Kita Dilahirkan untuk Hidup yang Penuh Harapan - Harapan Pudar, Kini Berseri

Mungkin kita sudah lupa. Kita lupa rasanya menjadi bayi. Namun, satu hal yang kita semua pasti setuju adalah, ketika bayi, apalagi di dalam kandungan, kita semua tidak merasakan kesakitan apa-apa. Namun setelah umur semakin bertambah, semakin banyaklah kita mengalami penderitaan. Kita menjadi sadar akan situasi-situasi yang tidak mudah. Kerap menghadapi berbagai persoalan itu, harapan kita menjadi pudar. Kita kehilangan pengharapan.

Namun bukankah kita punya Tuhan Yesus Kristus yang mengajarkan kita untuk berharap? Dalam Bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus yang bangkit mengingatkan Tomas demikian, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Dari sini kita dapat memaknai ajakan Yesus sebagai ajakan untuk terus percaya, terus memiliki pengharapan pada Yesus sekalipun kita belum melihat langsung bukti-bukti.

Lantas pengharapan macam apa yang dimaksud Yesus? Saya mencoba menawarkan dua poin yang semoga membantu permenungan kita. Pertama, kita akan melihat Bacaan Injil  secara lebih luas. Apakah kita sadar bahwa Tomas, pada awalnya, tidak berada di dalam komunitas, tidak bersama dengan rasul-rasul yang lain? Itulah sebabnya ia sulit percaya. Setelah Tomas berada bersama yang lain, barulah kebangkitan Yesus sungguh-sungguh ia imani. Jadi pada poin pertama ini, kita bisa belajar dari Tomas. Kalau kita berada jauh dari komunitas, dari persekutuan dengan umat beriman lainnya, ada bahaya bahwa kita akan mengalami kesulitan-kesulitan mengimani Yesus, apalagi berharap kepada-Nya. Janganjangan kita akan sulit menerima kebangkitan Yesus yang menawarkan harapan baru bagi kita. Maka, kita pun diundang untuk membangun persaudaraan dengan baik. Bukan agar kita menjadi kumpulan eksklusif, tetapi agar kita dapat saling menguatkan iman dan harapan akan Yesus.

Selain dari segi komunitas, hal yang menarik pula adalah bahwa Minggu II Paskah, secara khusus, dibaktikan bagi Kerahiman Ilahi. Apa maksud Gereja? Secara sederhana, Kerahiman Allah adalah iman akan Allah yang begitu mencintai kita, bahkan melampaui dosa-dosa kita. Sekarang… bukankah kita, sekurang-kurangnya saya, mengakui bahwa dalam hidup, aku pernah sangat keliru dan bahkan berdosa berat? Dan di saat itu, bukankah kita kerap bertanya, “Tuhan masih mau mengampuni saya gak ya?” Melampaui semua itu, hanya kalau kita punya keyakinan akan Allah yang Maharahim, kita dapat kembali berharap. Kita tidak lagi terpuruk karena gelapnya dosa kita. Sebaliknya, kita punya pengharapan kembali. Dosa lama kita sudah disalibkan bersama salib Kristus dan kita akan bangkit bersama Kristus.

 Dengan permenungan ini, semoga harapan kita menjadi sungguh-sungguh kokoh dan berbuah. Pengharapan kita, kita sandarkan pada Yesus yang bangkit. Selanjutnya, kita perlu sadar bahwa persekutuan dapat sungguh berarti dalam pertumbuhan iman. Lebih dari itu, jangan lupa juga akan Allah yang Maharahim yang begitu mencintai kita. Ia mampu mengangkat kita dari situasi paling buruk, di saat semua jalan terasa tertutup. Dengan ini, tepatlah kata-kata Petrus dalam suratnya, “Kita dilahirkan untuk hidup penuh pengharapan”. Kalau kita sungguh percaya akan Yesus yang mencintai kita, kita semestinya bersukacita, berpengharapan.

 Penulis : Fr. Jason Mikhael Summakwan

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments