Merawat Hati

Sepasang kekasih OMK ingin melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Sebelum menikah mereka mempersiapkan syarat-syarat pernikahan untuk mengikuti kanonik. Mereka sibuk mengurus kesana kemari dan menyelesaikannya. Jadwal pertemuan telah ditentukan dan mereka menemui romo paroki.

Romo Paroki : Saudara, bagaimana cara kamu untuk mencintai, mengasihidan merawat isterimu kelak?
Pemuda : Saya akan menjadi seperti lilin yang akan menyinarinya dan berkorban untuknya.
Romo Paroki (terharu) : Seterusnya bagaimana cara kamu kelak untuk menghormati isterimu ?
Pemuda (dengan semangat dan percaya diri berkata) : “Hormat gerak”

Saudari-saudara terkasih, seperti cerita di atas pemuda itu dapat mendefinisikan dirinya ketika ditanya bagaimana cara mencintai isterinya. Tapi tidak tahu caranya untuk menghormatinya. Sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada Injil hari ini yang tahu, mengerti dan paham tentang ajaran Gereja sehingga mereka berani menegur murid Yesus yang makan dengan tangan najis. Mereka hanya melihat bagian luarnya dan merasa benar, tanpa mengerti apa makna sebenarnya dari aturan itu, mereka tidak dapat melihat kesalahan diri sendiri, dan akhirnya Yesus menyebut mereka sebagai orang munafik (muka kayak nabi pikiran kotor). Saudari saudara yang terkasih, merawat hati sama dengan merawat tanaman. Yang perlu dibersihkan, disiram dan dipupuk serta selalu diperhatikan dan dirawat dengan tulus. Begitu juga halnya dengan hati kita perlu dibersihkan. Hal-hal yang perlu dibersihkan yaitu pikiran, perilaku, emosi dan perkataan. Contohnya egoisme, iri hati, suka menunda-nunda, tidak disiplin, tidak mau menerima kritikan, tidak sabar, tidak rendah hati, suka gosip, suka menyalahkan orang lain. Setelah dibersihkan perlu disiram dengan Roh Kudus dan dipupuk dengan doa, meditasi, firman Tuhan, dan Ekaristi.

Merawat hati dilakukan dengan terus menerus agar tidak terluka dan ternoda. Selalu menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. Bagaimana dengan kita, apakah kita telah membersihkan hati kita atau kita membiarkannya kotor dan tidak terawat?

Saudari saudara yang terkasih, ketika kita tidak mampu merawat hati maka akan timbul (ayat 21-22) :
1. Segala pikiran jahat = Itikad busuk
2. Percabulan = Kelakuan birahi yang tak bisa dibenarkan
3. Pencurian = Pengambilan properti milik orang lain
4. Pembunuhan = Tindakan untuk menghilangkan nyawa orang
5. Perzinahan = ketidaksetiaan dengan pasangan
6. Keserakahan = bibit korupsi dan kolusi
7. Kejahatan = tindak kekerasan
8. Kelicikan = Tipu daya untuk mencelakakan
9. Hawa nafsu = Perbuatan tak senonoh
10. Iri hati = Suatu emosi yang timbul ketika seseorang tidak memiliki keunggulan atau keberhasilan, iri dengan yang lebih sukses
11. Hujat = Fitnah menjatuhkan nama orang lain
12. Kesombongan = Angkuh, sikap kurang menghormati
13. Kebebalan = Kebodohan tidak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dikerjakan.

Yang pertama dengan yang terakhir erat berhubungan, bila kita tidak mempunyai sikap batin yang bijak maka yang ada dalam pikiran kita hanya rencana jahat. Disini Yesus tidak serta merta membuat daftar kejahatan begitu saja, melainkan mengajar kita dimana benih kebusukan akan merajalela dalam batin kita jika kita tidak peduli lagi akan sisi rohani.

Saudari saudara yang terkasih, mari kita tumbuhkan kepekaan rohani sehingga kebusukan tidak subur dalam hati, banyak cara yang bisa kita lakukan. Ketika hati terawat dengan cinta Kristus, maka yang ada dalam diri kita damai, sukacita, kasih, rela berkorban, dan apa yang menjadi motto Keuskupan kita akan terlaksana : semakin mengasihi, semakin terlibat dan semakin diberkati. Amin.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments