Nasi Padang

Tere baru saja membungkuk untuk membuka tali sepatunya ketika pada waktu bersamaan Santo dan temannya, Eki mengangkat satu dus minuman mineral keluar dari rumah. “Biasanya Mas Santo paling tidak suka menggunakan wadah plastik untuk minum atau makan, tetapi kenapa dia angkat itu ke sepeda motornya?” tanya Tere pada dirinya sambil melepaskan sepatu yang dikenakan.

“Dari mana Ter?” Tanya Santo mendahului.

“Habis dari rumah teman. Ini dus mineral mau dibawa kemana, apa ada kegiatan OMK di Gereja?” kata Tere balik bertanya kepada Mas Santo.

“Tadi di pinggir jalan sana, di bawah pohon, ada kumpulan ibu-ibu penyapu jalan lagi menikmati makan siang. Saya dan Mas Eki tadi pulang nengok Mas Luki. Sambil pegang dus, Mas Santo turun dari sepeda motor mau ngecek ban sepeda motor. Eh … ada dua orang yang mendekat, mereka pikir kami bawa minum. Mung kin ada yang lupa bawa minum. Kak Santo ingat, ada satu dus di rumah jadi balik ambil”.

“Oh Tere tahu, mereka sering diantar jemput naik truk atau mobil pick up ya. Ada yang Mas Santo kenal atau mengenal Mas Santo?” Tere kembali bertanya.

“Nah itu Dek. Kak Santo ternyata kurang gaul. Santo tidak kenal, tetapi Ibu itu mengenal saya. Bilangnya kakak dari Mbak Tere yang suka ngasih kardus dan botol bekas, atau titip makanan kecil. Katanya Tere pernah ngasih bungkusan nasi padang juga. Tetapi yang paling diingat adalah Ibu. Katanya dulu waktu masih nyapu jalan sekitar rumah, Ibu sering menyapa dengan senyum kalau ketemu saat jalan pagi. Ibu juga katanya memberi peneguhan bahwa semua pekerjaan itu baik, yang penting dilakukan dengan sepenuh hati dan gembira”.

“Ada photo Ibu itu? Barangkali Tere masih kenal. Ada dua orang yang memang suka nanya dus atau botol bekas minuman mineral” tanya Tere sambil mencoba mengingat wajah penyapu jalan yang pernah dikenalnya.

Seolah tidak mendengar pertanyaan Tere, Santo berjalan bergegas menuju sepeda motor bersama Eki. “Kami antar dulu ini , takut mereka keburu kehausan, apalagi sedang makan”, kata Santo sambil lalu.

“Ibu… Bu, lagi dimana?” tanya Tere sambil menuju dapur. Benar saja, di sana ayah dan ibunya sedang menyiapkan makan siang.

Setelah mendengar ceritera Mas Santo dari Tere, Sang Ibu angkat bicara, “Kemungkinan itu Ce Yayah atau Ce Eti. Mereka berdua pekerja keras, riang gembira, tidak banyak mengeluh. Entahlah kalau keluhan disimpan dalam hati. Tetapi sejauh yang Ibu perhatikan, mereka menikmati pekerjaan dalam bekerja. Walaupun pendapatan tukang sapu hanya paspasan, mereka merasa diri lebih beruntung dari sejumlah tetangga yang tidak bisa membaca atau menulis”.

“Sebetulnya dalam kacamata iman Katolik, pekerjaan mereka sangat ‘bernilai’, karena membantu masyarakat lain terhindar dari debu, kotoran sehingga tercipta keindahan, kebersihan. Ada satu ironi, Ayah ingat waktu SD dulu. Bila petugas kebersihan ada, semua merasa biasa saja. Giliran petugas kebersihan sakit atau berhalangan, orang mulai mencarinya karena taman bunga tidak rapi, ruangan kantor berantakan, dapur dan loronglorong sekolah kelihatan hitam pekat oleh bekas pijakan sepatu” kata Ayah sambil mengingat masa kecilnya.

“Ayah betul” kata Ibu. “Sekilas tukang  sapu seperti kurang dibutuhkan. Tetapi sebetulnya peran/ fungsi mereka penting. Diabaikan kalau ada, tetapi dicari kalau tidak ada”.

Mendengar keterangan ayah dan ibunya, Tere kembali bicara, “Tere teringat Ensiklik Laborem Exercens dari Paus Yohanes Paulus II. Beliau melihat makna kerja dari dua sisi, yakni sisi oyektif dan subyektif. Dari sisi obyektif kerja, terutama menyangkut penghasilan, pekerjaan Ce Yayah dkk kalah bersaing dari pekerja kantoran, apalagi pengusaha atau direktur atau pejabat pemerintahan. Tetapi dari sisi subyektif, mereka ini justru menemukan realisasi diri. Pekerjaan dihayati sebagai bidang pengabdian kepada sesama dan wujud terima kasih kepada Sang Pencipta”.

“Tetapi satu catatan”, kata Ayah memotong pembicaraan Tere, “Tukang sapu dan semua pekerja kecil tidak jarang merupakan produk dari kemiskinan struktural. Karena kemiskinan dan buta huruf, masyarakat kecil tidak punya akses akan pendidikan yang baik, bahkan untuk mendapatkan gizi yang memadai. Begitulah maka yang kayalah yang tampil sebagai yang cerdas, dan akhirnya merekalah yang menguasai pendidikan, dan ujungnya ‘menguasai’ pekerjaan berduit. Ada dosa struktural, dosa sosial. Tetapi jangan salah, dalam hal ini kita juga mungkin punya andil, apalagi pemerintah, yang seharusnya berperan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang. Hanya manusia yang bekerja, hewan tidak. Jadi pekerjaan adalah hak asasi manusia. Berbahagialah yang menciptakan lapangan kerja dan membuat orang lain berbahagia dari pekerjaan mereka, sebab dengan memberi pekerjaan, mereka semakin memanusiakan manusia dan membantu mereka mendekati Allah”.

“Ayah benar”, kata Tere. “Dalam konteks Gereja, Tere salut amat sangat kepada Ibu Teresa. Perhatiannya pada kaum lemah/sakit sangat jelas. Kaul tarekatnya tidak hanya selibat, miskin dan taat tetapi juga ‘berpihak pada yang termiskin dari yang miskin’.

Tere belum selesai bicara ketika Santo tiba-tiba datang. Sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia memanggil, “Ibu, Tere….. ada salam dari Ce Yayah, Ce Eti. Kapan ada nasi padang lagi katanya”. Mendengar teriakan Mas Santo, ayah tersenyum. Ibu tertawa. Tere menimpali, “Nasi Padang”.

Penulis : Salvinus Mellese - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments