Misa Tatap Muka Perdana bagi WULAN di Masa Pandemi

Puji Tuhan!

Inilah ungkapan kegembiraan dan rasa syukur dari para Warga Usia Lanjut (Wulan) Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa (PCGIT). Bagaikan hembusan angin segar, para Wulan yang sangat merindukan mengikuti perayaan ekaristi secara langsung, akhirnya bisa terwujud. Antusias dan semangat para Wulan terlihat dalam raut wajah dan senyum ceria mereka saat berjumpa dengan teman-teman sesama Wulan pada misa offline yang bertempat di aula Sekolah Trinitas pada Sabtu Sore, 6 November 2021 yang lalu.

Saat Pandemi COVID-19 mulai merebak di Indonesia sejak Maret 2020, segala bentuk kegiatan ibadah dan pertemuan tatap muka ditiadakan demi mencegah terjadinya penularan
COVID-19, sehingga para Wulan PCGIT tidak dapat berinteraksi dan terlibat secara langsung baik dalam Perayaan Ekaristi maupun acara internal Wulan Paroki.

Kebijakan Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa (PCGIT) yang mengizinkan adanya perayaan Ekaristi secara langsung, diselenggarakan dengan prosedur administratif yang ketat yaitu peserta misa harus terdaftar dalam Biduk Paroki Cikarang dan melakukan pendaftaran misa melalui website Belarasa secara online. Walaupun prosedur terasa agak merepotkan bagi para Wulan karena keterbatasan akses teknologi yang mereka miliki, namun kegiatan ini bisa terlaksana berkat kerja sama bantuan dan perhatian dari pengurus lingkungan, pengurus Wulan sektor, dan tak lupa khususnya anggota bidang peribadatan, Dewan Pengurus Harian dan TGKP Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa.

Misa pada pukul 17.00 WIB ini dipimpin oleh Rm. Antonius Suhardi Antara, Pr, yang secara khusus menyapa para Wulan dengan hangat. Dalam homilinya, Rm Antara juga mengingatkan kepada para Wulan untuk tetap dapat berbagi waktu, kemampuan, atau apapun yang dimiliki kepada keluarga, anak cucu dan sesama, seperti yang dikisahkan dalam Injil hari itu, “ persembahan seorang janda” yang memberikan semua yang dimilikinya bagi Tuhan.

Misa berjalan dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti. Cuaca yang cerah dan kesigapan para petugas tata laksana dalam membantu para Opa Oma juga tentunya mendukung kelancaran misa sore itu.

Beberapa kejadian unik juga sempat mewarnai misa, seperti misalnya beberapa Wulan yang kesulitan mencari screenshot barcode di handphonenya, atau Opa yang menolak untuk didudukkan sesuai urutan kedatangan, atau juga seorang Oma yang menolak duduk di pojok dengan alasan sederhana : Romo ne ora ketok, Mbak… (Romonya tidak kelihatan, Mbak…)

Tentunya semua hal ini bisa dipahami oleh para petugas tata laksana yang tetap sabar dan tersenyum melayani Opa Oma. Tentu saja, ada catatan catatan yang bisa menjadi perhatian untuk pelaksanaan Misa Wulan paroki selanjutnya, misalnya pengadaan bangku bersandar untuk semua peserta misa, agar dapat mengikuti misa dengan nyaman. Selain itu, peran serta dan partisipasi dari para pengurus lingkungan juga masih sangat dibutuhkan untuk membantu memfasilitasi Opa Oma dalam proses pendaftaran misa melalui website.

Liputan dan Foto : Cesilia


Post Terkait

Comments