Saudara saudari yang dikasihi oleh Tuhan, pada hari Minggu Pekan Biasa ke VI kita akan mencarikehendak Tuhan lewat bacaan injil hari ini, Matius 5: 17-37 yaitu Yesus dan Hukum Taurat. Yang mengarahkan kita untuk menjadi Pribadi yang Berhikmat.
Kebebasan adalah jati diri manusia pribadi lepas pribadi. Namun yang sering terjadi adalah manusia sendiri salah mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan, manusia ingin berbuat apa saja, dimana saja dan kapan saja dengan sesuka hati sehingga aturan yang berlaku dianggapsebagai penghalang atas kebebasan tersebut.
Memang pada awal penciptaan, Allah telah memberi manusia kebebasan untuk memilih. Demikian juga Bunda Maria mempunyai kebebasan atas kehendak Bapa melalui pemberitaan malaikat. Dalam kebebasan ada norma-norma. Allah menyodorkan suatu perintah/aturan agar kebebasan manusia ditata, sehingga perbuatan manusia bisa dipertanggungjawabkan oleh manusia itu sendiri. Sebaliknya norma-norma itupun bisa berwibawa bila dijalani dan dihayati dengan kebebasan. Dengan kata lain kebebasan dan norma adalah dua hal yang saling mendukung.
Yesus adalah sosok yang sangat taat akan azas, Yusuf dan Maria sendiri sudah menumbuhkan hal itu sejak kanak-kanak Yesus yaitu adat istiadat Yahudi. Begitu pula saat Yesus mulai berkarya, Ia adalah pelaksana sekaligus pewarta kehendak Bapa dan hukum cinta kasih.
Sudah sewajarnya Yesus berkata : “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum taurat, melainkan untuk menyempurnakannya”. Maksud Kristus agar tuntutan rohani hukum Allah dapat dilaksanakan dalam kehidupan, orang yang percaya tidak boleh memandang Hukum Taurat sebagai system perintah resmi yang perlu ditaati agar memperoleh pengampunan keselamatan. Sebaliknya Hukum Taurat hendaknya dilihat sebagai panduan moral ketaatan lahiriah kepada hukum Allah, harus disertai perubahan dalam roh kita.
Apakah kita siap dan mampu menjadi pribadi yang berhikmat dalam kebebasan kita untuk menjalani aturan ataupun norma yang berlaku dalam hidup kita? Hikmat adalah kebijakan atau kearifan, yang datang dari Tuhan. Sehingga apa yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Kita dituntut untuk mau tunduk dengan penuh kerendahan hati kepada kedaulatan Tuhan. Apakah kita pernah meminta kepada Allah untuk membentuk hati kita agar bersikap benar dan adil dalam kebebasan kita?
Marilah kita hayati anugerah kebebasan kita dengan taat pada kehendak Bapa melalui norma-norma penuntun hidup kita yang ada disekitar kita yakni lingkungan hidup, dengan menjadi pribadi yang berhikmat sehingga mampu menghayati kenyataan hidup termasuk permasalahan yang kita hadapi.
Penulis : Sr. Loren, SFMA
Foto : Dokumentasi pribadi Warta Teresa