Memikul Salib Kita

Ada tiga orang pemuda yang diberi tugas oleh Yesus untuk memikul salib yang sangat berat menurut ukuran mereka menuju puncak sebuah bukit. Disana Yesus berjanji akan menjemput mereka ke surga.

Di tengah jalan ketiga pemuda itu melihat gergaji. Pemuda pertama mulai berpikir dan menghasut kedua temannya untuk memotong salib agar lebih ringan tetapi kedua temannya tidak menerima usul itu, karena mereka taat dan mengasihi Yesus, sehingga membuat mereka dengan rela dan mau memikul tanggung jawab yang Yesus sudah berikan tanpa keluhan.

Pemuda pertama dengan semangat memotong salibnya, sehingga dengan mudah ia mendahului kedua temannya. Sampai di puncak ia melihat sebuah jurang yang teramat lebar memisahkan puncak bukit itu dengan gerbang surga. Di seberang jurang telah terlihat malaikat Tuhan yang sedang menunggu mereka. Dengan semangat ia bertanya jalan mana yang harus ia lalui untuk sampai ke seberang. Malaikat menjawab “Yesus telah sediakan jalan itu”. Pemuda itu sangat bingung karena tidak melihat jalan yang dimaksud malaikat itu.

Tidak lama kemudian dengan nafas yang terengah-engah pemuda kedua dan ketiga sampai di
puncak, mereka menanyakan hal yang sama dan mendapat jawaban yang sama. Dengan diilhami Roh Kudus mereka mengerti bahwa salib yang mereka bawa sebagai jembatan untuk menyeberang. Mereka meletakkan salib itu dan mulai menyeberang, sedangkan pemuda pertama nampak sedih dan menyesal karena salib yang ia bawa sudah tidak berfungsi, namun dipikirnya ia bisa meminjam salib kedua temannya untuk menyeberang. Hal yang diharapkannya tidak terwujud karena selesai temannya menyeberang, salib itu hilang.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, sering kita berpikir bahwa salib kita sangat berat. Apalagi dalam masa pandemi ini, terkadang kita seperti pemuda pertama yang mencari jalan pintas dan memotong salib itu dan kita tidak berusaha untuk memikulnya. Tetapi dalam Injil hari ini Mrk 8:34 sebagai orang Kristen Yesus memberi syarat bagi kita untuk mengikut Dia :
• Menyangkal diri = Tidak mementingkan diri sendiri/egois
• Memikul Salib = Rela berkorban
• Mengikut Dia = Meniru dan menyerupai Dia

Dan hari ini kita mengusung tema “Memikul salib kita”. Yesus telah memberi teladan bagi kita dalam memikul salib. Yesus sebagai Anak Allah yang memiliki kuasa, yang dapat menyembuhkan, mengusir roh-roh jahat, membangkitkan orang mati, menggandakan roti dan sebagainya, memikul salib-Nya ke gunung Kalvari puncak Golgota.

Bahkan dalam perjalanan-Nya Yesus jatuh sampai tiga kali, tetapi Yesus tetap bangkit dan menyelesaikan misi-Nya di dunia ini. Secara logika jika Yesus mau Dia tidak perlu memikul semua karena bagi Yesus tidak ada yang mustahil. Semua itu dilakukan Yesus karena Ia taat kepada Bapa dan mengasihi Bapa.

Dia tidak hanya menerima apa yang baik dari Bapa tetapi juga meminum cawan penderitaan. Bahkan Nabi Yesaya telah bernubuat dalam bacaan pertama tentang apa yang akan dialami Yesus dan Yesus dengan rela menganggungnya dan menunjukkan cinta-Nya.

Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana dengan kita? Kita semua memikul salib di dunia ini dengan cara yang berbeda-beda. Apakah kita tetap bertanggung jawab dan memikulnya atau malah kita selalu protes dan mengeluh kepada Tuhan?

Dalam memikul salib itu Yesus memberi kebebasan kepada kita. Ia telah memberi jalan, tetapi akan banyak tantangan, godaan dan tawaran yang menarik untuk sampai kepada tujuan. Seperti ketiga pemuda itu yang menemukan gergaji.

Pilihan tetap di tangan kita, tetap mengasihi Tuhan dan setia memikul salib atau ....??? Jadi saudari dan saudara yang terkasih, pesan Yesus hari ini untuk kita :
- Jangan melepaskan salib demi kebahagiaan semu ➡ pindah agama, jabatan dll.
- Tuhan membantu memikul beban kita ➡ Jangan menggenggam masalah baik masalah keluarga, pekerjaan dan sebagainya.
- Jangan katakan kepada Tuhan “Aku punya masalah besar”, tetapi katakanlah “ Hai masalah besar aku mempunyai Tuhan yang Mahabesar”.
- Jangan memikul beban kita sendirian karena kita tidak akan mampu, pikullah beban bersama Yesus. Beri Yesus ruang untuk bekerja dalam kehidupan kita, serahkanlah persoalan kita kepada- Nya maka Ia akan bertindak dan memberi kelegaan.

Yesus membutuhkan kesetiaan kita dan jangan mudah untuk menyerah hidup butuh perjuangan. “jika kita berjalan dalam terowongan yang sangat gelap jangan meminta kepada Tuhan secercah cahaya tetapi letakkanlah tangan dalam genggaman-Nya maka Ia akan menuntun kita sampai pada tujuan.

Tuhan Yesus memberkati. Amin

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments