Siapa yang tidak mau kaya? Pasti tidak ada di antara kita yang tidak ingin menjadi kaya. Cita-cita yang sangat wajar dan manusiawi. Tetapi perhatikan ayat dari bacaan Injil hari ini : setelah ia membangun lumbung yang lebih besar lagi, apa yang orang kaya itu pikirkan? Ia berkata kepada jiwanya, “Jiwaku, ada padamu banyak barang untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah”. Lalu firman Allah kepadanya : Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
Tuhan menyebut orang itu sebagai orang yang bodoh karena menggantungkan hidupnya kepadaharta dan mengira itu membuat hidupnya tenang. Tuhan mengingatkan, bahwa prinsip hidup seperti itu adalah kebodohan. Dia tidak menyadari jika tiba-tiba jiwanya diambil Tuhan, lalu kekayaannya untuk siapa?
Kita akan mengalami akhir dari sebuah kehidupan, yaitu kematian yang merupakan peristiwa yang hanya diketahui dan menjadi rahasia Allah. Maka kita diajak mengisi hidup yang Tuhan anugerahkan dengan benar. Jangan sampai hidup kita sia-sia. Tidak menghargai anugerah ini berarti tidak menghargai Tuhan sendiri.
Tuhan Yesus tidak membenci orang kaya, juga tidak melarang hidup kaya. Namun, Tuhan ingin agar kekayaan kita peroleh dengan benar dan merupakan hasil kerja keras. Kekayaan tersebut adalah berkat Tuhan, maka kita tidak boleh mementingkan diri sendiri dan tidak tamak.
Kekayaan kita hanyalah sarana dari Tuhan untuk kita dapat melakukan bagian kita di dunia. Jika kita kaya, jangan lupakan Tuhan tetapi gunakan kekayaan kita di dunia ini untuk membangun kerajaan Tuhan di bumi ini, sehingga kita pun juga mengumpulkan harta di surga (Mat 6:20). Sebagai orang beriman dan taat kepada Tuhan, kita dituntut memiliki sikap hati dan hidup sederhana yang menjadikan kita kaya dihadapan Allah. Artinya kita harus mencukupkan diri dengan yang diberikan Tuhan sambil bersyukur, minta tuntunan Roh kudus untuk menjaga hati dan waspada terhadap ketamakan, rendah hati, hidup sederhana, tidak menyombongkan diri, saling menghormati, saling mengasihi dan berbagi, bekerja keras dan menikmati hasil kerja sendiri tanpa mencuri hak orang lain, selalu ingat bahwa kita akan mati dan meninggalkan harta dunia, tetapi apa yang kita buat untuk Tuhan kekal dan tak akan layu.
Orang yang hatinya terikat kepada Tuhan akan selalu berpikir bahwa mutlak dalam penggunaan berkat- Nya harus dalam kehendak Tuhan, bukan berdasarkan pertimbangan dan kesenangan pribadi. Dengan demikian kita akan memiliki harta di Kerajaan Sorga dan menjadi kaya di hadapan Tuhan.
Penulis : Br. Paulus FIC
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa