Meneguhkan Hati Seperti Gunung Batu

Saya mengingat hari di mana saat usia memasuki 33 tahun, hari dimana saya menyerahkan diri ke rumah sakit. Hari itu sudah dijdwalkan untuk saya persiapan menjalani operasi yang memang tanggalnya sudah disepakati antara saya dengan dokter. Saat saya datang dan mendaftarkan diri untuk mulai menjalani persiapan operasi, perasaan yang mendominasi adalah rasa gugup namun tanggung karena itu hari perayaan syukur ulang tahun saya. Saat itu perayaan ulang tahun saya ke-33, usia di mana Yesus wafat.

Pengalaman ulang tahun ke-33 saya terkait dengan peristiwa Minggu Palma, perayaan Yesus dielu-elukan saat memasuki Yerusalem layaknya raja. Perasaan yang dirasakan oleh Yesus saat di sambut oleh banyak orang, tidak membuatnya menjadi pribadi yang lupa akan rencana awalnya. Bahkan Yesus memahami bahwa dengan diri-Nya masuk ke Yerusalem, maka semakin dekat dengan kematian-Nya.

Suster, bruder, ibu, bapak, dan saudara terkasih, permenungan dalam minggu ini adalah menjadi pribadi yang tetap menjadi konsisten dalam perutusan Allah. Yesus tidak segera lupa daratan atau terlena dengan sanjungan banyak orang yang mengelu-elukan dia sebagai raja. Bahkan Yesus sadar bahwa orang banyak ini juga akan membuatnya dihukum mati. Pembelajaran yang seringkali diungkap dengan pernyataan hidup itu seperti roda, ada saatnya di atas dan juga ada saatnya di bawah. Ketetapan hati untuk konsisten pada kehendak Allah menjelaskan bahwa pengikut Kristus bukan anti stress, anti miskin, dan bebas dari masalah.

Bagaimana untuk kita bisa memaknai dan mendalami sebagai pribadi yang konsisten dengan kehendak Allah. Bacaan dari Kitab Yesaya (Bdk. Yes. 50:4-7). bisa memberi kita penguatan yaitu “Setiap pagi Ia mempertajam pendegaranku untuk mempertajam pendengaranku untuk mendengar seorang murid… Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu, karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.” Kesetiaan Yesaya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang tetap memiliki semangat dan keteguhan hati. Kita akan memasuki pekan suci dimana permenungan dalam hari-hari ke depan tentang Yesus yang menyongsong kematian. Gereja menandakan warna liturgi Minggu Palma bukan dengan putih yang berarti kemuliaan Yesus sebagai raja melainkan dengan merah yang berarti penderitaan Yesus saat masuk sebagai raja walau disambut sebagai raja.

Pada akhirnya, Minggu Palma ini mengajak untuk kita kembali memantapkan hati dalam menjalani pekan suci di tahun ini sebagai bentuk pertobatan yang meneguhkan langkah kita dalam berjalan bersama Tuhan. Perjalanan yang mengajarkan untuk kita teguh sehingga pandangan dan tindakan kita fokus pada Tuhan. Kontekstualisasinya adalah penerimaan dan pengakuan diri sebagai anak-anak Allah yang sadar untuk menghargai martabat manusia.

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi prbadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments