Paskah : Dibangkitkan Bersama Kristus

Selamat Paskah! Kristus telah bangkit!

Hari Raya Paskah merupakan puncak liturgi Gereja karena kita merayakan misteri penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya. Berkat kebangkitan Yesus Kristus, kita diselamatkan dari dosa dan memperoleh keselamatan. Dalam tulisan ini, kita diajak untuk merenungkan kembali makna Paskah melalui latar dan simbol perayaannya.

Kata “paskah” berasal dari Bahasa Ibrani pesach, yang berarti “melewati”. Dalam konteks Perjanjian Lama, kata pesach merujuk pada kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, terutama saat Allah “melewati” rumah-rumah orang Israel yang ditandai darah anak domba (Kel 12:23). Di kemudian hari, kata ini juga digunakan bangsa Israel untuk menggambarkan peristiwa kepulangan mereka dari pembuangan Babel serta pengharapan eskatologis akan kedatangan Sang Mesias. Melalui Perjamuan Paskah Yahudi, orang Israel merawat kenangan akan penebusan Allah sembari menantikan kedatangan Sang Mesias.

Kenangan dan harapan dalam Perjamuan Paskah Yahudi tersebut, bagi para murid dan Gereja, telah terpenuhi dalam diri Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya (bdk. KGK 638). Gereja merayakan Paskah karena umat manusia telah dibebaskan Kristus dari perbudakan dosa dan memperoleh keselamatan. Melalui Ekaristi, kita merayakan kenangan akan sengsara dan kebangkitan-Nya serta diteguhkan dalam persekutuan dengan Yesus Kristus (bdk. KGK 1329-1330).

Perayaan Paskah juga menjadi kesempatan yang ideal untuk inisiasi anggota Gereja yang baru. Melalui Baptis, Krisma, dan Ekaristi, para baptisan baru dimasukkan ke dalam persekutuan Tubuh Kristus. Berkat pembaptisan, kita telah mati dari dosa dan dibangkitkan bersama Kristus. Apabila tidak ada pembaptisan dalam liturgi Malam Paskah, kita akan memperbarui janji baptis dan direciki dengan air suci agar semakin diteguhkan menjadi saksi dan tanda penyelamatan oleh Kristus di tengah dunia.

Kebangkitan Kristus juga diungkapkan secara indah dan simbolis dalam liturgi Malam Paskah. Pemberkatan api dan Lilin Paskah mengingatkan kita akan perkataan Yesus sendiri, "Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh 8:12). Lilin Paskah merupakan simbol Kristus yang bangkit dan kemenangan-Nya atas kegelapan dosa serta maut. Dengan menerima nyala api dari Lilin Paskah, kita berpartisipasi dalam kebangkitan-Nya dan dijadikan anak-anak terang. Pujian Paskah merupakan doa pujian dan syukur atas kebangkitan Yesus dan karya keselamatan-Nya bagi umat manusia. Bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Liturgi Sabda hendak mengungkapkan karya keselamatan Allah bagi umat manusia yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus.

Peristiwa kebangkitan Kristus memang tidak dapat dijangkau dengan akal budi, tetapi kita diajak untuk sungguh beriman dalam misteri-Nya, “Berbahagialah mereka yang sekalipun tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Iman akan kebangkitan Kristus membukakan pintu masuk menuju kehidupan yang baru (Rm 6:4). Kehidupan baru tersebut kita jalani dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, rekan, dan masyarakat. Semoga dengan merenungkan kebangkitan-Nya, kita senantiasa mempunyai harapan dalam menjalani kehidupan dan kekuatan untuk berbela rasa terhadap sesama.

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber:
-. E. Johnson, T. Krosnicki, “Easter and Its Cycle,” dalam New Catholic Encyclopedia Vol. 5, 2nd Edition (Detroit: Thomson Gale, 2003), 10-13;
-. W. J. O’Shea, “Easter Vigil,” dalam New Catholic Encyclopedia Vol. 5, 14-17; Katekismus Gereja Katolik.

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments