Panjatkanlah Permohonan dan Syukur pada Allah

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”(Luk 16:13). Mamon sering diartikan sebagai dewa kekayaan.

Pantaslah, kalau Tuhan tidak menghendaki kita mengabdi kepada Mamon. Tetapi yang menjadi pertanyaan ialah, mengapa di beberapa ayat berikutnya Yesus mengatakan, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur”? (ay. 9). Bukankah sepertinya kedua hal ini bertentangan: kita tidak boleh mengabdi kepada Mamon, tetapi kita diminta untuk mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon? Apakah maksudnya?

Sebenarnya Tuhan Yesus menghendaki agar kita para murid-Nya mengamati bagaimana orang-orang di dunia ini mencurahkan segenap pikiran dan hati, untuk secara kreatif mengarahkan seluruh kemampuan agar sukses.  Yesus menghendaki agar usaha maksimal, yang kita lakukan untuk mencapai hal-hal duniawi, kita lakukan juga untuk mencapai hal-hal rohani, agar kita dapat mencapai Surga. Masuk Surga memang adalah karunia Allah, namun ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat sampai ke sana.

Banyak orang rela membuang waktu untuk merawat diri, entah dengan aneka perawatan wajah atau melangsingkan perut, demi penampilan yang lebih menarik di mata dunia. Tetapi berapa banyak orang yang memikirkan bagaimana penampilan hati di hadapan Tuhan? Banyak orang rela menggunakan waktu untuk mempelajari banyak keahlian di dunia ini: belajar aneka pelajaran di sekolah/kuliah, memainkan musik, belajar fotografi, memasak, main golf dst, agar menjadi semakin ahli. Tetapi sejauh mana kita rela menggunakan waktu untuk mempelajari sabda Tuhan dan merenungkannya? Banyak orang tak berkeberatan bangun lebih pagi agar tidak terlambat naik pesawat untuk liburan ataupun tugas pekerjaan, tetapi berapa banyak orang keberatan bangun sedikit lebih pagi untuk berdoa? Banyak orang rela membuang banyak uang untuk membeli barang-barang mewah agar menyerupai artis atau sang tokoh idola. Tetapi berapakah orang yang dengan sukacita, berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan, agar semakin menyerupai teladan Kristus?

Sering kita melihat bahwa apa yang dilakukan di paroki seolah-olah cukup dilakukan dengan seadanya. Sejumlah orang berpikir bahwa karya pewartaan adalah kegiatan yang dilakukan kalau ada waktu dan tak perlu usaha istimewa. Demikian pula program kerja paroki, wilayah maupun lingkungan, tak usah terlalu seriuslah. Atau ada sejumlah orang yang sudah merasa cukup dengan ke gereja seminggu sekali, mengaku dosa setahun sekali, dan berdoa seadanya waktu saja. Dan masih banyak contoh lain, singkatnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan iman dilakukan hanya sekedarnya saja, tak usah repot-repot.

Sikap macam ini membuat hal-hal rohani sepertinya kalah langkah jika dibandingkan dengan hal-hal duniawi. Padahal seharusnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Jika kita mau mengusahakan yang terbaik demi kesuksesan yang bersifat sementara, bukankah sudah sepantasnya kita juga melakukan yang terbaik untuk mencapai kesuksesan yang kekal untuk selamanya? Sudah saatnya kita arahkan hati dan pikiran kita kepada tujuan hidup kita yang sesungguhnya: yaitu memperoleh kebahagiaan kekal di Surga.

Jadi, menjadi sahabat Mamon namun tidak mengabdi kepadanya melainkan hanya mengabdi kepada Allah saja, maksudnya adalah: menggunakan segala hal duniawi untuk membantu kita mencapai kemuliaan Surga.

Pertanyaannya adalah, sudah sejauh mana kita telah menggunakan semua pemberian Allah untuk memuliakan Dia? Allah telah memberikan kita 3T: talent (talenta), time (waktu), treasure (harta). Apakah kita telah sungguh-sungguh mempersembahkan talenta atau bakat kita, untuk memuliakan Tuhan, baik di tingkat lingkungan, wilayah, paroki ataupun Gereja secara keseluruhan? Demikian juga, sudahkah kita memberikan waktu untuk Tuhan, baik dalam doa maupun karya? Atau sudahkah kita menggunakan harta yang kita terima sebagai berkat dari Tuhan, untuk menolong sesama dan mendukung kegiatan gerejawi serta karya-karya kerasulan yang lain? Mari kita memberikan 3T : talent, time, treasure demi kemuliaan nama Tuhan. Kapan? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Demikan juga dengan ajakan rasul Paulus menegaskan, "Jadilah Jemaat yang rajin berdoa! Rajin berdoa tidak dimaksudkan untuk diri sendiri saja. Kita harus menjadi pendoa syafaat bagi orang lain juga. Mengapa kita harus menjadi pendoa syafaat bagi orang lain juga? Karena keselamatan Allah dimaksudkan untuk semua orang. Doa kita harus disertai juga dengan syukur, karena meski belum dikabulkan kita yakin bahwa Tuhan mendengarkan dan akan memberikan apa yang baik kepada anak-anak-Nya. Selain untuk semua orang, kita juga patut mendoakan secara khusus para penguasa agar kita dapat hidup tenang dan tenteram. Dalam konteks surat ini, orang-orang Kristen selalu mengalami penganiayaan dari para penguasa yang tidak percaya kepada Allah.

Tetapi Paulus menasihatkan jemaat untuk mendoakan mereka, agar mereka juga diselamatkan oleh Allah. Memang kita berdoa agar ada ketenangan dan ketenteraman dalam negeri melalui pemerintahan para penguasa. Tapi itu masih bersifat umum. Semua orang tentu berdoa seperti itu juga. Tapi yang luar biasa dari nasihat Paulus ialah agar kita mendoakan mereka supaya mereka turut diselamatkan oleh Allah. Mendoakan semua orang, termasuk para penguasa, itulah yang dikehendaki Allah dan yang berkenan kepada-Nya (ay. 3). Untuk hal ini, mari kita koreksi diri kita! Sudahkah kita menjadi pendoa syafaat bagi orang lain termasuk pemerintah kita? Jujur harus diakui bahwa doa-doa orang Kristen sekarang ini condong bersifat ke dalam dirinya saja. Dalam kebaktian ada doa syafaat, tapi kurang diminati. Sikap itu muncul sebagai akibat berkurangnya rasa kepedulian kita bagi orang lain sebagai bagian dari keselamatan Tuhan. Di gereja-gereja  ada pelayanan doa. Ini pun kurang diminati, karena alasan yang sama!

Dalam kondisi yang semakin berat seperti sekarang ini, kita harus makin rajin berdoa. Berdoa bagi ketenteraman bukanlah tujuan akhir. Masih ada tujuan yang lebih mulia dibalik itu. Dengan adanya ketenteraman yang dimungkinkan oleh pemerintahan yang bijak dan baik, maka gereja mempunyai kesempatan untuk menunaikan pekerjaannya secara baik juga. Ke dalam, gereja dapat membina warganya dengan baik. Ke luar, gereja dapat terus memberitakan Injil supaya makin banyak orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran (ay. 4).

Sumber utama keselamatan manusia adalah Allah. Itulah sebabnya kita perlu terus-menerus mendoakan agar orang lain ikut mengenal-Nya dan diselamatkan. Keselamatan hanya dapat diterima dari Allah dan itu diberikan melalui pengantara kita yaitu Yesus Kristus. Dialah yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan manusia. Dalam kaitan dengan keselamatan Allah yang luas itu, Paulus dengan giat terus bekerja bagi Tuhan. Itulah sebabnya Paulus sangat mengutamakan pemberitaan Injil dan juga terus mendoakan semua orang. Warga gereja harus terus berdoa. Apalagi dalam kondisi kita yang berat seperti sekarang ini. Kita harus menyatukan diri dalam doa yang tiada henti. Kita harus yakin bahwa Tuhan dapat menolong kita untuk keluar dari segala kemelut yang dihadapi. Kondisi sulit harus mempersatukan gereja.

Aksi Konkret: Seperti Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang kita dengar dalam bacaan kedua hari ini, kita pun dapat melakukan aksi dengan berdoa, agar semua orang diselamatkan dan “mengenal kebenaran.” Kebenaran bahwa Yesus Kristus membebaskan kita dan mengilhami kita, memberi kita kedamaian dan memperdalam rasa hormat kita terhadap kehidupan. Dan DIA adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan diri kita sendiri.

Penulis : Sr. Imelda Sianipar, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments