Hidup dalam iman Katolik mengajarkan umat beriman untuk selalu berkomitmen dalam menciptakan kesejahteraan bersama bagi sesama dan alam semesta yang Tuhan ciptakan. Salah satu langkah praktis yang dapat diambil adalah dengan mengolah sampah rumahan secara bijaksana. Kita akan mengeksplorasi pentingnya olah sampah rumahan dari perspektif iman Katolik dan Ajaran Sosial Gereja.
Di dunia yang terus berkembang, masalah sampah semakin menjadi perhatian utama. Berbagai macam produk konsumsi dan pola hidup modern yang tidak bertanggung jawab telah menghasilkan banyak limbah yang berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan manusia. Setiap rumah tangga dan lembaga wajib melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Hal ini segaris dengan kebijakan Presiden Jokowi dalam Peraturan Presiden nomor 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sebagai orang Katolik, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelindung dan kustodian lingkungan, sebagaimana yang diajarkan oleh Ajaran Sosial Gereja.
Salah satu langkah konkret dalam menerapkan ajaran ini adalah dengan mengelola sampah rumah tangga secara efektif. Mulai dari pemisahan sampah organik dan anorganik, daur ulang, hingga penggunaan kembali barang-barang bekas. Setiap langkah kecil yang kita ambil dapat memberikan kontribusi besar dalam menjaga bumi yang Tuhan ciptakan. Santa Teresa dari Kalkuta selalu mendorong untuk melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.
Dalam Kitab Kejadian, Allah menugaskan manusia untuk "menaklukan bumi" dan mengolahnya (Bdk. Kejadian 1:28). Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa Allah telah memberikan amanah kepada kita untuk merawat bumi dan segala isinya. Kita dipanggil untuk menjadi penjaga alam semesta dan tidak menyebabkan kerusakan yang tak terelakkan karena kecerobohan dan ketidakpedulian kita.
Olah sampah rumahan juga mencerminkan ajaran kasih terhadap sesama. Dalam Injil Matius, Yesus mengajarkan kepada kita untuk "mencintai sesama manusia seperti dirimu sendiri" (Bdk. Matius 22:39). Mengelola sampah dengan baik adalah bentuk cinta kasih konkrit dan perhatian nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan orang lain. Umat beriman dipanggil untuk terlibat didalamnya terutama bagi generasi mendatang yang akan mewarisi bumi ini dari cara hidup umat beriman sekarang ini.
Gereja Katolik juga telah mengeluarkan berbagai ensiklik dan dokumen sosial yang menyoroti pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Misalnya, dalam ensikliknya yang berjudul "Laudato Si'", Paus Fransiskus menekankan tentang "ekologi terintegrasi" yang mencakup krisis lingkungan dan kemiskinan. Ia menyatakan bahwa "rumah kita bersama ini hancur", dan memanggil semua orang untuk bertindak bersama-sama demi lingkungan yang lebih baik.
Sebagai umat beriman Katolik, kita dipanggil untuk menjadi agen perpanjangan tangan Tuhan dalam cara kita hidup sehari-hari. Mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, ketekunan dan konsistensi membawa thumbler di pertemuan kegiatan persekutuan dan pelayanan, membuang sampah pada tempatnya dengan benar, mendaur ulang dan menggunakan kembali barang-barang sebisa mungkin, untuk membantu mengurangi beban sampah yang akhirnya mencemari lingkungan. Semakin beriman kita semakin peduli pada lingkungan dan kesejahteran kehidupan
Penulis : Anastasia Bintari Kusumastuti - Tim Kontributor Kolom Katakese
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa