Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dicipta dengan kemampuan dan tanggung jawab untuk berespons dan bereaksi, baik kepada Allah, kepada lingkungan, kepada diri, kepada manusia yang lain, maupun kepada setan. Kewajiban berespons inilah yang menjadikan manusia selalu menginsafi kesulitannya dan tanggung jawabnya.

Setiap jaman mempunyai keunikan tersendiri yang tidak ada bandingnya. Demikian pula setiap manusia, mempunyai keunikan pada dirinya yang tidak ada persamaaan dengan diri yang lain, sehingga hidup berarti kita harus berani menghadapi pergumulan dan bertanggung jawab atas segala tantangan dan kesulitan serta memberikan jawaban kepada tantangan. Dalam menghadapi tantangan dan kesulitan itu manusia sering mengalami krisis iman dan identitas.

Pada saat ini banyak orang Kristiani menghadapi krisis yang menyangkut iman mereka dan sekaligus identitas mereka. Bisa jadi kita bukan orang yang mengalami krisis, tetapi tetap perlu belajar untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang menghadapi krisis. Kita akan belajar dari pengalaman orang Yahudi yang diangkut ke pembuangan di Babel dan para murid Yesus yang ditinggalkan oleh-Nya ketika Ia ditangkap dan disalibkan.

Kedua komunitas yang mengalami krisis iman dan identitas ini berhasil melewati krisis yang mereka alami. Apa yang mereka lakukan ketika menghadapi krisis itu? Ternyata kedua kelompok itu melakukan hal yang sama, yaitu menegaskan kembali identitas mereka. Bagaimana mereka dapat memahami identitas mereka? Dari hubungan mereka dengan Allah. Orang-orang Yahudi melihat kembali siapa sesungguhnya Allah yang mereka percaya dan melihat siapa mereka di hadapan Allah. Para murid Yesus melihat kembali siapa sesungguhnya Yesus yang mereka ikuti dan melihat siapa mereka di hadapan Yesus.

Hal yang sama akan kita lakukan dalam Bulan Kitab Suci Nasional ini. Kita diajak untuk melihat kembali kebenaran mengenai Allah dan siapa Umat Kristiani di hadapan Allah itu. Apakah unsur terpenting dalam hidup sebagai manusia sehingga kita mampu mengatasi krisis dalam diri kita? Jawaban Kitab Suci ada tiga hal, yaitu : iman, pengharapan dan kasih.

Tanpa iman, siapakah yang dapat melintasi keterbatasan diri dan berhubungan dengan Tuhan Allah? Tanpa pengharapan, siapakah yang kuat melangsungkan hidup melawan arus dan berarah kepada nilai kekekalan? Tanpa kasih, siapa pula yang bisa menghindarkan diri dari hidup yang terpecah-belah pada dirinya sendiri serta disintegrasi seluruh masyarakat yang menuju kehancuran seluruh umat manusia?

Berdasarkan seluruh kebutuhan ini, maka Kitab Suci mewahyukan bahwa yang tetap tinggal adalah iman, pengharapan dan kasih. Alangkah indahnya, singkatnya, dan tepatnya resep yang diberikan rasul Paulus yang didalamnya boleh memulihkan identitas diri manusia, mengarahkan tujuan kerohanian manusia serta melimpahkan relasi dan komunitas antar manusia. Hanya melalui iman, manusia sanggup mengalahkan dunia yang penuh dengan dosa ini. Hanya melalui pengharapan, manusia dapat mengarahkan diri kepada tujuan dan nilai kekekalan yang tidak tergoncangkan itu. Hanya melalui kasih, manusia dapat kembali untuk memulihkan dan merubah dunia yang sedang hancur dengan kuasa Tuhan, firman, dan Roh-Nya untuk memperbaharui dan memperdamaikan manusia dengan Allah, khususnya di dalam zaman yang penuh dengan krisis ini.

Iman berarti suatu pengarahan rohani kepada Tuhan kembali. Tuhan berkata melalui nabi Yesaya, “Di sini Aku! Di sini Aku! Kembalilah kepada-Ku.” Bagi mereka yang tidak mencari Allah, diberikan kesempatan. Bagi mereka yang tidak memanggil Tuhan, Tuhan memperkenalkan diri. Ini adalah satu berita penting dari jaman ke jaman. Tuhan berteriak supaya manusia kembali kepada-Nya. Dimana iman berada, disana kecemasan hilang, ketakutan berkurang, kegelisahan berkurang, sungut-sungut berkurang. Sebaliknya, jika kecemasan, ketakutan, kegelisahan, terus bertambah, itu membuktikan imanmu belum beres di hadapan Tuhan.

Dalam empat pertemuan, kita akan mendalami siapa Allah yang dipercaya oleh Umat Kristiani dan siapa sesungguhnya Umat Kristiani di hadapan Allah. Kebenaran mengenai Allah ini sesungguhnya adalah kabar gembira yang diajarkan oleh Yesus. Dari kebenaran mengenai Allah inilah Umat Kristiani memperoleh identitasnya. Kesadaran mengenai identitasnya ini akan mendatangkan sukacita bagi orang yang percaya dan menuntun cara hidupnya selama tinggal di dunia.

Selamat mendalami Sabda Tuhan di Bulan Kitab Suci. Tuhan memberkati.

Penulis : Br. Paulus, FIC

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments