinya, manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, kepada otonominya yang salah. Sejarah mencatat kegagalan-kegagalan berulang kali dari orang-orang yang menyangka dapat menyamai Allah dan kemudian hanya berjumpa dengan kematian, bahkan tidak lebih dari debu-tanah, “… sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19). 

Kerja keras merupakan kodrat manusia
Adam dan Hawa berada di alam dan di atas tanah yang telah dikutuk. Kehidupan manusia ini tidaklah ‘aman’, sebaliknya mereka akan menderita secara jasmani, bekerja membanting tulang, berjuang dengan susah payah, dan akhirnya mati, baik mereka maupun keturunannya. Kodrat manusia adalah tidak sempurna, dan bekerja keras dengan susah payah untuk memulihkan keadaannya.

Homo Faber atau Homo Laborans adalah istilah Bahasa Latin, berarti ‘manusia pekerja. Manusia yang hidup dan aktif adalah manusia yang tidak diam dan hanya bersikap pasif saja. Manusia pada hakekatnya adalah aktif, bergiat untuk melakukan sesuatu, bahkan terkadang harus diperhadapkan dengan beban dan tantangan. Manusia harus bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Manusia makan dari ‘hasil keringat – kerja’ sendiri. Ayat Kitab Suci dengan jelas menulis, “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu ...”(Kej. 3:19a).

Dengan demikian, kerja manipulatif, mencari gampang, apalagi mencari kesenangan atas penderitaan orang lain adalah merupakan sikap tidak terpuji. Maka benar kata rasul Paulus ketika menulis tentang ‘kasih’, “ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ... ia tidak bersukacita karena ketidak adilan ...”(bdk. 1Kor. 13:4-8; 1Kor. 10:24; 1Kor. 10:33). Atau di tempat lain Paulus menulis dengan tegas, “Sebab walaupun kami bersama kamu, kami memberi anda peraturan ini: "Orang yang tidak mau bekerja tidak boleh makan." (2Tes. 3:10)

Pekerjaan “dengan berpeluh” (Kej. 3:19), adalah juga obat yang membatasi akibat-akibat buruk dari dosa (KGK 1609)
Pekerjaan dalam praktik iman kristiani menjadi bagian tidak terpisahkan untuk pemulihan diri dan penyempurnaan hidup. Pekerjaan dalam artian ini dihayati sebagai bentuk penitensi dan silih sebagai konsekuensi atas dosa-dosa kita. Penitensi disini dihayati sebagai perbuatan yang dilakukan oleh sang peniten (orang yang bertobat), sebagai denda atas dosa-dosanya, dan demi pendamaian diri dan hidup dengan Allah.

Kita melakukan pekerjaan sebagai ganti kerugian yang dialami oleh sesama karena kesalahan yang kita lakukan. Maka prinsip keadilankerugian ini menuntut ganti rugi. Misalnya, pencuri yang bertobat, harus mengembalikan barang curiannya, orang yang memfitnah harus mengembalikan nama baik yang difitnah. Pekerjaan sebagai bentuk pertobatan untuk memulihkan kembali si pendosa ke jalan yang benar, menemukan jalan baru dalam hubungan
dengan orang lain dan dengan Tuhan sendiri.

Pekerjaan merupakan kerja sama manusia dengan Allah demi penyempurnaan yang kelihatan (KGK.378)
Penebusan dari Kristus membawa citra baru manusia. Sakramen Baptis menjadi fundasi bangunan hidup sebagai putera-puteri Bapa dalam Yesus Kristus Sang Putera Tunggal Bapa. Manusia kristiani menjadi percaya bahwa hidup adalah bentuk jawaban atas panggilan Tuhan. Manusia mencari dan mengusahakan kehendak Tuhan melalui setiap bentuk hidup dan karyanya. Ingat kata-kata Yesus, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” (Yoh. 15:16). Pekerjaan dalam iman kristiani adalah melakukan kehendak dan perintah Tuhan. Kata Yesus, “Inila Perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh. 15:17)

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments