Menjaga udara bersih demi kesehatan merupakan salah satu perwujudan iman Katolik yang penting di tengah tantangan hidup modern di bumi Cikarang. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjaga dan menghargai ciptaan Allah, termasuk lingkungan di sekitar kita (Bdk. Kej 2:15; Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, 2016). Dalam Nota Pastoral KWI 2013 tentang Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan, disebutkan bahwa umat Kristiani memiliki peran dalam memulihkan dan melestarikan keutuhan ciptaan (Admin Dokpen KWI, 2015). Tindakan memulihkan dan melestarikan ciptaan ini mencakup usaha menjaga kebersihan udara sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebgai orang beriman terhadap lingkungan.
Menjaga udara bersih ini penting karena pertama-tama usaha tersebut merupakan wujud tanggung jawab iman seseorang sebagai Citra Allah (Bdk. Kej 1:26-27; Antonius Andy Hendriyanto,2019). Sebagai pribadi yang mencerminkan citra Allah, kita memiliki tanggung jawab istimewa untuk menjaga keberadaan diri kita dan ciptaan Tuhan, termasuk udara yang kita hirup setiap hari. Udara yang bersih dan segar sangat penting bagi kesehatan kita baik pernafasan, otak, paru-paru maupun peredaran darah dalam tubuh kita. Udara yang tercemar dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit pernapasan dan gangguan sistem peredaran darah. Dengan menjaga udara bersih, kita juga menjaga kehidupan kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita (Bdk. Kelli Mahoney, 2023).
Menjaga udara bersih juga merupakan tindakan solidaritas iman seseorang dalam keseharian dengan sesama manusia. Udara yang tercemar akan berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup diri kita dan orang lain. Dengan menjaga udara bersih, kita menunjukkan perhatian dan mempraktikkan kasih kepedulian terhadap sesama (Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016; Irawati Napitupulu, 2020).
Lingkungan tempat kita bergerak, hidup dan beraktivitas adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dalam menjaga udara bersih, kita melindungi ciptaan Tuhan dan menjaga keindahan maupun keberlanjutan alam semesta. Tindakan Konkrit menjaga udara bersih bukan hanya sekadar pemahaman teoritis, tetapi harus diaktualisasikan dalam tindakan nyata dan sikap keseharian (Bdk. Kementerian Agama Republik Indonesia, 2021). Kita dapat melakukan tindakan-tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, menggunakan energi terbarukan, mengkampanyekan penggunaan sepeda ontel dan mobil listrik bebas polusi udara, serta mendukung kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam menjaga udara bersih, kita tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi dan kerjasama antara umat Katolik, gereja dengan berbagai kalangan masyarakat perlu terus diprakarsai, didorong dan terus digaungkan. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan kekuatan yang lebih besar dan mencapai dampak kesehatan yang lebih luas dalam menjaga udara bersih.
Pendidikan iman sejak dini dan pendidikan agama Katolik yang diperhatikan di lingkungan-lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menjaga udara bersih sebagai perwujudan iman. Begitu pula praktik pendidikan di keluarga dalam hidup keseharian lewat teladan orang tua akan sangat berguna bagi iman anak-anak. Melalui pendidikan iman dan agama Katolik, kita dapat mempelajari nilai-nilai lingkungan dan melaksanakan tanggung jawab kita sebagai umat beriman Katolik terhadap ciptaan Allah (Bdk. Kardinal Ignatius Suharyo, 2022; Agama Republik Indonesia,2022).
Menjaga udara bersih demi kesehatan merupakan salah satu perwujudan iman. Dalam konteks iman Katolik, menjaga udara bersih adalah tanggung jawab kita sebagai umat yang mencerminkan citra Allah dengan menjaga kesehatan dan kehidupan, mempraktikan solidaritas dengan sesama, melindungi ciptaan Allah, dan melakukan tindakan nyata kasih dan kepedulian dalam kehidupan seharihari. Melalui pendidikan iman, pendidikan agama Katolik dan kolaborasi antara umat Katolik, gereja, keluargakeluarga dan masyarakat, kita dapat melakukan gerakan bersama terus menjaga udara yang bersih dan sehat untuk kebaikan kita semua.
Penulis : Andreas Yumarma - Tim Kontributor Kolom Katakese
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa
Referensi:-. Admin Dokpen KWI, (2015). Nota Pastoral KWI 2013, Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan. Diunduh dari https://www.dokpenkwi.org/nota-pastoral-kwi-2013-keterlibatan-gereja-dalammelestarikan-keutuhan-ciptaan pada juli 26, 2023.-.Antonius Andy Hendriyanto,(2019). Aku Citra Allah yang Unik. Diunduh dari https:// aendydasaint.com/2019/09/03/aku-citra-allah-yang-unik/-. Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, (2016). Pendidikan Agama Katolik Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Direktorat pembelajaran dan kemahasiswaan Kemenristek.-. Kardinal Ignatius Suharyo, (2022). Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2022:“Menghargai Pangan sebagai Wujud Penghormatan Martabat Manusia”. Diunduh dari https://www.mirifica.net/surat-gembalauskup-agung-jakarta-ignasius-kardinal-suharyo-pada-hari-pangansedunia-2022/ pada 28 Juli 2023.-. Kelli Mahoney, (2023). Ayat-ayat Alkitab Tentang Melindungi Lingkungan. Diunduh dari https://id.eferrit.com/ayat-ayat-alkitab-tentang-melindungi-lingkungan/ pada tanggal 28 Juli 2023.-. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, (2016). Udara Bersih. Buku Tematik Terpadu Kurikulum Pendidikan Khusus 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.-. Ratzinger tentang Manusia sebagai Citra Allah. Diunduh dari https://jpicofmindonesia.org/2020/05/ratzinger-tentang-manusia-sebagaicitra-allah/-. United States Conference of Catholic Bishops, Seven Themes of Catholic Social Teaching, Diunduh dari https://www.usccb.org/beliefsand-teachings/what-we-believe/catholic-social-teaching/seventhemes-of-catholic-social-teaching