Maria Dimuliakan Segenap Tubuh dan Jiwa

Dormisi Bunda Maria
Sejak abad ke-6 Gereja-gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental serta KatolikTimur mulai menjadikan perayaan besar peristiwa “dormisi Bunda Allah”. Gereja memperingati “tertidurnya” atau kematian Maria sang Bunda Allah (Theotokos) dan sekaligus kebangkitan ragawinya untuk dimuliakan bersama Yesus, Putera Maria. Peringatan ini jatuh pada tanggal 15 Agustus, atau pada hari Minggu yang mendekati penanggalan itu.

Dogma Bunda Maria Diangkat ke Surga
Dogma keempat tentang Maria, diumumkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 Nopember 1950, berjudul Munificentissimus Deus (Allah yang bermurah hati). Bapa Paus menyatakan, bahwa “…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah : bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (MD 44)

Tulisan para Bapa Gereja maupun tulisan suci lainnya, memberi kesaksian tentang peristiwa iman ini. Santo Yohanes Damaskus (676-754), di abad keenam menulis bahwa walaupun Maria wafat diantara para Rasul, ketika kuburnya dibuka, ternyata telah kosong. Oleh sebab itu para Rasul berkesimpulan bahwa Bunda Maria telah diangkat ke surga. Berawal dari hari peringatan
Maria, maka sejak abad ke delapan Gereja mengabadikannya sebagai Hari Raya Maria diangkat ke Surga, dan sejak saat itu menjadi Pesta Besar di beberapa negara, bahkan menjadi hari libur nasional (https://opusdei.org/en/ article/life-of-mary-xix-dormition-and-assumption/).

Warta Alkitabiah – Iman Gerejani
Gereja tetap berpegang pada iman bahwa Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada Gal 4:4, dimana dikatakan, “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan, Allah dengan kemahakuasaan-Nya, memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.

Bunda Maria sejak semula dipersiapkan (Dogma Maria dikandung tanpa noda dosa), untuk melahirkan Yesus, dan selama hidupnya tidak bercela. Maria tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, maka setelah wafatnya, tubuhnya tidak terurai menjadi debu. Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, karena dengan mengandung Yesus ia menjadi tempat kediaman Sabda Allah yang menjadi manusia.

Sang Roti Hidup dikontraskan dengan tabut Perjanjian Lama yang isinya kitab Taurat Musa dan roti manna. Maka Bunda Maria mengalami persatuan dengan Yesus. Mzm 132:8, mengatakan, “Bangunlah ya Tuhan, dan pergilah ketempat perhentian-Mu, Engkau beserta tabut kekuatan-Mu.” Dan dalam Perjanjian Baru tabut ini adalah Bunda Maria. Bunda Maria-lah juga yang disebut sebagai ‘permaisuri berpakaian emas dari Ofir (Mzm 45:10,14).

Hal ini sejalan dengan penglihatan Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu 12:1, dan tentu, Luk 1:28, 42, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau, diberkatilah engkau di antara semua perempuan. Kisah Kitab Kejadian (3:15) tentang seorang perempuan (Maria) dan keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis, sebagai kemenangan atas dosa dan maut (Rom. 5-6, 1 Kor. 15:21-26;54-57), dimana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor. 15:54).

Bahwa pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis (dan kuasanya, yaitu maut, Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (Rom 5-6, 1 Kor 15: 21-26;54-57), dimana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54).

Nubuat Simeon (Luk.2:35), bahwa sebuah pedang akan menembus jiwanya. Bunda Maria sebagai purwarupa (prototype) bagi manusia, Maria-lah yang pertama menderita bersama Kristus, maka sekarang dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (bdk.Rom.8:17). Lebih dari itu, Bunda Maria adalah Bunda Allah dan Bunda Gereja. Maria dipermuliakan oleh Anak Tunggal-nya; dan melalui Maria, kita pun akan dipermuliakan oleh Yesus Sang Kepala Gereja.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments