Ibu, bapak, saudari, dan saudara terkasih dalam Kristus, pada minggu ini, kita memasuki Hari Minggu Biasa XXIV Tahun C. Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-32) menghantar kita untuk merenungkan kerahiman Allah. Kerahiman Allah itu nampak dalam tiga perumpamaan, yaitu perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7), perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10), dan perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Dalam perumpamaan pertama, Allah ditampilkan sebagai seorang gembala yang meninggalkan 99 domba untuk pergi dan mencari satu domba yang hilang. Dalam perumpamaan kedua, Ia digambarkan dengan seorang wanita yang telah kehilangan dirham dan mencari sampai dia menemukannya. Dalam perumpamaan ketiga, Allah dihadirkan sebagai seorang bapa yang menyambut anak bungsunya yang telah menjauhkan diri.
Dalam perumpamaan-perumpamaan itu, Allah selalu dihadirkan sebagai pribadi yang penuh sukacita, terutama ketika Ia mengampuni. Allah sebagai seorang Bapa yang tidak pernah menyerah sampai mengampuni orang yang bersalah dan mengatasi penolakan dengan belas kasih dan kerahiman. Inilah sikap Bapa yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya, yang menerima orang berdosa dan makan bersama- sama dengan mereka dalam Bacaan Injil hari ini.
Pada kesempatan permenungan ini, saya akan menyoroti perumpamaan anak yang hilang atau lebih tepatnya disebut perumpamaan bapa yang penuh kerahiman. Perumpamaan tersebut sangat dekat dengan kita karena menggambarkan sebuah keluarga. Saya mengajak saudara-saudari terkasih untuk melihat dan merenungkan situasi dan kondisi keluarga kita masing-masing: bagaimana hubungan dan sikap antara suami dan isteri ketika salah seorang bersalah; bagaimana hubungan dan sikap antara orangtua dan anak atau anak dan orangtua saat salah seorang bersalah; apakah kita sebagai anggota keluarga yang bersalah mau mengakui kesalahan dan mohon maaf; apakah kita yang bersalah dan mohon maaf sungguh menyadari bahwa telah mendapat pengampunan dan berusaha untuk tidak mengulanginya; apakah saat ada anggota keluarga kita yang bersalah kita mau sungguh mengampuni, menerima kembali, dan bersukacita karena pertobatan itu; apakah kita yang telah mengampuni juga berusaha untuk tidak membesar-besarkan atau mengungkit-ungkit kembali masalah atau kesalahan yang pernah terjadi.
Kita menyadari bahwa terkadang menjadi penuh kerahiman seperti Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus tidaklah mudah. Semoga kita selalu memohonkan rahmat dan keberanian kepada Bapa untuk penuh kerahiman seperti Dia. Semoga keluarga kita masing-masing senantiasa dipenuhi dengan pertobatan, cinta kasih, dan pengampunan.
Selamat hari Minggu. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati Anda sekeluarga.
Penulis : Rm. Vinsensius Rosihan Arifin, Pr.
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa