Paradoks Kristiani

Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan ‘paradoks’ sebagai pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks. Ada dua pernyataan yang kedengarannya saling bertolak belakang, tetapi menyampaikan suatu kebenaran.

Kata-kata Yesus seperti yang kita dengar dalam bacaan injil Hari Minggu ini, antara lain berbunyi : “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25). Sekilas orang bertanya, bagaimana mungkin, yang menyelamatkan justru akan kehilangan; sebaliknya yang kehilangan bahkan akan mendapatkannya.

Paralel dengan kata-kata kontradiktoris ini kita dapat mengatakan bahwa, memberi berarti menerima, memegang erat justru berada dalam kelepasan. Memang paradoks, artinya kata-kata atau pernyataan-pernyataan itu kedengaran saling bertentangan. Apakah itu berarti tidak masuk di akal sehat?

Kebenaran seperti apakah yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya kala itu, maupun kepada kita sekarang yang beriman kepada Kristus? Kebenaran kata-kata Yesus ini menjadi ‘paradoks Kristiani’. Hal yang kontradiktif, atau tidak mungkin, seperti nampak dalam sikap Petrus, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Sekali-kali takkan menimpa Engkau” (Mat.16:22). Petrus berpikir secara manusiawi, hal mana bertentangan dengan rencana Allah (ay.23).

Status sebagai ‘murid’ Yesus
Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat.6:24). Maka menjadi murid berarti jadi pengikut, dan harus bersedia melepaskan dirinya, meninggalkan keterikatan kepada dirinya, tidak memilih kepentingan dirinya, sebaliknya lebih memilih apa yang berkenan kepada Sang Guru yang diikuti. Dasarnya adalah inisiatif menjadi murid bukan datang dari sang murid, alias dari diri kita, sebaliknya kemuridan kita adalah hasil inisiatif Tuhan sendiri.

”Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…” (Yoh. 15:16). Di tempat lain kita baca tentang Yesus memanggil murid-muridnya yang pertama (bdk. Yoh. 1:35-42; Mrk.4:18-22). Konsekuensi kemuridan, adalah kerelaan untuk melepaskan kepentingan diri untuk mengikuti kehendak Tuhan. Ingat kisah tentang pemimpin kaya yang pulang dengan kesal ketika mendengar kata-kata Yesus yang memintanya untuk menjual semua hartanya dan berikan kepada orang miskin, kemudian menjadi pengikut Yesus dan memperoleh Hidup yang kekal (Mrk.10:21,22).

Warta Biblis – Paradoks Kristiani
Kita berpegang pada hakekat kehidupan kita sebagai pengikut Kristus melalui keberadaan dan pilihan hidup profesional kita masing-masing. Beberapa pesan biblis berikut, memperlihatkan kebenaran paradoksal dan menjadi hakekat keyakinan kita untuk menjalani kehidupan kita.

Hanya dengan “kematian” kita bisa memperoleh kehidupan. Kata Yesus, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Kita dapat menafsirkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya hidup sukses yang membahagiakan harus diawali denganperjuangan, bahkan penderitaan dan pengorbanan.  Ada pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Hanya dengan “menyerahkan hidup” kita akan memperoleh hidup. Paralel dengan Injil Matius, Penginjil Yohanes (12:25), mengingatkan, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”.

Dengan melayani, kita akan menjadi yang terhormat. “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh. 12:26).

Akhirnya, hanya dengan memberi kita akan menerima. “Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk.6:38).

Penuiis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments