Kemampuan Mendasar Beradaptasi sebagai Manusia Baru

Aku memasuki kehidupanku yang baru yang jauh dari keramaian kendaraan, apalagi kemacetan dan kebisingan kota. Hanya terdengar suara binatang malam yang menemani malamku yang dingin dan sepi ini. Pelan-pelan aku mulai beradaptasi dan mempelajari sedikit
kosa kata yang menjadi perbincangan mereka sehari-hari. KOHA (Selamat, halo)! EIHE (Terima Kasih)! Ya, inilah tanah mutiara hitam tempat di mana matahari terbit lebih dulu di ufuk timur. Kesederhanaan masyarakat Papua di Bomomani mengajarkan kepadaku banyak hal untuk selalu hidup penuh rasa syukur. Aku boleh belajar dari mereka yang tidak kenal lelah untuk berjalan dan bekerja di kebun. Kalau boleh jujur, kadang aku bertanya-tanya apa sih yang membuat mereka kuat untuk berjalan? Karena keadaan alamkah? Karena kebiasaankah? Aku belum menemukan jawaban pastinya. Ketika aku sudah menginjakkan kaki di tanah yang mempunyai alam begitu indah ini, ternyata alam ini mengajarkan kita untuk berjalan, tanpa memikirkan jauh atau dekat.

Rasa-rasanya sudah tidak sabar untuk berkunjung ke kampung-kampung yang menampakkan umat Allah yang guyub. Layaknya Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang diajak naik ke gunung untuk mengalami transfigurasi Yesus. Di pegunungan Mapia inilah aku dibawa oleh Yesus untuk merasakan keheningan dan keistimewaan adat dan budaya sambil mempunyai waktu yang lebih banyak bersama-sama dengan Yesus mendirikan “kemah iman” bersama umat paroki Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani.

Sejatinya kita selalu diajak untuk mengalami waktu yang semakin intens bersama Yesus di ruang keheningan kita masing-masing. Waktu hening tentu bukan untuk berbicara dan berkata-kata lebih banyak, tetapi berani juga untuk mendengar suara-Nya yang lembut dan penuh dengan kedalaman makna. “Lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu malam di tempat lain.” Begitulah kata si pemazmur yang mengajak kita untuk berani masuk ke dalam keheningan tanah Papua.

Menjadi manusia membutuhkan adaptasi dengan kebiasaan baru dan kebudayaan baru. Kita diajak oleh-Nya untuk tidak menjadi manusia yang mudah “mengkotak-kotakkan” diri. Kemampuan  manusia untuk beradaptasi membutuhkan sikap bertekun dalam mempelajari sesuatu yang nampaknya belum pernah dilakukan. Di sinilah kemampuan kita akan semakin diuji dengan “merangkul kotak-kotak” yang masih ada di dalam diri kita. Terminologi tertentu yang masih ada di tanah Papua kiranya perlu dirangkul guna membaurkan istilah “pendatang” dan “orang asli”. Menyiapkan orang asli Papua untuk bergaul dengan mereka yang bukan orang asli Papua ternyata membutuhkan perjuangan tersendiri yang tidak mudah.

Di samping itu, tentu masih terngiang di ingatan kita ketika kita mulai beradaptasi dalam kebiasaan baru(new normal) saat pandemi Covid-19. Awalnya terasa aneh dan tidak biasa bagi kita untuk menggunakan masker saat bepergian. Tetapi, lama kelamaan kita menjadi semakin terbiasa dan seolah menjadi sesuatu yang melekat pada diri kita. Rasanya ada yang kurang kalau kita tidak membawa dan memakai masker. Namun, di sinilah kita juga belajar untuk merangkul mereka yang secara medis dinyatakan positif. Awalnya, kita pasti cenderung menjauhkan dan menyingkirkan mereka jauh-jauh. Maka, istilah isolasi mandiri sebetulnya juga membuka ruang hati kita untuk merangkul mereka yang terdampak virus corona ini.

Keberhasilan kita untuk menjadi manusia baru bersumber pada Yesus yang mengutus para rasul untuk pergi ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil. Kebaruan kita terletak pada keberanian kita untuk beradaptasi dan selalu siap sedia (disponible) dengan segala kebiasaan yang baru. Kita sering mendengar ungkapan ini, “Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu.” Kalau dulu kita sering terjerumus ke dalam dosa, sekarang aku yang semakin mengarahkan diri kepada Yesus berusaha untuk tidak jatuh di dalam lubang yang sama. Apa yang dipesankan oleh Yesus sebagai Amanat Agung kiranya menjadi semakin jelas. Kata “pergilah” bukan hanya diri kita yang melangkahkan kaki ke tempat yang baru atau berpindah tempat. Sejatinya, makna yang mendalam ada di sana, yakni tujuan hidup kita yang selalu mengarah kepada Yesus Kristus.

Ekaristi tanpa Yesus hanyalah pertunjukan atau tontonan semata. Pusat dari Ekaristi juga selalu mengarah kepada Yesus. Budaya untuk mencintai Ekaristi juga membutuhkan adaptasi yang matang untuk semakin mencintai Yesus. Di situlah kita akan semakin menemukan kebaruan dalam diri kita yang mengarahkan iman Katolik kita kepada Yesus. Yesus telah menjadikan kita menjadi “manusia baru” setelah kebangkitanNya.

Bomomani, 21 Oktober 2022
RD. Joseph Biondi Mattovano

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments