Mengubah Kekurangan Menjadi Berkat yang Berlipat

Dalam peristiwa meledaknya angka kasus COVID-19 di Indonesia menghiasi pemberitaan media, baik di tingkat nasional sampai internasional. Kasus harian di Indonesia mencapai rekor tertinggi dengan jumlah di atas 40.000 kasus.

Keadaan ini membuat pemerintah mengambil kebijakan PPKM darurat (berlaku untuk Jawa-Bali) yang diharapkan dapat menekan laju kasus COVID-19. Kebijakan PPKM ini diterapkan selama 5-26 Juli 2021. Dalam masa PPKM ini, bukan keadaan yang mudah untuk mereka yang terdampak kebijakan ini. Salah satu isi dari kebijakan PPKM adalah pengusaha rumah makan tidak melayani makan di tempat dan hanya boleh melayani pesan antar.

Bapak, ibu, saudara dan saudari terkasih,
Bagian awal dari permenungan ini memberitakan tetang keadaan yang memberi batasan gerak dengan tujuan kebaikan bersama. Bagaimana kita bisa mengkaitkan ini dengan bacaan Injil yang kita dengar?

Saat Yesus mengajar, banyak orang terkesima dengan ajaran-Nya. Mereka bersedia mengikuti kemanapun Yesus pergi, sampai mereka abai kebutuhan dasar mereka, yaitu makan. Sampai saat Yesus mengetahui bahwa orang banyak ini perlu untuk diberi makan padahal mereka berada di area yang jauh dari kota.

Hal yang bisa kita renungkan bersama adalah tindakan para murid saat Yesus meminta mereka untuk memberi makan kepada orang banyak.

Pertama, para murid tidak mengira bahwa mereka akan bertanggung jawab untuk memberi makan orang banyak. Para murid berdalih bila  mereka membeli makanan dengan uang yang mereka miliki tidak akan cukup untuk semua orang.

Kedua, para murid sadar akan batasan untuk sulit memenuhi keinginan Yesus maka mereka meminta agar Yesus menyuruh orang banyak itu pergi untuk mencari makan sendiri. Para murid menyadari bahwa ketersediaan makanan yang ada hanya cukup untuk mereka. Permenungan dari poin pertama, kita temukan bagaimana para murid mendapat permintaan dari Yesus yang melampui kemampuan mereka. Keadaan pandemi ini juga demikian, kita dihadapkan pada situasi diluar batas kemampuan kita. Saat kita menyadari bahwa ada saudara kita yang terkena COVID-19 ataupun diri kita sendiri, sampai ada yang harus kehilangan orang yang dicintainya oleh karena COVID-19 menjadikan segalanya terasa melampaui batas.

Keadaan semakin pelik dengan keterbatasan ruang perawatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan. Para murid saat mengetahui bahwa ada begitu banyak orang yang perlu diberi makan, mereka bingung dan tak bisa berpikir jernih. Hal yang sama terjadi pada kondisi kita sekarang, kebingungan dan kecemasan melanda kita.

Beberapa pihak malah menggunakan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan dengan menimbun obat-obatan dan peralatan untuk dijual dengan harga tinggi. Permenungan dari poin kedua, kita temukan dari sikap para murid yang mau lepas dari tanggung jawab untuk memberi makan dengan menyuruh orang banyak itu pergi mencari makan sendiri. Para murid berdalih bahwa setiap orang bertanggung jawab akan dirinya sendiri, maka dari itu bila mereka lapar maka carilah makan untuk kebutuhan mereka sendiri. Para murid merasa sudah nyaman karena mereka memiliki kesediaan makan untuk mereka, yaitu 5 roti dan 2 ikan.

Yesus tidak membiarkan hal itu terjadi, Ia meminta agar semua makanan yang ada diberikan kepada-Nya. Keadaan yang terjadi sekarang ini bisa seperti itu, yaitu setiap orang diminta untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Peristiwa penimbunan atas obat-obatan dan perangkat medis di masa seperti ini mencerminkan nilai ego dalam manusia begitu tinggi sampai-sampai ia abai pada keadaan sesamanya yang saat ini lebih membutuhkan.

Ibu, bapak, saudari, dan saudara sekalian,
Dua poin permenungan ini mengajak kita mengingat kembali akan tindakan Yesus yang meminta makanan yang ada. Kemudian dengan doa maka roti itu menjadi berkat yang berlimpah untuk orang banyak. Persediaan 5 roti dan 2 ikan bisa memberi makan 5.000 orang laki-laki dan tersisa 12 bakul.

Penulis injil tidak menulis persis berapa jumlah roti yang digandakan karena tujuan utama dari cerita ini adalah pemenuhan kebutuhan makan untuk orang banyak sampai tersisa. Hal inilah yang mendorong kita meneladani sikap Yesus yaitu belajar menerima keadaan dan berserah kepada-Nya.

Serahkan apa yang kita punya kepada-Nya untuk Ia jadikan berkat yang berlimpah. Untuk mereka yang sedang sakit dan berjuang maka serahkan beban ini agar kita bersama dengan Yesus sehingga tidak merasa sendirian. Untuk mereka yang sudah sembuh dan sehat, maka doronglah diri untuk memberi perhatian kepada yang sakit dalam dukungan material dan spiritual. Untuk mereka yang kehilangan, belajar untuk mempercayakan bahwa orang kita cintai sudah berada bersama dengan Tuhan.

Hal-hal demikian menjadikan kita pribadi yang tidak menahan ego semata-mata kebutuhan kita paling penting daripada orang lain. Pengalaman penggandaan roti menyentuh nilai kemanusiaan kita untuk menjadi pribadi yang mau mengasihi sesama kita, dengan berjuang bersama dalam kondisi apapun (sehat maupun sakit dan untung maupun malang). Keadaan diri yang mengasihi akan melibatkan kita bersama dengan sesama, seperti Yesus yang mengambil semua makanan yang tersedia untuk digandakan.

Pada bagian akhir dari permenungan ini menegaskan kembali bahwa dalam rencana keselamatan, bukan rencana manusia yang dipakai melainkan rencana Allah yang terjadi. Manusia boleh berusaha dan berencana namun akhirnya ia belajar berserah bahwa kehendak Tuhanlah yang kemudian terjadi.

Pandemi ini merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah dan akan bisa kita lewati selama kita mau berserah kepada Tuhan, yaitu melepas ego kita. Upaya melepas ego dengan lebih menjaga prosedur kesehatan (bukan untuk diri kita saja tetapi menjaga orang-orang di sekitar kita agar aman), berbagi kepada sesama (memberi perhatian dan dukungan kepada mereka yang menjalani isolasi mandiri), dan berdoa bersama (berjuang melewati pandemi ini dengan berjalan bersama Tuhan).

Penulis : Rm Camellus, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments