Menjaga Keutuhan Ciptaan sebagai Wujud Iman

Bencana alam, naiknya permukaan air laut, banjir, tanah longsor, hujan badai dan perubahan ekstrem iklim memperlihatkan kondisi sistem ekologi kita yang semakin tergerus dan tergeser oleh nafsu keserakahan manusia dengan mengeksploitasi sumber-sumber alam secara berlebihan. Tidak sedikit hewan dan satwa liar sudah tidak mampu bertahan dan mulai punah atau menjadi satwa langka dalam kehidupan.

Menjaga keutuhan ciptaan oleh karenanya merupakan wujud iman bagi setiap orang Katolik. Keteladanan Bapa Suci Paus Fransikus tentang hal tersebut di atas, sangat jelas terlihat dalam Ensiklik Laudato Si (Mei 2015). Menjaga keutuhan ciptaan berarti kita peduli terhadap apa yang sedang terjadi dengan tanah dan air tempat kita hidup, yang menyediakan bahan-bahan dasar makanan dan sumber air bersih yang kita minum dan perlukan setiap hari. Dengan menanam dan mengairi pohon-pohon, kita mendukung pohon-pohon bertumbuh dan berkarya menyumbangkan O2 yang kita peroleh setiap hari dengan cuma-cuma. Pohon-pohon diciptakan  oleh Tuhan untuk berkontribusi bagi ciptaan lain seperti bagi kita manusia.
Binatang-binatang juga ikut berbahagia ketika tanaman tumbuh subur dan menjadi ekosistem kehidupannya.

Gerakan perwujudan iman yang relevan untuk saat ini adalah gerakan mengembalikan suasana shalom (Yes  57:19; Bdk Yoh. 16:33) yakni kondisi damai sejahtera yang utuh, ketika
manusia hidup harmonis dengan alam semesta dan dengan Tuhan. Atau mengacu pada inspirasi Kitab Kejadian: kita ikut dalam dinamika mengembalikan firdaus yang telah hilang (Bdk Kej. 3:1-25). Firdaus adalah gambaran suasana damai sejahtera ketika manusia pertama belum jatuh ke dalam dosa. Manusia, alam, tumbuhan dan aneka binatang hidup bersama dalam suasana kedamaian. Beberapa ekspresi wujud iman dapat kita lakukan di dalam gerakan-gerakan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pertobatan : perubahan orientasi dari manusia sebagai pusat segalanya menjadi salah satu saja dari semua makhluk ciptaan Tuhan di tengah alam semesta. Di sini pertobatan menghantar kepada panggilan untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan. Menjaga keutuhan ciptaan merupakan wujud cinta, hormat dan iman kepada Sang Pencipta segala sesuatu, Raja semesta alam.

2. Empati dan kepedulian : empati berarti ikut serta merasakan penderitaan dan menangis ketika pohon yang bertahun-tahun tumbuh harus ditebang habis dalam beberapa jam. Ikut serta mengalami betapa sulitnya hidup dalam kemarau yang panjang.

3. Keterlibatan proaktif : Berperan serta dalam upaya reboisasi, reforestrasi, gerakan green home dengan menanam tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah. Melalui wujud iman tersebut, mata iman kita menjadi semakin peka terhadap jeritan bumi yang menangis, terhadap penderitaan ciptaan yang menanti kepedulian serta uluran tangan. Menjaga keutuhan ciptaan akan meneguhkan umat beriman khususnya umat Katolik melaksanakan bela rasa terhadap sesama dan lingkungan konkrit yang ada di sekitarnya .

Penulis : Anastasia Bintari Kusumastuti -  Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments