Merendahkan Diri di Hadapan Allah

Ibu, bapak, saudari, dan saudara terkasih dalam Kristus, pada minggu ini, kita memasuki Hari Minggu Biasa XXX Tahun C. Bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14) mengisahkan Tuhan Yesus yang memberikan perumpamaan cara berdoa orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi berdoa untuk mengucap terima kasih kepada Allah karena ia tidak sama seperti semua yang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga pemungut cukai. Ia juga berdoa untuk mengingatkan Allah bahwa telah berpuasa dua kali seminggu dan memberikan sepersepuluhan dari penghasilannya. Ia merasa telah memenuhi semua kewajibannya. Semua beres. Ia berpikir bahwa doa yang demikian pasti akan menjadi doa yang meyakinkan Tuhan pula. Cara berdoa orang Farisi di sini sebenarnya menunjukkan suatu sikap yang tidak mengungkapkan rasa syukur atas berkat dan belas kasih-Nya, melainkan kepuasan diri. Doanya sarat dengan “aku…, aku…, aku….”. Dirinya sendirilah yang menjadi pokok doanya. Tuhan semakin tidak mendapat tempat.

Di sisi lain, pemungut cukai berdoa dengan tidak mengumbar kata. Doanya rendah hati, apa adanya, dan diliputi kesadaran akan ketidaklayakannya serta kekurangannya sendiri. Ia menyadari bahwa ia membutuhkan pengampunan dan belas kasih Allah. Ia membiarkan dirinya untuk dipenuhi kerahiman Allah. Pokok doanya ialah Tuhan sendiri. Doa seperti pemungut cukai ini adalah doa yang berkenan di hadapan Allah. Doanya adalah doa yang, seperti dikatakan dalam Bacaan Pertama, “akan naik sampai ke awan” (Sir 355:16) – tidak seperti doa orang Farisi yang terbebani oleh kesombongan. Tentunya kita boleh mengingat doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri kepada kita. Doa Bapa Kami dalam bahasa manapun berpokok pada Bapa. Orang yang berdoa tidak pernah menjadi pokok kalimat di mana pun dalam doa itu.

Permenungan bagi diri kita masing-masing adalah bagaimana cara berdoa saya selama ini; apakah saya berdoa dengan menonjolkan diri, rangkaian kata indah tak bermakna, dan apa yang telah kita lakukan, serta membanding-bandingkan diri dengan orang lain; ataukah kita berdoa dengan merendahkan diri di hadapan Allah karena menyadari bahwa kita tidak layak di hadapan Allah dan membutuhkan belas kasihan serta pertolongan dari-Nya. Selamat bermenung.

Selamat hari Minggu. Selamat berakhir pekan. Tuhan memberkati Anda sekeluarga.

Penulis : Rm. Vinsensius Rosihan Arifin, Pr.

Gambar : Dokumentasi  pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments