Selama dua tahun masa pandemi membuat masyarakat menahan diri untuk mudik. Tahun ini, dimana keadaan sudah lebih baik, pemerintah mengijinkan masyarakat untuk mudik. Kesempatan ini tentunya tidak diabaikan oleh masyarakat, karena mereka merindukan momen untuk berkumpul dengan anggota keluarga di kampung halaman.
Arus warga yang mudik berlaku umum karena pemerintah menetapkan cuti bersama selama satu minggu. Anak sekolah pun turut merasakan libur Lebaran sampai tanggal 9 Mei 2022. Sehingga momen libur Lebaran dan cuti bersama merupakan momen sebagai liburan bersama yang tidak eksklusif satu golongan saja. Denyut kesibukan kota besar Jakarta dan Bekasi merasakan dampaknya dengan jalan-jalan yang lenggang ditinggal warganya mudik, sedangkan warga yang tidak mudik memilih untuk berlibur di tempat-tempat wisata.
Kebahagiaan Lebaran tahun ini tentunya akan sangat berbeda dengan keadaan tahun sebelumnya dimana ada pembatasan keadaan arus keluar kota karena larangan mudik dan tempat wisata dibuka dengan penerimaan jumlah pelanggan terbatas dan prosedur kesehatan yang ketat.
Dengan pengantar dari kondisi tersebut, maka pertanyaan awal untuk direfleksikan adalah kebahagiaan masyarakat untuk mudik tahun ini terjadi karena mereka taat pada anjuran pemerintah atau karena kerinduan yang tak terbendung untuk bercengkerama denganorang dikasihi?
Suster, Bruder, ibu, bapak, dan saudara/i terkasih,Bacaan Injil dari Yohanes yang kita dengar pada hari ini adalah tentang gembala dan dombanya. Dalam pengantar dari permenungan ini kita melihat tentang kebijakan pemerintah untuk mudik terkait antara pemimpin dengan rakyatnya. Pemimpin yang baik akan mengusahakan yang terbaik untuk rakyatnya dan rakyat juga tahu siapa pemimpinnya. Maksud dari pemimpin mempersilahkan atau menahan diri untuk mudik memiliki tujuan kebaikan bersama. Hal demikian terjadi untuk mereka yang percaya pada ucapan Yesus, ”Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti aku” (lih. Yoh. 10:27). Yesus memberi penekanan untuk mereka yang mendengar suara-Nya akan mendapat jaminan akan mendapat perlindungan dari diri-Nya sebagai gembala baik.
Poin permenungan yang bisa kita dalami bersama tentang perjalanan iman adalah suara siapa selama ini kita dengar? Suara yang kita dengar inilah yang kemudian kita yakini yang melindungi kita dan kita ikuti. Yesus menegaskan dalam perkataan-Nya, “mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-selamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku” (lih. Yoh. 10:28).
Dalam hal ini bisa saja suara yang dimaksud adalah suara Tuhan, hanya saja dalam perjalanan hidup tidak serta merta menjadikan suara itu selalu jelas untuk didengar atau tidak seperti yang kita ingin dengar. Kita bisa mendapatkan suara yang tegas menegur kita atau meminta kita untuk menahan diri (seperti dalam pengantar yang kita dengar kebijakan pemerintah untuk menahan diri untuk mudik sebagai upaya menahan angka persebaran COVID-19). Benarkah kita yakin bahwa memang suara Tuhan yang ada dalam kita seperti yang dikatakan-Nya bahwa kita akan ikut denganNya atau justru mengabaikan- Nya demi kemauan kita sendiri?
Dengan demikian dalam kesempatan ini saya menekankan pada kejernihan diri kita untuk kembali mendengar suara nurani dalam diri kita. Suara yang sudah kita kenal dan percaya sebagai suara kebenaran. Suara yang menandakan bahwa Allah berdiam diri kita dan memberi hidup dalam diri kita. Allah yang berdiam kita seperti perkataan Yesus sendiri dalam hubungan dengan Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (lih. Yoh. 10:30).
Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr
Gambar : Dokumen pribadi Warta Teresa