Panggilan adalah anugerah Allah. Dia berkenan mewahyukan setiap janji- Nya kepada seseorang. Allah mau agar orang tersebut melakukan kehen- dak-Nya. Panggilan adalah kehendak mutlak Allah. Bukan didasarkan pada perbuatan baik, kehebatan, atau jasa-jasa seseorang. Panggilan adalah jawaban atas kasih Allah. Kita dikasihi Allah sebelum kita dijadikan. Kasih itu tak terbatas dan mendahului kita, menopang kita dan memanggil kita di sepanjang jalan kehidupan. Kasih itu berakar dalam pemberian bebas mutlak dari pihak Allah kepada manusia. Kasih yang demikian besar itu, mendasari setiap panggilan manusia, termasuk panggilan khusus untuk hidup imamat dan hidup bakti. Hanya mereka yang tersentuh oleh kasih Allah dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan mampu menanggapi panggilan Allah.
Ada dua panggilan yang berusaha memanggil setiap manusia. Panggilan pertama adalah panggilan dunia. Dunia ini begitu keras memanggil setiap manusia dengan menawarkan kekayaan, kehormatan dan martabat hidup. Dan banyak orang telah mengikuti panggilan ini karena sangat menarik hati manusia. Panggilan yang kedua adalah panggilan sorgawi.
(Filipi 3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus).
Rasul Paulus menunjukan satu teladan yang luar biasa, di mana ia begitu serius menanggapi panggilan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia memberikan segenap hidupnya kepada Allah, dan tidak lagi memikirkan kesenangan dirinya. Saat ia menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk melayani Allah, ia sama sekali tidak pernah memikirkan lagi akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup dunia, ia rela tidak menikah, bahkan semua yang dulu merupakan kesenangan baginya, semuanya itu dianggap sampah. Ini artinya, Rasul Paulus meng- erti benar bahwa panggilan Allah itu begitu berharga, bahkan lebih berharga dari apapun yang ia miliki, yang bisa ia nikmati, lebih berharga dari emas, perak, atau permata sekalipun. Ia menyadari sungguh bahwa panggilan dari Allah adalah panggilan yang bernilai tinggi, panggilan yang bernilai kekal, yang tidak dapat ditukar dengan apapun.
Panggilan dari Allah walaupun mungkin hanya sayup-sayup terdengar tetapi secara sadar atau tidak sadar pasti memanggil kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mau menuruti panggilan surgawi atau silau dengan panggilan dunia ini? Yang menentukan jawabannya adalah kita itu sendiri. Tetapi Allah merindukan supaya kita memenuhi panggilan surgawi, karena besarlah upah yang menantinya.
Untuk menemukan panggilan hidup kita yang sesungguhnya, kita harus berani untuk mengambil keputusan. Keputusan untuk berhenti memikirkan hal-hal duniawi karena kita adalah anak-anak Allah dan Ia telah menjamin hidup kita. Oleh sebab itu, marilah kita tinggalkan semua pencintaan dengan dunia, melepaskan diri kita dari ikatan dengan dunia, dan berbalik kepada Tuhan, kita tanggapi panggilan Allah di dalam Yesus Kristus, supaya pada akhirnya, di balik kematian nanti Allah akan memandang kita sebagai orang-orang yang berkenan di hadapan-Nya.
Kiranya kebenaran ini membuat kita semakin menyadari, bahwa hidup sebagai orang percaya, itu artinya kita sedang dipanggil oleh Allah, kalau kita menutup telinga terhadap panggilan-Nya, maka kita akan berlari menuju kebinasaan kekal di dalam api neraka. Tetapi kalau kita mau menanggapi panggilan dari Allah, maka kita akan berlari untuk mencapai tujuan yaitu panggilan surgawi, di mana tujuan akhirnya adalah kerajaan-Nya, dan di sana kita akan hidup di dalam kemuliaan-Nya, sampai selama-lamanya.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Sumber: Br. Paulus FIC
Sumber gambar: Dokumen Pribadi Warta Teresa