Menjadi Saksi Kebangkitan

Sebagai seorang Kristiani, tentu kita sudah tidak asing dengan doa Aku Percaya atau Credo. Doa Aku Percaya ini memiliki makna yang sangat mendalam karena di dalam doa tersebut kita sebagai umat Katolik diajak untuk menyadari bahwa iman yang kita sembah adalah iman yang berpuncak pada diri Tuhan Yesus, adanya janji keselamatan yang datang dari Allah sendiri yang merupakan bukti cinta kasih Allah, kuasa Allah yang begitu besar kebangkitan Tuhan, mempercayai kehadiran Roh Kudus sebagai sumber kepemimpinan dalam hidup kita agar kita selalu melakukan apa yang benar dan apa yang dikehendaki oleh Allah dan adanya kehidupan kekal yang dijanjikan oleh Tuhan.

Hal yang menarik, ketika kita mendoakan Aku Percaya terdapat kalimat “Aku percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal.” Kalimat doa yang sederhana ini mungkin sebagian dari kita hanya mendaraskan begitu saja tanpa merenungkan makna yang terdalam. Tetapi pada
minggu ini, saya mengajak kita semua untuk merenungkan sedikit mendalam mengenai makna kalimat doa “Aku percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal.” Dalam surat  Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, St. Paulus mengingatkan kepada mereka “ Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah juga kepercayaan kamu.” St. Paulus ingin mengatakan bahwa kematian itu sendiri bukan akhir dari segalanya. 
Ketika kita mati, kita akan mati bersama dengan Kristus. Kristus sendirilah yang akan membangkitkan semua orang mati dan mengubah badan yang fana menjadi serupa dengan Tubuh-Nya yang mulia.

Di dalam bacaan-bacaan injil minggu ini, Gereja mengajak kita untuk mendengar kisah yang menarik di dalam Injil Lukas, dimana Orang-orang Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan datang kepada Yesus untuk mencobai Dia. Orang-orang Saduki adalah keturunan imam Zadok, dari keturunan Harun. Mereka ini adalah para imam yang menjalankan ibadat di Bait Allah di Yerusalem setelah masa pembuangan. Pada zaman Yesus mereka ini termasuk satu kelompok ningrat yang punya pengaruh besar dalam masayarakat sosial. Mereka ini dikatakan tidak mengakui adanya kebangkitan karena mereka berpegang teguh pada hukum Taurat Musa yang tidak gamblang menjelaskan tentang kebangkitan badan. Untuk itu mereka mengangkat sebuah kasus poliandri (perempuan bersuami dua). Ada seorang wanita yang menikah dengan tujuh bersaudara (perkawinan ipar), tetapi tidak meninggalkan keturunan (anak laki-laki). Pertanyaan mereka adalah, pada hari kebangkitan nanti siapakah yang akan menjadi suaminya yang sah.

Yesus dengan bijaksana tidak menjawab pertanyaan mereka tentang siapa yang akan menjadi suami wanita itu pada hari kebangkitan. Yesus berkata: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak mati lagi. Mereka sama seperti malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah karena mereka telah dibangkitkan”. Yesus kemudian mengakhiri penjelasan-Nya dengan mengatakan bahwa Allah kita bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup sebab di hadapan Dia semua orang hidup. Apa artinya ini? Hanya orang hidup dapat berhubungan dengan Tuhan Allah. Menurut Kitab Suci, Allah tetaplah Allah nenek moyang mereka setelah meninggal dunia karena Allah memelihara mereka di seberang kematian. Ini tentu mengandaikan adanya kebangkitan badan dan kehidupan kekal.

Paham kebangkitan juga kita dengar dalam bacaan pertama dari Kitab Kedua Makabe yang memberi teladan kepada kita bahwa hidup kekal itu dimulai sejak saat ini. Prinsip yang bagus adalah lebih baik mati dari pada melawan hukum-hukum Tuhan. Dengan kata lain, lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Menurut St. Paulus memahami hidup kekal sebagai kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus, dari Allah Bapa kita yang mengasihi dan menganugerahkan penghiburan abadi serta pengharapan yang baik kepada kita. Bagi Paulus, Tuhan itu setia selamanya. Satu hal yang juga penting diangkat oleh Paulus adalah doa. Jemaat mendoakan para pewarta Injil sama seperti para pewarta juga mendoakan mereka. Doa dapat menguatkan dan ada harapan bahwa Tuhan Allah yang hidup memberikan perlindungan-Nya kepada mereka yang berharap kepada-Nya.

Sabda Tuhan pada Hari Minggu ini sangat meneguhkan kita semua. Tuhan sangat baik sehingga memberi perlindungan bahkan memberikan anugerah kehidupan kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Pada minggu ini, kita disadarkan bahwa kebangkitan badan dan kehidupan kekal adalah panggilan luhur Tuhan bagi kita. Ia memiliki rencana yang indah bagi kita dan akan menganugerahkannya kepada kita pada saat maut menjemput kita. Untuk itu, kita semua memiliki waktu yang diberikan Tuhan untuk selalu siap menanti kedatangan-Nya. Semoga kita menjadi hamba yang siap untuk menyambut kedatangan-Nya, sehingga mendapat sapaan “berbahagia” dari Tuhan sendiri. Tuhan memberkati. Amin.

Penulis : Fr. Bernardus Sukma Billy Syahputra

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments