Metanoia

Seorang teman pernah bercerita tentang perjalanan kunjungannya ke suatu perusahaan di luar pulau. Beberapa hari sebelum berangkat, dia diberitahu bahwa dia tidak perlu memikirkan kendaraan dari bandara ke lokasi perusahaan. Namun dia diminta menggunakan pesawat Garuda yang terbang pukul 07.10 pagi. Alasannya adalah supaya jemputan hanya sekali, berhubung pada saat yang sama ada salah satu owner perusahaan yang akan berkunjung dan menggunakan pesawat yang sama.

Supaya tidak terlambat tiba di Bandara Soekarno Hatta, dia memutuskan menggunakan jasa bis umum dari Lippo Cikarang pukul 03.00. Dalam bis, ada beberapa orang termasuk satu pasang suami istri. Bis tiba di Cengkareng pukul 04.00, tanpa hambatan. Dia segera check-in lalu duduk di ruang tunggu.

Sambil duduk, sesekali dia memperhatikan dan mencari tahu sosok owner yang akan dijemput bareng dengan dia. Ada beberapa orang yang menurut dia waktu itu punya tipe sebagai owner. Terakhir, sekitar 10 menit sebelum waktu boarding, suami istri yang tadi satu bis dengannya juga mulai kelihatan di ruang tunggu, sehingga ia mulai curiga “tampaknya mereka ini, penampilan OK”. Apalagi saat boarding, mereka pun ikut. Namun ketika sampai di tujuan, sang owner ternyata orang yang dia tidak perkirakan sebelumnya. Wajah dan penampilannya sangat sederhana, sempat beberapa kali berpapasan di ruang tunggu tetapi tidak sempat masuk
dalam bayangannya sebagai owner. Dia ternyata salah dalam memahami konsep owner.

Hari ini kita mulai memasuki minggu ketiga dalam rangkaian Adven. Minggu ke-3 ini biasa dikenal dengan Minggu Gaudete (sukacita). Di tengah dominasi warna ungu, dalam lingkaran Adven kita mulai menyalakan lilin berwarna merah jambu, semacam campuran warna ungu dan putih. Hal ini menjadi pertanda bahwa kegembiraan Natal semakin dekat, sukacita mulai tumbuh, walaupun belum penuh. Kita masih dalam masa “mawas diri”, masih dalam masa persiapan.

Adventus yang sejatinya berarti “kedatangan”, dalam penghayatan iman Katolik dimaknai sebagai masa persiapan dengan dua makna. Pertama, persiapan kedatangan Kristus di akhir zaman. Kedua, persiapan perayaan kelahiran-Nya di Betlehem dua ribu tahun yang lalu, terutama mulai dengan Minggu Gaudete, adven ke-3.

Salah satu unsur penting yang mempertemukan kedua macam persiapan itu adalah “metanoia”. Metanoia adalah kesiapsediaan mengubah cara pandang yang tidak seusai dengan kehendak Allah, termasuk cara pandang kita tentang Allah, sesama, alam semesta. Melakukan metanoia berarti berani melepaskan pandangan lama yang tidak sesuai dengan iman Kristiani dan menggantinya dengan kaca mata iman yang semestinya.

Salah satu contoh konkrit adalah mengubah pemahaman tentang Allah. Boleh jadi ada orang yang menggambarkan Allah sebagai Allah yang menyimpan dendam, suka menghukum/menuntut balas. Dalam hal ini, Yesus dalam Luk. 15:11-32 mengajarkan kepada kita bahwa betapa Allah kita adalah Allah yang Maharahim.

Sebagaimana Bapa dalam Kis 15:11-32 senantiasa menantikan dan menyambut kedatangan anak bungsunya kembali, demikian pula Allah. Ia tidak mengingat-ingat kesalahan (Yeh. 18:21-22). Sebaliknya, Ia pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Yoel 2: 12-27). Ia memberi pengampunan dengan limpah-Nya (Yes. 55:6-7), dan menginginkan supaya tak seorang pun yang terlepas dari pangkuan-Nya. Ia selalu mencari domba-Nya yang hilang. Malahan untuk itu Dia harus menjadi “manusia” yang lahir di kandang domba.

Metanoia juga bisa terkait niat dalam melakukan “serangkain pertobatan”, seperti pengakuan dosa, berpuasa, melakukan silih atau penitensi. Boleh jadi ada orang yang rajin melakukannya
dengan konsep supaya mendapat pengakuan atau agar terhindar dari neraka, atau cepat masuk surga. Itu semua tentu tidak salah.

Namun tobat semacam itu baru merupakan tobat “tidak sempurna”. Dalam kaca mata iman Katolik, tobat yang sempurna adalah tobat dengan semangat “rekonsiliasi” atau perdamaian yang diwarnai oleh penyesalan. Peniten atau pendosa mengakui perbuatannya sebagai sesuatu yang mencederai persatuan suci dengan Allah dan gereja-Nya. Untuk itulah dia ingin “berbalik arah” supaya luka itu dapat dipulihkan kembali.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments