Melalui BKSN 2020, Mari Mengamalkan Semangat “Engkau adalah YESUS Bagiku”

Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar." (Luk 4:36)

Bulan September ditetapkan oleh Gereja Katolik di Indonesia menjadi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Bukanlah suatu kebetulan jika perikop Injil dari bacaan liturgi harian pada tanggal 1 September 2020 lalu diambil dari Injil Lukas 4:31-37.

Di dalam perikop Injil tersebut, dikisahkan setelah Yesus ditolak di Nazaret, tempat Ia dibesarkan, Ia lalu pergi ke Kapernaum, yang menjadi lokasi tempat dimana Yesus banyak melakukan karya-Nya, dan mulai mengajar di sinagoga pada hari Sabat. Orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya menjadi takjub karena Ia mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat (bdk Mrk 1:22; Mat 7: 28-29). Dan sejak itu tersebarlah berita tentang Dia kemana-mana di daerah itu.

Bulan Kitab Suci Nasional digagas dalam rangka membuka pintu yang semakin lebar kepada Kitab Suci kepada seluruh umat seperti yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Dei Verbum (Sabda Allah). Sebelum Konsili Vatikan II, seolah-olah Kitab Suci hanya boleh dibaca oleh para rohaniwan tertahbis, dan umat hanya mendengar Kitab Suci yang dibacakan. Setelah Konsili Vatikan II ini mulailah dilakukan berbagai penyebaran Kitab Suci melalui penterjemahan, percetakan dan upaya lain untuk membuka pintu yang semakin lebar untuk umat kepada Kitab Suci. Lalu sejauh mana saya dan anda sudah memasuki pintu yang
semakin lebar ini?

Kitab Suci, meski sudah berusia ratusan tahun, namun tetap menjadi “buku” yang tetap dicetak ulang hingga saat ini di berbagai belahan dunia dan juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Tentu tujuannya adalah agar pesan Tuhan yang tertuang dalam Kitab Suci itu dapat sampai, dimengerti dan dapat menjadi pedoman dan pegangan iman bagi para pembacanya, yang berarti membuka pintu semakin lebar kepada umat.

BKSN 2020 di Keuskupan Agung Jakarta mengambil tema “Menjadi Saudara yang Adil di Masa Pandemi”. Dan dalam BKSN 2020 kali ini, seluruh umat  KAJ diajak untuk selain memahami pesan Kitab Suci sesuai tema yang diberikan, juga dapat membangun  niat dan tindakan nyata mengamalkan Pancasila dengan berlaku adil dan  berbela rasa bagi yang kecil, miskin, lemah, difabel dan terpinggirkan. Di Paroki Cikarang, melalui kegiatan sosialisasi materi BKS KAJ 2020 ini, team Seksi Kerasulan Kitab Suci Paroki menawarkan pendekatan ulasan temamelaui pengamatan teks Kitab Suci itu sendiri dan melalui pengamatan peristiwa
sehari-hari yang ada di sekitar umat dan lingkungan. Pengamatan itu diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk dapat memahami dan menjadikan Sabda Tuhan sebagai pedoman
dan peggangan iman dalam tindakan nyata.

Sosialisasi BKSN Paroki Cikarang
diikuti oleh 69 orang melalui Zoom dan 26 orang melalui Youtube

Yang menarik dari persiapan dan pelaksanaan sosialisasi materi BKS KAJ 2020 ini, adalah sharing dari fasilitator lingkungan yang mempunyai komitmen untuk memulai membaca Kitab
Suci dengan memperhatikan juga pada perikop yang sejajar dan catatan kaki yang ada dalam perikop Kitab Suci tersebut. Ya, melalui BKSN ini kita diajak untuk berani lebih “eksplore/menjelajahi” Kitab Suci yang kita baca sehingga kita dapat memahami konteks dan akhirnya menjadi takjub akan pengajaran-Nya.

Di samping itu ada juga sharing dari tim yang membantu membuat contoh video Kitab Suci 7 menit yang akan dilombakan di tingkat Paroki dan KAJ yang mengatakan: “Ayat itu sampai sekarang masih terngiang di telinga saya.” Ya, melalui BKSN ini kita diajak untuk menjadikan
pesan Kitab Suci menjadi pedoman dalam kita mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Akhir kata, mari kita bersama-sama menjalani pertemuan lingkungan selama Bulan September, Bulan Kitab Suci Nasional ini, meski melaui online atau melalui pertemuan dalam lingkup keluarga agar kita semua semakin mencintai Kitab Suci, mencintai Sabda Tuhan, takjub mendengarkan pengajaran-Nya. Dan pada akhirnya, dalam masa pandemi ini, kita semua diajak menemukan Yesus dalam diri orangorang yang kecil, miskin, lemah, difabel dan terpinggirkan (bdk. Mat 25:40). Kita semua diajak mengamalkan semangat “Engkau adalah YESUS bagiku”

Liputan : Nandi Julianto

Foto : Nandi Julianto

Ilustrasi gambar : Keuskupan Agung Jakarta


Post Terkait

Comments