Memanusiakan Sesama melalui Kerja

Kerja merupakan kegiatan yang dilakukan hampir oleh semua orang. Kehidupan seseorang setiap harinya banyak diwarnai dengan aktivitas kerja. Untuk kerja, orang harus berangkat bekerja pagi-pagi dengan kendaraan sendiri, atau dengan angkot, bus maupun kereta. Jam lima pagi para pekerja udah harus berangkat menuju tempat kerja, baik itu di industri maupun perusahaan tempat bekerja. Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa yang terletak di kawasan industri, pabrik-parik dan perumahan tentu merasakan suasana dinamika kerja seperti itu. Kegiatan rutin seringkali harus dilakukan di dalam kerja. Wirausahawan kecil atau besar, mereka juga berkarya dengan usahanya sendiri atau bersama orang lain. Kerja dengan aneka hasil dan kegiatan sesuai bidangnya merupakan kegiatan memanusiakan diri dan memanusiakan manusia-manusia lainnya. Memanusiakan diri, karena dengan bekerja manusia wewujudkan pikiran-pikirannya ke dalam kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
bagi dirinya, keluarganya dan orang lain. Orang yang tidak bekerja sering dianggap rendah karena belum bisa merealisasikan diri sesuai dengan martabatnya atau sering dianggap sebagai belum dewasa, belum bisa berdiri sendiri.

Dalam bahasa Jawa terdapat ungkapan “durung mentas”. Kerja pada saat yang sama juga menjadi simbol, status  yang disandang oleh seseorang sehingga sesorang dihormati dan dihargai. Oleh karena itu dengan kerja sebenarnya manusia melaksanakan diri sesuai dengan martabat kemanusiaannnya.

Melalui kerja manusia melaksanakan dirinya, mewujudkan pikiran, cita-cita dan kebebasan diri melalui aktivitas untuk menghasilkan sesuatu. Melalui pekerjaan seseorang sebenarnya sedang menghargai dirinya, sedang mensyukuri anugerah Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatannya, sedang menjadi diri dan memaknai hidupnya.

Memanusiakan sesama melalui kerja berarti memperlakukan orang lain atau pekerja sesuai dengan martabat kemanusiaannya. Menghargai, memberikan apresiasi, membuat orang lain merasa lebih penting adalah kegiatan memanusiakan sesama. Manusia dianugerahi pikiran, kebebasan dan martabat yang tinggi sebagai gambar dan rupa Allah atau imago Dei (Bdk Kej 1:26). Memaki-maki, fitnah, ekspoitasi pekerja tanpa upah layak, bullying adalah perbuatan buruk yang tidak memanusiakan sesama, dan harus dihindari oleh setiap orang beriman. Berbuat baik kepada mereka yang terbuang, tidak diperhatikan dan tersingkirkan adalah tindakan memanusiakan sesama. Yesus dalam Luk 17:11-19 memberikan contoh bagaimana Yesus memanusiakan orang Samaria yang dianggap orang buangan dan direndahkan; namun Yesus bahkan menyembuhkan dan memuji sikap terima kasihnya. Orang yang dimanusiakan akan merasa lebih penting, lebih bahagia, lebih dihargai dan dicintai.

Sikap berbela rasa, sikap peduli, sikap terlibat dan berpihak kepada orangorang miskin, para penganguran, difable dan tersingkir merupakan sikap iman yang menuntun pada kegiatan kerja yang memanusiakan. Contoh paling nyata dalam hidup modern adalah Santa Teresa dari Kalkuta yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang-orang paling miskin di Kalkuta.

Kerja memanusiakan manusia menjadi bentuk kemartiran, kesaksian hidup dan karya kerasulan masa kini yang membuat setiap orang merasa lebih bersyukur dan dihargai di dalam kehidupannya. Upaya para millenial membangun start-up atau perusahaan rintisan untuk menciptakan lapangan kerja baru merupakan hal mulia sebagai wujud iman untuk memanusiakan diri dan sesamanya. Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Laborem Exercens artikel 25, menegaskan bahwa kerja itu sebagai partisipasi dengan Sang Pencipta. Melalui kerja berlandaskan motivasi iman dan ajaran Gereja, buah-buah kebaikan yang dihasilkan akan membuat sesama semakin dicintai, diterima, dihargai dan merasakan besarnya kasih setia Tuhan.

Penulis : Andreas Yumarma - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments