Membangun Kesadaran Tubuh sebagai Bait Allah lewat Kebiasaan Doa Bersama dalam Keluarga

Selalu terbawa dalam hati dan kehidupan adalah bagaimana Tuhan hadir dalam hatiku melalui kebiasaan doa-doa keluarga. Jam 12.00 siang ayah biasa memanggil dan mengumpulkan anak-anak dan ibuku; lalu kita berdiri di ruang tamu berkeliling menghadap jendela yang terbuka mendoakan Doa Malaikat Tuhan yang dipimpin oleh ayah. Malam hari setelah makan, ayah duduk di kursi dan anak-anak duduk di lantai dengan alas tikar mendengarkan cerita dan dongeng-dongeng. 

Cerita-cerita baru dan hal baru selalu disampaikan. Cerita dari koran yang selalu ayahku baca setiap hari membuat kami tidak terasing denga apa yang terjadi di sekitar; ada cerita fabel (cerita tentang binatang) yang memberikan inspirasi pegangan berperilaku, solidaritas, kasih dan kecerdikan bagi anak-anak; atau pun cerita dari Kitab Suci yang kemudian dipraktekkan bersama.

Dengan gaya cara bercerita yang menarik, anak diminta berperan sebagai tokoh-tokoh dalam Kitab Suci seperti Abraham, Ishak yang dikorbankan dan tindakan malaikat. Di ujung cerita, ayah mengajak untuk doa  malam bersama. Masing-masing anak mendapat giliran mendoakan doa Salam Maria pada doa malam tersebut. Ibu yang ikut mendengarkan dongeng di doa malam selalu menutup dengan doa penyerahan kepada Bunda Maria.

Kebiasaan doa dalam keluarga membuat tubuh dan pikiran semakin hening setelah seharian beraktifitas. Berkumpul untuk berdoa bersama membuat kami makin saling memperhatikan,
saling mengasihi dan peduli. Ketika ada yang terlihat mengalami gejala-gejala tubuhnya sakit, maka akan terdekteksi lebih dini. Demikian ayah ibu dan saudara-saudariku bisa mengetahuinya lebih awal. Kebiasaan doa dalam keluarga itu ternyata juga menuntun kesadaran untuk menjaga kesehatan, kebersihan dan kebiasaan baik yang lain. Tidak jarang ayah lalu membelikan minyak ikan untuk anakanak agar diminum bagi pertumbuhan otak dan kesehatan. Demikian pula ketika terdeteksi ada yang cacingan, anak-anak harus minum obat cacing lebih dini. Kepedulian satu sama lain juga semakin tumbuh. Kesadaran tubuh sebagai bait Allah tumbuh dalam kebiasaan bersama, lingkungan terdekat dalam kehidupan.

Doa bersama dalam keluarga ternyata menambah imunitas dan kesehatan sekaligus membuat nyaman, menanamkan nilai iman mengalir dalam kehidupan sehari-hari untuk bersaksi. Misalnya untuk bersaksi seperti teladan ibu yang selalu menyerahkan segala sesuatunya kepada Bunda Maria.

Bersaksi dari pengalaman ayah yang rajin membaca dan berbagi tip-tip mengatasi kesehatan seperti ambeien dan gejala penyakit lainnya dengan senam dan gerakan-gerakan sederhana yang terinspirasi dari bacaanbacaan koran. Bersaksi juga tidak membuat anakanak takut untuk beriman, melihat perbedaan di sekolah. Peduli dan bersaksi dalam menjaga diri dan kesehatan mengalir dari semangat kebiasaan doa bersama dalam keluarga, yang menjadi bagian kepribadian dan iman anak-anak yang mensyukuri hidup dan terus bersukacita dalam
iman. Melalui kebiasan kumpul bersama dalam doa keluarga, anak-anak belajar memberi ruang ruang Tuhan hadir dan singgah serta tinggal di kedalaman hati dan pikiran anak-anak. Melalui kebiasaan kumpul dan doa bersama dalam keluarga, kesadaran bahwa tubuh dan diri adalah Bait Allah tumbuh semakin kuat dan dipraktikkan secara konkrit dalam kehidupan.

Penulis : Tasya

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments