Meneladan Ibu Teresa dalam Hidup Menggereja

Seminar Spiritualitas Ibu Teresa oleh Romo T Krispurwana Cahyadi, SJ telah dua minggu berlalu, namun gaungnya masih terasa sampai saat ini. Hidup beriman: jalan kesetiaan dipilih Romo Kris sebagai tema dalam seminar ini. Tidak kurang dari 190 umat Paroki Cikarang menyimak dengan baik dari pagi sampai siang menjelang.

Seminar diawali dengan ice breaking oleh Bu Sara Rustiani, sambutan oleh Romo Antara, dilanjutkan penayangan video yang berisi quote Ibu Teresa mengantarkan umat memasuki inti seminar. Pak Bimo, sekretaris DPH bertindak sebagai moderator, setelah memperkenalkan Romo Kris selanjutnya mempersilakan Romo Kris.

Menggereja adalah menapaki kesetiaan seperti halnya Ibu Teresa dalam quotenya yang menyatakan “Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi sukses melainkan untuk setia”. Perwujudan kesetiaan sebagai murid adalah mau belajar terus menerus, berani terluka, berani  ambil risiko dan berproses, semakin memberikan diri, semakin dimurnikan dan dikuatkan. Saat kita tidak lagi mau mengambil risiko, berarti kita berhenti menjalani hidup. Hidup menggereja merupakan perubahan dinamika dari “saya” menjadi “kami”, tidak ada yang diabaikan karena yang lemah diperhatikan dan setiap pribadi yang khas punya peran masing-masing. Kita tidak lagi sebagai individu melainkan hidup berkumpul dalam satu persekutuan. Berkaca dari Ibu Teresa saat ditanya oleh para wartawan“ Apa yang harus diubah dalam gereja?” “Yang diubah adalah aku dan kamu” jawab Ibu Teresa, karena sejatinya gereja adalah suatu kisah kasih bukan suatu institusi/lembaga seperti yang dikatakan Paus Fransiskus.

Seperti halnya Ibu Teresa yang juga pernah merasakan kosong dalam hidupnya, saat beliau mengalami periode ketidakpastian dan kegelapan spiritual, karena merasa terpisah dari Tuhan. Perasaan kosong yang menunjukkan bahwa individu yang terlihat sangat kuat dan berkomitmen seperti Ibu Teresa pun dapat mengalami keraguan dan kesepian. Ini menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya dan mencerminkan kemanusiaan dari seorang tokoh yang sangat dihormati. Meskipun sangat berdedikasi untuk melayani orang miskin dan yang menderita, ia juga menghadapi tantangan emosional dan spiritual, sehingga sangat manusiawi jika kita pun juga sering mengalami kesepian, jenuh, terjebak dalam rutinitas, pelayanan bukan lagi sebagai panggilan tapi sebagai pekerjaan duniawi. Untuk itu kita perlu CORE yaitu compassion (belarasa), order (manajemen diri), respect (menghargai, dan apresiatif) dan empathy (kepekaan).

Menurut Romo Kris, Cikarang adalah Calcutta, maka mari temukanlah “Calcutta” kita sendiri, karena setiap orang dipanggil untuk menjadi seperti Ibu Teresa, untuk bekerja dengan tangan kita sendiri, menjalani hidup dengan serius dan menjadikannya sesuatu yang indah. Jangan biarkan mimpimimpi kita dirampas seperti yang diucapkan Paus Fransiskus. Dua kata kunci yang penting adalah suka cita dan belas kasih. Kita ada bagi dan bersama yang lain, jangan menutup diri dan melangkahlah ke luar, jangan kehilangan kepercayaan dan terus melangkah maju, jangan mudah menyerah tetaplah melangkah dengan berani, percaya dan hadapi keterbatasan.

Liputan dan Foto : Sherafina Reni


Post Terkait

Comments