Rasul Paulus mengawali tema “Kemerdekaan Kristen” dengan menulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan”. Paulus mewartakan status hidup baru sebagai pengikut Kristus. Pernyataan ini menjadi penegasan kembali pewartaan Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia sejak awal.
Jemaat Galatia dikenal sebagai jemaat yang berlatarbelakang bukan Yahudi. Paulus memusatkan perhatiannya kepada mereka. Timbul pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan demikian hubungan manusia dengan Tuhan menjadi baru.
Kepercayaan kepada Kristus membebaskan manusia dari belenggu. Sikap dan keputusan hidup untuk mengikut Kristus mengubah kiblat lama, meninggalkan keterikatan lama dan seutuhnya hanya kepada Kristus. Injil hari ini menulis “…Yesus berkata: Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Luk.9:62). Penginjil Lukas mencatat kata-kata ini sebagai jawaban atas sikap ‘bersyarat’ dari orang yang mau mengikuti Yesus. Sikap dan hidup baru bersama Tuhan membuat manusia semakin terbuka, menemukan arah hidup yang jelas. Semua yang ada bukan lagi menjadi ‘kepunyaan’ yang harus dipertahankan bagi kepentingan diri sendiri, sebaliknya semua yang ada dioptimalkan dan dibagi untuk kepentingan orang banyak.
Akhirnya ada tiga tema yang dapat ditarik dari bacaan-bacaan hari ini, yakni Sikap Baru terhadap Hukum, Sikap Baru terhadap Manusia & Keluarga dan Sikap Baru terhadap harta milik. Hukum dan tradisi hidup sosial haruslah membantu manusia untuk semakin menghayati Roh Kristus sebagai Hukum Baru, yakni hidup Kristus itu sendiri. Manusia dan keluarga mendapatkan porsi dan peran baru dalam Kristus. Keluarga dan sesama menjadi wadah baru untuk menghayati hidup Kristus, karena ada relasi ‘Kristus’-iani dalam hidup relasional kita satu sama lain, maka kita menyebutnya sebagai ‘hidup kristiani’. Akhirnya, segala sesuatu yang menyangkut ‘kepemilikan’ mendapatkan arti yang baru, yaitu anugerah dari Tuhan bagi kita untuk dioptimalkan dalam melayani orang banyak di sekitar kita. “Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal.5:13).
Penulis : Bruno Rumyaru
Foto : Dokumentasi Pribadi Warta Teresa