“..Kerajaan itu seumpama biji sesawi….. Memang biji itu yang paling kecil …”

Liturgi di hari Minggu, 13 Juni 2021 merupakan Hari Minggu Biasa ke XI setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di penghujung lingkaran masa Paskah mengikuti Kalender Liturgi 2021 Tahun B/I. Liturgi masa khusus itu merayakan hakekat misteri hidup kristiani kita sebagai pengikut Kristus. Gereja merayakan inti sari hidup beriman kita, yakni, kasih karunia dan segala berkat rohani dari surga untuk kita sejak semula dalam Kristus. “Sebab di dalam Dia, dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian” (Ef.1:7-8). Tubuh dan Darah Kristus menjadi bekal perjalanan hidup kita di dunia ini.

Masa Biasa dengan warna liturgi hijau melambangkan kehidupan konkrit. Hidup Kristiani di dunia dihayati sebagai Kerajaan Allah, “.. Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi” (Mrk.4:31), seperti yang dibacakan dalam Injil di permulaan Masa Biasa dalam liturgi gereja kita. Masa Biasa menggambarkan dinamika hidup kita sebagai pengikut Kristus dengan segala tantangan dan kesulitan yang dihadapi, bagaikan perjalanan-hidup di padang gurun. Ada beberapa point yang pantas menjadi perhatian kita di tengah ‘padang gurun’ kehidupan ini.

Hidup itu Anugerah
Hidup sebagai pengikut Kristus adalah hidup bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya. Keberadaan ini melulu merupakan anugerah-karunia dari Tuhan sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”(Yoh.15:16-17). Maka tugas dan kewajiban kita adalah mengucap syukur atas keberadaan dan buah-buah kehidupan yang kita dapatkan, apapun bentuknya. Hidup itu milik Tuhan yang harus dijaga, dipelihara dan diperdayakan, hidup itu bukanlah milik kita untuk disia-siakan, apalagi dirusak atau dimatikan. Tuhan sendirilah yang mengawalinya. “…Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas” (Yeh.17:22)

Hidup itu “Potential” dan “Dinamis”
Anugerah Tuhan haruslah dihayati bukan sebagai ‘hasil akhir dan selesai’. Kehidupan dari Tuhan berbentuk ‘potentia’ atau potensi, yakni “kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya” (KBBI). Yesus menggambarkan Kerajaan Allah seperti ‘biji sesawi’, biji yang paling kecil dan mengalami pertumbuhan (bersifat dinamis). Sesawi meruapakan simbol dari ketekunan dan komitmen. Pertumbuhan sesawi menunjukkan bahwa potensi sekecil apapun bisa menjadi besar apabila ditekuni dengan penuh komitmen. Setiap pengikut Kristus perlu tekun mengembangkan potensi- potensi kita. Kita perlu mengasahnya terus-menerus sampai mencapai titik maksimal. Ketekunan juga berarti bertahan dalam tantangan dan tekanan. Orang tekun selalu berusaha mengatasi
masalahnya. Ketekunan selalu mengisyaratkan komitmen.

Hidup Kristiani bersifat Unitatif, Inklusif, dan Dedikatif
Karakteristik Kerajaan Allah di dunia seperti diwartakan dan dirayakan secara internal dalam tubuh Gereja, ataupun menjadi pewartaan dan kesaksian di tengah masyarakat luas sekurang-kurangnya bersifat unitatif, inklusif dan dedikatif. Kehidupan orang pengikut Kristus haruslah rendah hati, tidak angkuh dan primordialistis. Pengikut Kristus yang sejati senantiasa melihat dirinya dalam kebersamaan dengan orang lain, kehidupannya tidak terpisahkan sebaliknya senantiasa berada dalam kesatuan dengan orang lain (unitatif) dan tidak diskriminatif. Menghayati hidup atas cara ini, mendorong setiap pengikut Kristus untuk tidak primordialistis, sebaliknya terbuka (inklusif) dalam kebersamaan dengan orang. Kehidupan yang unitatif dan inklusif akan mendorong setiap pengikut Kristus untuk rela berkorban (dedikatif) dan mengusahakan kebahagiaan orang lain sesuai kehendak Tuhan.

Demikian kesaksian hidup di dunia ini dihayati sebagai persiapan menuju pemenuhan hidup dalam Kerajaan Allah yang abadi. Karena pada akhirnya, “Sebab kita semua harus menghadap
takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor.5:10).

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments