Keluargaku Sumber Sukacitaku

Pada suatu hari (tanggal 3 September 2017), saya diundang untuk ikut pertemuan keluarga di Pekayon, Bekasi. Kesempatan pertemuan ini adalah pertemuan keluarga dari bapak yang menyatakan syukur atas beberapa intensi, seperti: ulang tahun, kuliah, pekerjaan, dan kesehatan. Saya menggunakan kesempatan ini untuk mengadakan doa bersama dengan disertai renungan singkat. Apa yang sudah saya persiapkan ternyata di luar dugaan namun kenyataannya tidak menyimpang jauh dari perkiraan. Hal yang tak saya duga adalah kemampuan keluarga saya untuk berdoa masih sederhana sehingga materi ibadat saya sederhanakan. Saya sendiri mengakui tidak mempunyai gambaran tentang membawa renungan di depan keluarga sendiri, sehingga ini menjadi pengalaman pertama untuk saya juga. Saya bersyukur bahwa keluarga saya memberi apresiasi yang layak untuk doa bersama ini.

Dalam pertemuan ini, saya menyatakan terima kasih bahwa rasa persaudaraan yang terjalin di antara kita terjalin dalam suka dan duka. Saya terkesan dengan sikap saudara-saudara saya yang merelakan diri menjenguk di kala ada saudara lain sakit. Pertemuan ini juga sederhana dengan kehadiran saudara yang memang sudah saya kenal dekat. Kesempatan Minggu ini menyadarkan saya tentang keberadaan orang-orang dekat sangat membantu meneguhkan kembali panggilan saya. Banyak dari mereka menunjukkan rasa peduli dan mempunyai ungkapan yang unik dalam mendukung panggilan saya. Saya menyadari pula bahwa saya punya nilai maupun peran dengan mereka. Hal ini kurang saya perhatikan sebelumnya, karena saya terbuai dengan kepentingan diri saya sendiri.

Suster, bruder, ibu, bapak, dan saudara saudari sekalian.  Dalam bagian sebelumnya merupakan refleksi pribadi yang tersimpan dan menjadi memori yang positif dari perjumpaan dengan keluarga. Dalam pendalaman bersama di bulan keluarga, baik untuk kita bersama merenungkan kembali arti kehadiran keluarga bagi kehidupan di masa kini. Ada beberapa orang yang malah berusaha menjauhi keluarganya karena memiliki pengalaman masa lalu yang pahit dan juga ada pula perjumpaan keluarga sebagai kesempatan untuk menimba kembali semangat.

Saya bersyukur bisa menemukan dan merasakan cinta dari pengalaman bersama keluarga. Kabut penghalang jalan panggilanku mulai pudar ketika kukecap cinta. Cinta yang membuatku menitik air mata bahagia sehingga memunculkan semangat untuk mencintai dan dicintai. Cinta yang juga menghibur dan memudahkan untukku tersenyum.

Sungguh rasa ini mengingatkan pada kenangan masa laluku yang indah dan kenangan itu hidup pagi. Rasa ini juga memberi makna mendalam atas pengalaman-pengalaman hidupku. Rasa yang menggoreskan kalbu hatiku. Goresan-goresan kalbu itu bangkit untuk nyatakan bahwa hidup ini indah.

Saya juga menyadari bahwa pengenalan cinta akan membawa saya pada keberanian untuk melepaskan diri. Hal ini bisa diartikan cinta tidak dilihat sebagai kelekatan tetapi sebagai pengorbanan. Cinta sesungguhnya memang tidak terasa selalu manis tetapi juga pahit bahkan menyakitkan yaitu pada saat kita harus merelakan cinta itu untuk kebaikan bersama.

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments