Mengenal-Mu Lebih Dekat

Saudara-saudari, kalo kita cermati berbagai peristiwa alam yang terjadi di negara kita, entah gempa bumi, tsunami, banjir bandang, banjir lumpur, angin puting beliung, dan lain-lain, dalam sekejap mengubah daerah tersebut menjadi porak poranda.

Bahkan pandemi COVID-19 yang sedang melanda dunia termasuk di negara kita tercinta. Bukan hanya harta yang menjadi korban keganasan alam, tapi ratusan bahkan ribuan nyawa pun melayang akibat peristiwa alam dan pandemi COVID-19 ini.

Kejadian-kejadian yang memilukan hati itu mungkin dapat menjadi bahan dan awal permenungan kita di masa Adven ini. Hal ini pun persis yg disampaikan Yesus dlm Injil Lukas: “akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang.”

Saudara-saudari, tak kalah penting yang mesti menjadi perhatian kita selain peristiwa alam yang terus-menerus melanda negeri kita. Tapi juga derasnya arus zaman yang melanda  seluruh rakyat kita. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa arus zaman yang kuat itu punya akibat fatal bagi kehidupan masyarakat, termasuk kita umat Katolik. Betapa tidak! Penderitaan rakyat, penggusuran, korupsi, mabuk-mabukan, pesta pora, judi, togel, narkoba, perkelaian, problem keluarga/perceraian, pembunuhan, perebutan harta/jabatan, politik mau
menang sendiri, menjegal teman sendiri, dan berbagai problem menjadi wacana hidup rakyat dan tergambar begitu jelas di depan mata kita setiap hari. Itu semua merupakan arus kuat zaman ini yang sungguh melanda kita.

Saudara-saudari, ternyata arus zaman pelan-pelan telah menggerogoti nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang menjadi soko guru umat beriman. Kepekaan pada nilai persaudaraan yang dijunjung tinggi dan yang didasari pada nilai spiritual, semakin terasa hanya sebuah tradisi yang sudah kehilangan akar budaya dan kesakralan. Nilai pengorbanan mendahulukan orang lain, mawas diri/introspeksi terhadap kesalahan, mengaku salah, melihat kebaikan orang lain,
mudah memaafkan dan minta maaf dan lain-lain, rupanya sulit kita lakukan. Singkatnya, saat ini di masyarakat kita sedang mengalami krisis moral. Sikap-sikap seperti ini pun pasti tidak jauh dari hidup kita sendiri, buktinya ketika saya mendampingi rekoleksi remaja sebelum masa pandemi, mereka mempertanyakan hal-hal tersebut,
mengapa aku sulit mengampuni? Kok aku bersikap cuek/nggak mau peduli orang lain? Kenapa aku selalu negatif pada orang lain? Anakanak remaja kita ternyata telah mulai memikirkan dan merefleksikan sikap hidup mereka. Nah, apakah dalam suasana seperti inikah kita memasuki masa Adven, masa untuk menantikan kedatangan “YESUS, IMMANUEL, SANG JURU SELAMAT” yang akan kita rayakan kelahiran-Nya??

Saudara-saudari, Paulus dalam suratnya mengingatkan kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Tuhan. Karena Paulus melihat bahwa dunia saat ini terus berusaha untuk menawarkan hal-hal yang membuat kita jauh dari Tuhan. Tawaran-tawaran dunia yang dikendalikan oleh setan ini bisa pakai siapa saja untuk menyetir manusia agar jauh dari Tuhan. Setan bisa pakai manusia untuk membujuk kita serong dari jalan Tuhan, bisa lewat anak-anak kita dan siapa saja, yang intinya mengalihkan perhatian kita pada hal-hal yang lebih duniawi, sifat-sifat buruk dan hal-hal yang negatif yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Setan itu sangat benci pada sifat-sifat baik kita.

Saudara-saudari, kalau kita sepulang dari gereja dan sudah di rumah punya niat baik mau lebih setia, mau memaafkan, mau belajar lebih rajin, dan lain-lain jika itu semua gagal kita lakukan, ingat bahwa setan/roh jahat sedang bekerja di dalam diri kita. Setan itu sedang menguasai dan mengendalikan hidup kita. Ingatlah itu strategi setan dalam bekerja.

Maka Lukas terus menasehati kita untuk “berjaga-jaga dan berdoa supaya hati tidak dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekuatiran hidup sehari-hari...” Yang dimaksud di sini adalah ajakan agar kita tidak bersikap ekstrem dengan melulu senang-senang dan tidak peduli atau sebaliknya bersikap gelisah terus-terusan dengan alasan toh akhir zaman akan datang. Dua sikap yang saling berlawanan ini bisa terjadi dalam menghadapi “zaman edan” ini.

Mengapa Lukas menasehati agar orang menjauh dari sikap tersebut? Karena dua sikap itu sama-sama menutup diri bagi kehadiran Yang Ilahi dalam kehidupan ini. Keduanya tidak memberi ruang gerak pada Roh yang diutus Yesus untuk menghibur dan menopang kehidupan sehingga orang dapat menghadapi akhir zaman dengan kuat, supaya “tahan berdiri di hadapan Anak Allah”. Jadi bagi Lukas yang terpenting dalam menghadapi prospek akhir zaman itu adalah keterbukaan kepada Tuhan yang mau menyertai kita umat manusia.

Saudara-saudari, sekali lagi Lukas menekankan kepada kita untuk tetap menjaga hati, bertobat, terus berdoa dan berjaga-jaga supaya ketika kita mengalami masalah, kita siap untuk menghadapi karena ada kekuatan Tuhan yang sudah kita jaga dalam hidup kita ini. Dengan demikian setan tidak lagi menguasai hidup kita.

Marilah di masa Adven ini, kita diajak berhimpun bersama dalam suasana kasih, berdaya bersama untuk membangun kehidupan rohani yang lebih baik sebagai perwujudan iman dan jalan menuju keselamatan berlandaskan moral kristiani. Kristus yang menjadi andalan kita telah memperjuangkan kebenaran itu dengan pengorbanan. Di tengah arus zaman ini, dalam Kristus dan bersama Kristus, kita tidak goyah.

Selamat memasuki masa Adven, Tuhan memberkati

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments