Kerajaan Allah seumpama Biji Sesawi

Saudari-saudaraku yang terkasih, merenungkan Sabda Tuhan hari ini, mengingatkan kita akan Sejarah Gereja Katolik yang begitu panjang dan mengagumkan. Tak henti-hentinya kita kagum dan bangga akan perjalanan Gereja yang didirikan oleh Tuhan. Bermula dari beberapa orang, Gereja sampai sekarang berkembang dengan sangat pesat. Meski demikian, selama perjalanan sejarahNya tentu tak sedikit rintangan yang harus dihadapi oleh para pengikutNya. Penindasan, penganiayaan, dan pembunuhan ikut mewarnai perkembangan Gereja. Namun begitu Gereja tetap bertumbuh, ibarat tanaman tak mati meskipun dipangkas berulang kali.

Saudari-saudaraku, dalam Sabda Tuhan hari ini, kita mendengar perumpamaan tentang Kerajaan Allah seumpama biji sesawi. Pertumbuhan benih yang ditaburkan oleh seorang petani. Benih itu tumbuh tanpa sepengetahuannya. Ia terus berkembang dan kemudian berbuah lebat. Si Petani tak pernah tahu bagaimana benih itu tumbuh, ia hanya tahu bahwa benih itu menjadi tanaman yang kemudian menghasilkan buah. Itulah gambaran Kerajaan Allah itu juga seperti biji sesawi. Ketika besar, ia menjadi tempat naungan bagi sarang burung-burung kecil dan besar. Bagaimana proses biji sesawi yang kecil itu menjadi besar? Tak ada yang tahu! Kita hanya bisa berkata bahwa biji itu bertumbuh. Demikianlah gambaran Kerajaan Allah itu: tersembunyi, penuh misteri, kelihatan tak pasti, namun ia tidak mati!

Saudari-saudaraku, misteri Kerajaan Allah yang demikian ini tentu tidak mudah untuk diimani. Orang perlu memiliki hati yang peka dan berani untuk berjalan pelan namun pasti. Namun sayang, tantangan bagi orang zaman sekarang adalah mentalitas budaya instan. Orang tak mau bersusah-susah mengikuti prosedur yang ada dan tidak melihat prosesnya. Bahkan urusan dengan Tuhan pun kalau bisa harus langsung dikabulkan. Tuhan ternyata mempunyai pandangan yang berbeda dengan sang ciptaan. Kerajaan Allah adalah sebuah pertumbuhan, sebuah perkembangan yang hanya Allah yang berperan, manusia perlu sabar, mengamini dan tetap bergantung pada harapan. Inilah yang telah terjadi pada perjalanan Gereja kita. Sekali Allah menanam, Ia pasti akan memberi pertumbuhan bahkan membuatnya
berkembang.

Saudari-saudaraku, dalam hidup ini, kita bisa saja merasa sendiri, doa-doa seakan tak berarti. Tuhan sepertinya pergi tanpa kompromi, namun satu hal yang pasti, “Gusti mboten sare” (Tuhan tidak tidur). Dia tidak pernah ingkar janji. Dalam sunyi Ia selalu memberkati, karena itu kita perlu bersabar diri. Seperti seorang Petani yang tak perlu keluar melihat dan berjaga di sekitar benih yang ditanamnya untuk memastikan benih itu tumbuh, demikianlah juga kiranya kita perlu menata hati. Percayakan semua pada misteriNya, pasti kita semua akan bertumbuh, berkembang dan semakin menjadi berkat dalam hidup kita.

Penulis : Rm. Antonius Suhardi Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa

 


Post Terkait

Comments